CIREBON, 26 Juli 2026 – Balai Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi yang terletak di Jalan Simaja, Kota Cirebon, dipadati jamaah pada Ahad pagi ini. Pengajian rutin yang digelar PCM Kesambi berlangsung khidmat dengan menghadirkan penceramah Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., yang menyampaikan materi krusial seputar “Bid’ah, Sunnah Hasanah, dan Sunnah Sayyiah”.

Acara pengajian yang berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai ini turut dihadiri oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon, H. Digyono, beserta jajaran pimpinan dan pengurus PCM Kesambi lainnya. Kehadiran para tokoh Muhammadiyah ini semakin menambah semarak dan khidmatnya suasana pengajian.

Materi Pengajian
Dalam ceramahnya, Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., memaparkan materi secara sistematis dengan mengupas tuntas tiga pokok bahasan utama, yaitu:
A. Pengertian Bid’ah
Ustadz Yandi mengawali ceramah dengan menjelaskan pengertian bid’ah secara bahasa dan istilah. Secara bahasa, bid’ah berasal dari kata بَدْعَة yang berarti mengadakan sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
QS Al-Baqarah (2): 117
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Artinya: “Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi.”
Secara istilah syara’, bid’ah adalah cara baru dalam perkara agama yang menyerupai syariat, dilakukan dengan maksud beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah, tanpa adanya dalil dari Al-Qur’an, sunnah, maupun contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Untuk memperkuat penjelasannya, Ustadz Yandi membacakan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar, bagaikan panglima perang yang sedang memberi komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda: ‘Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini.’ Beliau melanjutkan: ‘Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.’” (HR Muslim no. 867)
Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan tambahan:
وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ
Artinya: “…dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR An-Nasa’i no. 1550)

B. Macam-Macam Bid’ah dan Pandangan Ulama
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa di kalangan ulama terdapat perbedaan pandangan tentang macam-macam bid’ah. Beliau mengutip pendapat Imam Al-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham yang menegaskan bahwa bid’ah hanya terkait dengan urusan agama, yaitu akidah dan ibadah mahdhah (khusus). Segala bentuk tambahan dalam ibadah yang tidak bersumber dari sunnah Nabi adalah bid’ah dan tercela.
Namun demikian, Imam Syafii juga membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Jika hal baru tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah, ijma, atau atsar sahabat, maka hal itu terpuji. Sebaliknya, jika bertentangan, maka tercela. Pandangan ini kemudian dikutip oleh banyak ulama, di antaranya Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari.
Beliau menegaskan bahwa Muhammadiyah dalam Manhaj Tarjih berpandangan bahwa bid’ah hanya ada dalam masalah akidah dan ibadah mahdhah. Segala bentuk penambahan atau pengurangan dalam ibadah, seperti tata cara shalat, jumlah rakaat, atau ritual khusus yang tidak diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk bid’ah yang sesat.
Namun, dalam urusan muamalah (sosial, budaya, pendidikan, teknologi, dan sebagainya), selama tidak bertentangan dengan syariat dan membawa maslahat bagi kehidupan, maka hal itu dibolehkan, bahkan dianjurkan. Contohnya adalah pendirian sekolah, rumah sakit, panti asuhan, atau penggunaan teknologi modern dalam dakwah.
Ustadz Yandi mengutip hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.’” (HR Al-Bukhari no. 5063)
Beliau juga mengingatkan jamaah dengan firman Allah:
QS Al-Hajj (22): 77
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.”
Dengan memahami ayat ini, Ustadz Yandi menekankan bahwa orang beriman yang senantiasa rukuk dan sujud, menyembah Allah, haruslah menghasilkan pribadi yang mampu berbuat baik di kehidupan nyata. Iman tidak cukup hanya dengan shalat, tetapi harus diiringi dengan amal saleh dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Allah selalu menyebut kata “iman” dikaitkan dengan “amal saleh”.
C. Sunnah Hasanah dan Sunnah Sayyiah
Pada sesi terakhir, Ustadz Yandi menjelaskan istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyiah yang tidak bisa dilepaskan dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ، فَجَاءَ قَوْمٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ، أَوِ الْكِسَاءِ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ، مِنْ مُضَرَ بَلْ مِنْ قَيْسٍ، فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنَ الْفَاقَةِ، ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ، فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ…» ثُمَّ قَالَ: «مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
Artinya: “Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pagi hari, lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada, berpakaian kulit domba yang sobek-sobek, dengan menyandang pedang dari kabilah Mudhar. Wajah Rasulullah berubah ketika melihat kefakiran mereka. Kemudian beliau masuk, keluar, dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat, kemudian beliau shalat. Setelah shalat beliau berkhutbah seraya membaca ayat… kemudian beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyiah (sunnah yang buruk) dalam Islam, maka baginya dosa ditambah dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.’” (HR Muslim no. 1017)
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa hadis ini mengandung motivasi untuk menjadi perintis dalam amal kebaikan dan sunnah hasanah, serta peringatan dari membuat-buat amalan yang tercela. Istilah sunnah hasanah dan sunnah sayyiah sebenarnya tidak berdiri sendiri, sebab jika berdiri sendiri, yang namanya sunnah (perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak ada yang sayyiah (buruk). Yang dimaksud adalah perbuatan yang diriwayatkan atau dicontohkan oleh Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan.
Beliau juga mengutip hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
Artinya: “Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami (yaitu dalam Islam) yang tidak ada asalnya, maka amalannya tertolak.” (HR Bukhari no. 2967)
Selain itu, Ustadz Yandi mengingatkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»
Artinya: “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Beliau ditanya: “Siapakah orang yang enggan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku (menyalahi ajaranku), maka ia orang yang enggan.” (HR Al-Bukhari)

Suasana Pengajian
Pengajian Ahad pagi ini berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah yang memenuhi Balai Pengajian PCM Kesambi tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan oleh Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd. Materi yang disajikan secara lugas dan mendalam ini mendapat sambutan hangat dari para jamaah, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam sesi tanya jawab setelah ceramah.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua PCM Kesambi, Bapak H. Digyono, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya pengajian ini. Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala bentuk bid’ah dalam perkara agama.
Setelah ceramah inti, pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz H. Yandi Heryandi, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada seluruh umat Islam untuk tetap istiqamah di jalan yang lurus serta dijauhkan dari segala bentuk kesesatan. Acara kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan santap ringan bersama seluruh jamaah.
Penutup
Pengajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat tentang perbedaan antara bid’ah, sunnah hasanah, dan sunnah sayyiah. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan tepat sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta tetap produktif dalam bermuamalah dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Peliput : Humas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Editor : Arofah Firdaus


Tinggalkan Balasan