Mengenal Perjuangan Muhammadiyah dari Masa ke Masa: Pengajian Ahad Pagi di PCM Kesambi Kota Cirebon

CIREBON, 26 April 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, Kota Cirebon, menggelar pengajian Ahad pagi yang berlangsung khidmat pada hari Minggu, 26 April 2026. Acara ini menghadirkan narasumber utama, Ustadz H. Dedi Ahyadi, dengan tema sentral: “Muhammadiyah dari Masa ke Masa”.

Tampak hadir dalam pengajian tersebut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi, H. Digyono, bersama segenap pengurus, jemaah, dan warga Persyarikatan di wilayah Kesambi. Suasana pengajian berlangsung hangat dan penuh manfaat, menggugah kesadaran sejarah bagi generasi muda Muhammadiyah.

Muqaddimah: Fondasi Qur’ani bagi Perjuangan

Mengawali ceramahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi membuka dengan bacaan Surat Ali ‘Imran ayat 104, yang menjadi landasan utama gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana dijiwai oleh Muhammadiyah sejak berdiri.

QS. Ali ‘Imran (3): 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ustadz Dedi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi ruh dari setiap langkah Muhammadiyah, dari masa pendirian hingga era reformasi.

Muhammadiyah dari Masa ke Masa: Perjuangan Tanpa Henti

Dengan mengacu pada catatan sejarah Persyarikatan, pemateri memaparkan perjalanan panjang Muhammadiyah dalam lima periode besar:

1. Periode Sebelum Kemerdekaan (1912–1945)

Didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H), Muhammadiyah lahir sebagai respons terhadap kemunduran umat Islam saat itu: penyakit syirik, taklid, bid’ah, khurafat, serta lemahnya sistem pendidikan.

Ustadz Dedi menyoroti keteguhan Ki Bagus Hadikusumo pada masa penjajahan Jepang. Beliau dengan gigih menolak upacara Sei Kerai (penghormatan kepada Dewa Matahari). Berkat perjuangannya, pemerintah Jepang memberikan dispensasi khusus bagi seluruh sekolah Muhammadiyah untuk tidak mengikuti upacara tersebut.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

Artinya: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR. Abu Nu’aim)

Ustadz Dedi mengaitkan hadits ini dengan para pemimpin Muhammadiyah yang selalu mengabdi pada umat, bukan sebaliknya.

2. Periode Kemerdekaan hingga Orde Lama (1945–1968)

Muhammadiyah aktif dalam revolusi fisik dan mempertahankan NKRI. Tokoh-tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo, KH. Fakih Usman, dan KH. Ahmad Badawi berjuang mempertahankan eksistensi Persyarikatan di tengah guncangan politik, termasuk saat ancaman pembubaran oleh PKI pada 1965.

3. Periode Orde Baru hingga Reformasi (1968–2000)

Beberapa pemimpin karismatik muncul, antara lain KH. AR. Fakhrudin yang berhasil melewati krisis penetapan Pancasila sebagai asas tunggal, serta Prof. Dr. H. Amien Rais dan Prof. Dr. H. A. Syafi’i Maarif yang membawa Muhammadiyah memasuki era reformasi dengan pemikiran keagamaan yang mencerahkan.

4. Pasca Muktamar ke-45 di Malang (2005)

Prof. Dr. Din Syamsuddin terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah periode 2005–2010. Program persyarikatan saat itu menitikberatkan pada:

  • Penguatan organisasi di semua lini,
  • Pengembangan kualitas amal usaha,
  • Peningkatan kaderisasi,
  • Pemantapan program dakwah jangka panjang.

Refleksi Perjuangan dan Hadits Penguatan Jamaah

Di akhir tausiyahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengingatkan jemaah akan sabda Rasulullah ﷺ tentang pentingnya menjaga kesatuan jamaah dan perjuangan kolektif:

Hadits Riwayat Tirmidzi

إِنَّ اللَّهَ عَلَى أَنْ يُجِيرَ أُمَّتِي مِنْ أَنْ تُجْمِعَ عَلَى ضَلَالَةٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah melindungi umatku dari kesepakatan (ijma’) mereka dalam kesesatan.”

Beliau menjelaskan bahwa Muhammadiyah sebagai jamaah yang besar senantiasa berada dalam lindungan Allah selama berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah, serta terus melakukan tajdid (pembaruan).

Penutup: Amanah untuk Generasi Muda

Dalam sambutannya, Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, menyampaikan apresiasi atas pengajian ini. Beliau berharap agar seluruh kader dan warga Muhammadiyah di Kesambi dapat memahami sejarah perjuangan Persyarikatan, lalu mengimplementasikannya dalam dakwah, pendidikan, dan amal usaha.

QS. At-Taubah (9): 105

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.’”

Pengajian ditutup dengan doa, memohon kepada Allah agar Muhammadiyah senantiasa menjadi gerakan yang membawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).


Redaktur: Tim Liputan PCM Kesambi Kota Cirebon

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *