Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan

Abstrak

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki fokus kajian pada pemahaman mendalam tentang sejarah, identitas, dan gerakan Muhammadiyah. Artikel ini membahas secara sistematis proses berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dengan penekanan khusus pada tiga elemen fundamental: rumusan, maksud, dan tujuan Persyarikatan. Melalui metode studi literatur dan pendekatan historis-normatif, artikel ini menguraikan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai respons terhadap kemunduran umat Islam. Landasan teologis-organisational ini dianalisis berdasarkan ketetapan Anggaran Dasar Muhammadiyah serta ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjadi inspirasinya. Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai akar ideologis gerakan Muhammadiyah sebagai bekal pengamalan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Kata Kunci: Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, rumusan Muhammadiyah, maksud Muhammadiyah, tujuan Muhammadiyah, AIK 3


PENDAHULUAN

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk wajah keberagamaan dan kemoderenan umat Islam Nusantara. Berdiri sejak awal abad ke-20, organisasi ini lahir dari keprihatinan mendalam seorang ulama kharismatik, K.H. Ahmad Dahlan, terhadap kondisi kemunduran umat Islam yang terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan praktik keagamaan yang menyimpang. Dalam konteks perkuliahan AIK 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman tentang proses berdirinya Muhammadiyah menjadi fondasi penting bagi mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apa sebenarnya rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah? Ketiga aspek ini bukan sekadar definisi formal dalam anggaran dasar, melainkan cerminan dari semangat tajdid (pembaruan) yang diusung oleh K.H. Ahmad Dahlan. Artikel ini akan mengupas tuntas ketiga elemen tersebut dengan merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang otoritatif, serta menghubungkannya dengan landasan wahyu dan sunnah.


PEMBAHASAN

A. Latar Historis Berdirinya Muhammadiyah

Untuk memahami rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah, terlebih dahulu perlu ditelisik kondisi sosial-keagamaan yang melatarbelakangi kelahirannya. Pada awal abad ke-20, umat Islam Indonesia—khususnya di Jawa—berada dalam situasi yang memprihatinkan. Mereka hidup dalam penjajahan, terjebak dalam praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta jauh dari pemahaman Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. K.H. Ahmad Dahlan, yang bernama asli Muhammad Darwis, melihat bahwa kondisi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang seharusnya membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi umat.

Dari kegelisahan inilah, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta. Nama “Muhammadiyah” secara etimologis berarti “pengikut Nabi Muhammad”, yang mencerminkan tekad organisasi ini untuk menghidupkan kembali ajaran Islam sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

B. Rumusan Muhammadiyah (Identitas Persyarikatan)

Rumusan Muhammadiyah merujuk pada definisi dan karakter dasar yang melekat pada diri Persyarikatan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah. Dalam AD Muhammadiyah Bab I Pasal 1, dirumuskan bahwa “Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”.

Rumusan ini mengandung tiga pilar utama:

1. Gerakan Islam
Muhammadiyah adalah bagian integral dari umat Islam yang menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya landasan berpikir dan bertindak. Segala gerakannya tidak bermotif selain untuk merealisasikan prinsip-prinsip syariat dalam kehidupan nyata.

2. Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dakwah merupakan denyut nadi perjuangan Muhammadiyah. Terminologi ini diambil langsung dari perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 104 yang menjadi khittah (strategi dasar) perjuangan Muhammadiyah.

3. Gerakan Tajdid
Tajdid berarti pembaruan yang mencakup dua dimensi sekaligus: purifikasi (pemurnian akidah dan ibadah dari unsur-unsur yang menyimpang) dan dinamisasi (pembaruan metode bermuamalah agar sesuai dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan prinsip syariat).

Landasan teologis dari rumusan ini terdapat dalam firman Allah SWT:

QS. Ali ‘Imran [3]: 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat ini menjadi inspirasi utama K.H. Ahmad Dahlan dalam membentuk organisasi yang tidak hanya menjadi wadah ibadah ritual, tetapi juga kekuatan sosial yang aktif mengubah realitas ketimpangan di masyarakat.

Selain itu, rumusan Muhammadiyah juga mencerminkan prinsip washathiyah (moderasi) sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan (wasath) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Prinsip wasath ini meniscayakan sikap seimbang (tawazun), adil (‘adl), dan toleran (tasamuh) dalam setiap aktivitas dakwah dan kemasyarakatan.

C. Maksud Muhammadiyah

Maksud pendirian Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Secara lebih operasional, maksud ini dimanifestasikan dalam upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Memurnikan Ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti praktik syirik, bid’ah, dan khurafat yang kala itu merajalela di masyarakat.
  2. Mereformulasi Pemahaman Keagamaan dengan pandangan alam pikiran modern tanpa meninggalkan otoritas wahyu. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan kemajuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
  3. Menggerakkan Potensi Umat untuk bangkit dari keterbelakangan melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. K.H. Ahmad Dahlan meyakini bahwa kemunduran umat hanya bisa diatasi dengan penguatan di kedua sektor ini.

Maksud ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang pentingnya meninggalkan kemungkaran:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Artinya: “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Muhammadiyah hadir untuk mengubah kemungkaran-kemungkaran sosial dan keagamaan dengan tindakan nyata (bi al-yad) melalui pendirian lembaga pendidikan, rumah sakit, dan panti asuhan hingga sekarang.

D. Tujuan Muhammadiyah

Tujuan Muhammadiyah dirumuskan secara tegas dalam AD Muhammadiyah Pasal 3, yang menyatakan bahwa tujuan Persyarikatan adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Dalam perkembangan sejarah, rumusan tujuan ini mengalami penegasan makna, yaitu mewujudkan “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi), yakni komunitas yang dalam seluruh aspek kehidupannya—akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan kemasyarakatan—berlandaskan pada nilai-nilai Islam.

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, tujuan ini tidak bersifat abstrak, melainkan konkret dan terukur. Beliau merujuk pada QS. Ar-Ra’d [13]: 11 yang menjadi spirit perubahan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan sosial (taghyir al-mujtama’) harus dimulai dari perubahan kesadaran individual (taghyir ma bi anfusihim). Inilah yang kemudian diwujudkan Muhammadiyah melalui program pengkaderan dan pendidikan karakter sejak masa awal berdirinya.

Hadits Nabi yang juga menjadi ruh perjuangan ini adalah:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Muhammadiyah berusaha mewujudkan tujuan organisasinya dengan mengembalikan kemuliaan akhlak di tengah masyarakat yang sekuler dan materialistis.

Secara periodik, tujuan Muhammadiyah juga pernah dirumuskan dalam Statuten (Anggaran Dasar) awal tahun 1912 dan 1914 dengan redaksi: “memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland” serta “memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Kata “memajukan” (taraqqi) menjadi kata kunci yang menunjukkan bahwa sejak awal, Muhammadiyah adalah gerakan yang progresif dan dinamis.


KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses berdirinya Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh kondisi kemunduran umat Islam yang terjerat dalam takhayul, bid’ah, dan khurafat serta penjajahan. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid.

  1. Rumusan Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Maksud Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan memurnikan ajaran, mereformulasi pemahaman keagamaan, dan menggerakkan potensi umat melalui pendidikan serta kesehatan.
  3. Tujuan Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi) dalam seluruh aspek kehidupan.

Pemahaman yang komprehensif tentang rumusan, maksud, dan tujuan ini menjadi bekal esensial bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mengamalkan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan di tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab.


DAFTAR PUSTAKA

“Akademi Politik IMM Bahas Visi dan Peran Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2025. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com

A. Richad, “Mengulik Sejarah Kampung Kauman, Islam dan Muhammadiyah (episode 2),” TVRI News, 2023. [Online]. Tersedia: https://nasional.tvrinews.com

“Islam Berkemajuan Periode Awal,” PWM DIY, 2025. [Online]. Tersedia: https://pwmdiy.mu.or.id

“Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah Kota Yogyakarta,” Muhammadiyah, 2015. [Online]. Tersedia: http://lpcr.muhammadiyah.or.id

Mustofa, “Muhammadiyah dan Potret Keindonesiaan,” PWM Jateng, 2023. [Online]. Tersedia: https://pwmjateng.com

M. Wiharto, “Moderat dalam Bersikap, Berfikir dan Bertindak,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Islam Washathiyah: Jalan Hidup Global,” Program Studi Ilmu Hadis – Universitas Ahmad Dahlan, 2020. [Online]. Tersedia: https://ilha.uad.ac.id

“Sejarah Muhammadiyah,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Makna, Sejarah dan Peran Muhammadiyah,” Berita Jatim, 2022. [Online]. Tersedia: https://beritajatim.com

“Ciri Perjuangan Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2019. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Nikki Ekaputri Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

37 tanggapan untuk “Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan”

  1. Avatar Maulaya az zahroh
    Maulaya az zahroh

    Artikel mengenai sejarah berdirinya Muhammadiyah sudah memberikan gambaran yang runtut, namun masih terdapat beberapa kekurangan dari segi penyajian. Salah satunya adalah penggunaan bahasa yang cenderung deskriptif tanpa disertai analisis yang lebih kritis terhadap peran Ahmad Dahlan dalam konteks perubahan sosial saat itu. Akibatnya, artikel lebih terasa sebagai narasi sejarah daripada kajian yang mendalam.
    Selain itu, struktur pembahasan dalam artikel belum sepenuhnya sistematis, terutama dalam bagian perubahan rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah. Perpindahan antar periode belum ditampilkan secara terstruktur (misalnya dalam bentuk poin atau kronologi yang jelas), sehingga pembaca perlu membaca lebih teliti untuk memahami alurnya. Artikel juga belum menyertakan sumber atau referensi pendukung yang kuat, yang dapat meningkatkan kredibilitas isi tulisan.
    Saran
    Agar artikel menjadi lebih berkualitas, sebaiknya penulis menambahkan unsur analisis yang lebih mendalam, misalnya dengan mengaitkan pemikiran Ahmad Dahlan dengan kondisi sosial, pendidikan, dan keagamaan pada masa itu. Hal ini akan membuat artikel tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
    Selain itu, struktur penulisan dapat diperbaiki dengan menyajikan informasi secara lebih sistematis, seperti menggunakan subjudul yang jelas, tabel, atau poin-poin kronologis untuk menjelaskan perkembangan tujuan Muhammadiyah. Penambahan referensi atau kutipan dari sumber terpercaya juga sangat disarankan agar isi artikel lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
    Terakhir, akan lebih baik jika artikel ditutup dengan refleksi atau relevansi Muhammadiyah di masa sekarang, sehingga pembaca dapat memahami pentingnya organisasi ini dalam konteks kehidupan modern.

  2. Avatar Ita Rahayu Pratama
    Ita Rahayu Pratama

    Artikel ini memberikan pemahaman yang cukup jelas mengenai latar belakang dan proses berdirinya Muhammadiyah. Penjelasan mengenai kondisi umat Islam pada masa itu menjadi poin penting karena menunjukkan bahwa lahirnya Muhammadiyah bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons terhadap kebutuhan zaman. Hal ini membuat pembaca dapat memahami bahwa organisasi ini memiliki dasar historis dan ideologis yang kuat.
    Selain itu, penjelasan tentang peran K.H. Ahmad Dahlan juga sangat penting karena menunjukkan bagaimana pemikiran seorang tokoh dapat membawa perubahan besar dalam masyarakat. Artikel ini berhasil menggambarkan bahwa Muhammadiyah lahir dari pemikiran yang progresif dan berorientasi pada kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pemurnian ajaran Islam.
    Namun, artikel tersebut masih bisa dikembangkan lebih dalam, terutama pada bagian implementasi tujuan Muhammadiyah di masa sekarang. Akan lebih menarik jika disertai contoh konkret bagaimana Muhammadiyah menjalankan misinya dalam kehidupan modern, misalnya melalui universitas, rumah sakit, atau kegiatan sosial lainnya.

    Secara keseluruhan, artikel ini sangat bermanfaat sebagai pengantar untuk memahami Muhammadiyah. Dengan bahasa yang cukup sederhana dan isi yang informatif, artikel ini cocok digunakan sebagai referensi awal dalam mempelajari sejarah dan tujuan berdirinya Muhammadiyah, terutama bagi pelajar atau mahasiswa.

  3. Avatar Cahaya Dewi
    Cahaya Dewi

    Menurut saya, artikel ini cukup membantu untuk memahami dasar berdirinya Muhammadiyah, terutama bagi mahasiswa atau pelajar.
    Yang paling penting dari artikel ini adalah pesan bahwa perubahan dalam masyarakat harus dilakukan secara terorganisir dan berkelanjutan. Muhammadiyah menjadi contoh bahwa gerakan yang dimulai dari hal kecil (seperti pengajian) bisa berkembang menjadi organisasi besar jika memiliki tujuan yang jelas.
    Selain itu, peran KH Ahmad Dahlan memberikan inspirasi bahwa keberanian untuk berpikir maju sangat dibutuhkan dalam memperbaiki kondisi umat.
    Artikel ini juga menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui pendidikan dan kegiatan sosial yang nyata.
    Namun, akan lebih baik jika artikel ini dilengkapi dengan contoh konkret dan dikaitkan dengan kondisi saat ini agar lebih relevan.
    Dengan demikian, pembaca tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga bisa mengambil pelajaran untuk kehidupan sekarang.

  4. Avatar Maulaya az zahroh
    Maulaya az zahroh

    Kritik
    Artikel tentang proses berdirinya Muhammadiyah sudah memberikan penjelasan mengenai latar belakang berdirinya organisasi serta perkembangan rumusan maksud dan tujuannya dengan cukup jelas. Namun, pembahasan dalam artikel masih bersifat umum dan kurang mendalam pada beberapa bagian, terutama mengenai faktor sosial dan kondisi masyarakat yang melatarbelakangi lahirnya gerakan pembaruan oleh Ahmad Dahlan. Selain itu, penjelasan mengenai perubahan rumusan tujuan Muhammadiyah dari masa ke masa belum diuraikan secara rinci, sehingga pembaca belum sepenuhnya memahami alasan dan konteks perubahan tersebut.
    Di samping itu, artikel akan lebih kuat apabila dilengkapi dengan contoh nyata kontribusi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan pada masa awal berdirinya hingga sekarang. Dengan adanya contoh konkret, pembaca dapat lebih memahami bagaimana tujuan organisasi tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
    Saran
    Sebaiknya artikel ini menambahkan pembahasan yang lebih rinci mengenai kondisi umat Islam dan keadaan sosial pada masa berdirinya Muhammadiyah agar pembaca dapat memahami urgensi berdirinya organisasi ini. Penjelasan mengenai perkembangan rumusan maksud dan tujuan juga perlu dibuat lebih detail, disertai alasan perubahan pada setiap periode agar isi artikel menjadi lebih komprehensif.
    Selain itu, akan lebih baik jika artikel dilengkapi dengan contoh amal usaha Muhammadiyah, seperti pendirian sekolah, rumah sakit, dan kegiatan sosial lainnya. Dengan demikian, artikel tidak hanya menjelaskan sejarah, tetapi juga menunjukkan dampak nyata Muhammadiyah bagi masyarakat, sehingga pembaca memperoleh pemahaman yang lebih lengkap dan mendalam.

  5. Avatar Nikki Ekaputri
    Nikki Ekaputri

    Menurut saya, berdirinya Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan merupakan langkah yang sangat tepat dalam menjawab kondisi umat Islam pada masa itu yang mengalami kemunduran. Beliau tidak hanya melihat masalah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata melalui gerakan organisasi.

    Rumusan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid menurut saya sangat relevan hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada ibadah, tetapi juga pada perubahan sosial yang lebih luas.

    Maksud Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam juga terasa sangat aplikatif. Terutama melalui pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah berhasil membuktikan bahwa dakwah bisa dilakukan secara nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.

    Tujuan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya menurut saya bukan hal yang mudah, tetapi sangat penting. Ini menuntut perubahan dari individu hingga masyarakat secara menyeluruh, baik dalam akhlak maupun pola pikir.

    Secara keseluruhan, saya melihat Muhammadiyah sebagai gerakan yang seimbang antara pemurnian ajaran dan kemajuan zaman. Nilai-nilai ini penting untuk terus diterapkan, khususnya oleh generasi muda agar Islam tetap relevan dan membawa manfaat bagi kehidupan.

  6. Avatar IKA INDRIYANTI
    IKA INDRIYANTI

    Proses berdirinya Muhammadiyah menunjukkan adanya respon terhadap kondisi sosial dan keagamaan saat itu yang membutuhkan pembaruan.
    Organisasi ini didirikan untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah serta memajukan umat. �
    Maksud dan tujuannya menekankan pada upaya menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam kehidupan. �
    Perjalanan perumusannya juga mengalami perkembangan, namun tetap mempertahankan nilai inti yang sama. �
    Secara keseluruhan, Muhammadiyah menjadi gerakan yang berperan penting dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan di Indonesia.

  7. Avatar Herlina Putri Novianti
    Herlina Putri Novianti

    Artikel tersebut menyajikan penjelasan yang cukup jelas dan runtut mengenai proses berdirinya Muhammadiyah serta perumusan maksud dan tujuannya. Alur pembahasannya mudah diikuti, sehingga pembaca bisa memahami latar belakang sejarah sekaligus arah perjuangan organisasi dengan lebih baik. Selain itu, penekanan pada nilai-nilai keislaman sebagai dasar gerakan juga disampaikan dengan tepat dan relevan.
    Secara keseluruhan, artikel ini informatif dan bermanfaat, terutama bagi pembaca yang ingin mengenal Muhammadiyah secara lebih mendalam. Penggunaan bahasa yang sederhana namun tetap jelas membuat isi artikel mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Dengan penyajian yang rapi dan isi yang cukup padat, artikel ini dapat menjadi referensi yang baik dalam memahami tujuan dan peran Muhammadiyah.