Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan

Abstrak

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki fokus kajian pada pemahaman mendalam tentang sejarah, identitas, dan gerakan Muhammadiyah. Artikel ini membahas secara sistematis proses berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dengan penekanan khusus pada tiga elemen fundamental: rumusan, maksud, dan tujuan Persyarikatan. Melalui metode studi literatur dan pendekatan historis-normatif, artikel ini menguraikan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai respons terhadap kemunduran umat Islam. Landasan teologis-organisational ini dianalisis berdasarkan ketetapan Anggaran Dasar Muhammadiyah serta ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjadi inspirasinya. Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai akar ideologis gerakan Muhammadiyah sebagai bekal pengamalan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Kata Kunci: Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, rumusan Muhammadiyah, maksud Muhammadiyah, tujuan Muhammadiyah, AIK 3


PENDAHULUAN

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk wajah keberagamaan dan kemoderenan umat Islam Nusantara. Berdiri sejak awal abad ke-20, organisasi ini lahir dari keprihatinan mendalam seorang ulama kharismatik, K.H. Ahmad Dahlan, terhadap kondisi kemunduran umat Islam yang terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan praktik keagamaan yang menyimpang. Dalam konteks perkuliahan AIK 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman tentang proses berdirinya Muhammadiyah menjadi fondasi penting bagi mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apa sebenarnya rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah? Ketiga aspek ini bukan sekadar definisi formal dalam anggaran dasar, melainkan cerminan dari semangat tajdid (pembaruan) yang diusung oleh K.H. Ahmad Dahlan. Artikel ini akan mengupas tuntas ketiga elemen tersebut dengan merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang otoritatif, serta menghubungkannya dengan landasan wahyu dan sunnah.


PEMBAHASAN

A. Latar Historis Berdirinya Muhammadiyah

Untuk memahami rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah, terlebih dahulu perlu ditelisik kondisi sosial-keagamaan yang melatarbelakangi kelahirannya. Pada awal abad ke-20, umat Islam Indonesia—khususnya di Jawa—berada dalam situasi yang memprihatinkan. Mereka hidup dalam penjajahan, terjebak dalam praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta jauh dari pemahaman Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. K.H. Ahmad Dahlan, yang bernama asli Muhammad Darwis, melihat bahwa kondisi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang seharusnya membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi umat.

Dari kegelisahan inilah, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta. Nama “Muhammadiyah” secara etimologis berarti “pengikut Nabi Muhammad”, yang mencerminkan tekad organisasi ini untuk menghidupkan kembali ajaran Islam sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

B. Rumusan Muhammadiyah (Identitas Persyarikatan)

Rumusan Muhammadiyah merujuk pada definisi dan karakter dasar yang melekat pada diri Persyarikatan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah. Dalam AD Muhammadiyah Bab I Pasal 1, dirumuskan bahwa “Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”.

Rumusan ini mengandung tiga pilar utama:

1. Gerakan Islam
Muhammadiyah adalah bagian integral dari umat Islam yang menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya landasan berpikir dan bertindak. Segala gerakannya tidak bermotif selain untuk merealisasikan prinsip-prinsip syariat dalam kehidupan nyata.

2. Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dakwah merupakan denyut nadi perjuangan Muhammadiyah. Terminologi ini diambil langsung dari perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 104 yang menjadi khittah (strategi dasar) perjuangan Muhammadiyah.

3. Gerakan Tajdid
Tajdid berarti pembaruan yang mencakup dua dimensi sekaligus: purifikasi (pemurnian akidah dan ibadah dari unsur-unsur yang menyimpang) dan dinamisasi (pembaruan metode bermuamalah agar sesuai dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan prinsip syariat).

Landasan teologis dari rumusan ini terdapat dalam firman Allah SWT:

QS. Ali ‘Imran [3]: 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat ini menjadi inspirasi utama K.H. Ahmad Dahlan dalam membentuk organisasi yang tidak hanya menjadi wadah ibadah ritual, tetapi juga kekuatan sosial yang aktif mengubah realitas ketimpangan di masyarakat.

Selain itu, rumusan Muhammadiyah juga mencerminkan prinsip washathiyah (moderasi) sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan (wasath) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Prinsip wasath ini meniscayakan sikap seimbang (tawazun), adil (‘adl), dan toleran (tasamuh) dalam setiap aktivitas dakwah dan kemasyarakatan.

C. Maksud Muhammadiyah

Maksud pendirian Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Secara lebih operasional, maksud ini dimanifestasikan dalam upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Memurnikan Ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti praktik syirik, bid’ah, dan khurafat yang kala itu merajalela di masyarakat.
  2. Mereformulasi Pemahaman Keagamaan dengan pandangan alam pikiran modern tanpa meninggalkan otoritas wahyu. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan kemajuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
  3. Menggerakkan Potensi Umat untuk bangkit dari keterbelakangan melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. K.H. Ahmad Dahlan meyakini bahwa kemunduran umat hanya bisa diatasi dengan penguatan di kedua sektor ini.

Maksud ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang pentingnya meninggalkan kemungkaran:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Artinya: “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Muhammadiyah hadir untuk mengubah kemungkaran-kemungkaran sosial dan keagamaan dengan tindakan nyata (bi al-yad) melalui pendirian lembaga pendidikan, rumah sakit, dan panti asuhan hingga sekarang.

D. Tujuan Muhammadiyah

Tujuan Muhammadiyah dirumuskan secara tegas dalam AD Muhammadiyah Pasal 3, yang menyatakan bahwa tujuan Persyarikatan adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Dalam perkembangan sejarah, rumusan tujuan ini mengalami penegasan makna, yaitu mewujudkan “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi), yakni komunitas yang dalam seluruh aspek kehidupannya—akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan kemasyarakatan—berlandaskan pada nilai-nilai Islam.

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, tujuan ini tidak bersifat abstrak, melainkan konkret dan terukur. Beliau merujuk pada QS. Ar-Ra’d [13]: 11 yang menjadi spirit perubahan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan sosial (taghyir al-mujtama’) harus dimulai dari perubahan kesadaran individual (taghyir ma bi anfusihim). Inilah yang kemudian diwujudkan Muhammadiyah melalui program pengkaderan dan pendidikan karakter sejak masa awal berdirinya.

Hadits Nabi yang juga menjadi ruh perjuangan ini adalah:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Muhammadiyah berusaha mewujudkan tujuan organisasinya dengan mengembalikan kemuliaan akhlak di tengah masyarakat yang sekuler dan materialistis.

Secara periodik, tujuan Muhammadiyah juga pernah dirumuskan dalam Statuten (Anggaran Dasar) awal tahun 1912 dan 1914 dengan redaksi: “memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland” serta “memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Kata “memajukan” (taraqqi) menjadi kata kunci yang menunjukkan bahwa sejak awal, Muhammadiyah adalah gerakan yang progresif dan dinamis.


KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses berdirinya Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh kondisi kemunduran umat Islam yang terjerat dalam takhayul, bid’ah, dan khurafat serta penjajahan. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid.

  1. Rumusan Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Maksud Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan memurnikan ajaran, mereformulasi pemahaman keagamaan, dan menggerakkan potensi umat melalui pendidikan serta kesehatan.
  3. Tujuan Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi) dalam seluruh aspek kehidupan.

Pemahaman yang komprehensif tentang rumusan, maksud, dan tujuan ini menjadi bekal esensial bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mengamalkan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan di tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab.


DAFTAR PUSTAKA

“Akademi Politik IMM Bahas Visi dan Peran Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2025. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com

A. Richad, “Mengulik Sejarah Kampung Kauman, Islam dan Muhammadiyah (episode 2),” TVRI News, 2023. [Online]. Tersedia: https://nasional.tvrinews.com

“Islam Berkemajuan Periode Awal,” PWM DIY, 2025. [Online]. Tersedia: https://pwmdiy.mu.or.id

“Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah Kota Yogyakarta,” Muhammadiyah, 2015. [Online]. Tersedia: http://lpcr.muhammadiyah.or.id

Mustofa, “Muhammadiyah dan Potret Keindonesiaan,” PWM Jateng, 2023. [Online]. Tersedia: https://pwmjateng.com

M. Wiharto, “Moderat dalam Bersikap, Berfikir dan Bertindak,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Islam Washathiyah: Jalan Hidup Global,” Program Studi Ilmu Hadis – Universitas Ahmad Dahlan, 2020. [Online]. Tersedia: https://ilha.uad.ac.id

“Sejarah Muhammadiyah,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Makna, Sejarah dan Peran Muhammadiyah,” Berita Jatim, 2022. [Online]. Tersedia: https://beritajatim.com

“Ciri Perjuangan Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2019. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Melani Indra Safitri Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

54 tanggapan untuk “Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan”

  1. Avatar Melani Indra Safitri
    Melani Indra Safitri

    Menurut saya, artikel ini menjelaskan dengan cukup jelas bagaimana proses berdirinya Muhammadiyah tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui pemikiran dan keprihatinan K.H. Ahmad Dahlan terhadap kondisi umat Islam saat itu. Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pembaharuan (tajdid) yang ingin mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.
    Selain itu, bagian tentang maksud dan tujuan Muhammadiyah juga sangat penting, karena menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam agar tercipta masyarakat yang ideal. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan biasa, tetapi juga memiliki visi besar dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

  2. Avatar Via aulya
    Via aulya

    Artikel ini memberikan ulasan yang sistematis mengenai alasan logis di balik lahirnya Muhammadiyah. Penulis berhasil menjelaskan bahwa organisasi ini hadir sebagai solusi atas penyimpangan praktik keagamaan dan ketertinggalan pendidikan umat di masa lalu.

    Poin kuatnya terletak pada penyajian maksud dan tujuan persyarikatan yang tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis melalui amal usaha. Secara keseluruhan, artikel ini sangat membantu pembaca dalam memahami esensi Muhammadiyah sebagai gerakan yang memadukan pemurnian ajaran dengan kemajuan zaman.

  3. Avatar Nurhalimah
    Nurhalimah

    Artikel tersebut memberikan pemahaman yang cukup jelas bahwa berdirinya Muhammadiyah bukan hanya sekadar pembentukan organisasi, tetapi merupakan respons terhadap kondisi umat Islam pada masa itu yang membutuhkan pembaruan (tajdid). Didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah lahir dari dorongan untuk mengembalikan ajaran Islam kepada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Hadis, sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman.

    Selain itu, penjelasan mengenai rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah menunjukkan bahwa organisasi ini memiliki arah perjuangan yang sangat jelas, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam agar terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Hal ini menandakan bahwa Muhammadiyah tidak hanya fokus pada aspek ibadah, tetapi juga mencakup kehidupan sosial, pendidikan, dan kemajuan umat secara luas.

    Menurut saya, artikel ini menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada konsistensi nilai dan tujuan yang tetap sama meskipun rumusannya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perubahan redaksi tujuan tidak mengubah esensi perjuangan, melainkan menyesuaikan dengan konteks zaman agar tetap relevan.

    Secara keseluruhan, artikel ini memberikan pelajaran bahwa sebuah organisasi yang kuat harus memiliki landasan ideologis yang jelas serta mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Muhammadiyah menjadi contoh bagaimana gerakan keagamaan dapat berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih maju, berakhlak, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

  4. Avatar Ryan Hendarto
    Ryan Hendarto

    Artikel ini memberikan penjelasan yang cukup jelas dan sistematis mengenai latar belakang berdirinya Muhammadiyah serta perkembangan rumusan maksud dan tujuannya. Penulis berhasil menggambarkan bahwa Muhammadiyah lahir sebagai respons terhadap kondisi umat Islam yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh praktik keagamaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Hal ini sejalan dengan tujuan Muhammadiyah yang ingin memurnikan ajaran Islam serta membangun masyarakat Islam yang ideal.

  5. Avatar Muhammad Rizky Ismaninahdi
    Muhammad Rizky Ismaninahdi

    Secara keseluruhan, artikel ini merupakan esai edukatif yang sangat bernas dan terstruktur karena berhasil membedah landasan filosofis serta historis Muhammadiyah secara mendalam. Penulis secara apik mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits sebagai fondasi teologis gerakan, sehingga pembaca dapat memahami bahwa identitas Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan amar ma’ruf nahi munkar bukanlah sekadar slogan organisasi, melainkan upaya konkret untuk memurnikan akidah sekaligus memajukan peradaban. Penjelasan mengenai maksud dan tujuan persyarikatan yang disajikan secara sistematis menjadikan artikel ini referensi yang sangat valid bagi mahasiswa maupun masyarakat umum untuk memahami semangat Islam Berkemajuan yang diusung oleh K.H. Ahmad Dahlan sejak tahun 1912.

  6. Avatar Yunita Putri Lestari
    Yunita Putri Lestari

    Artikel tersebut memberikan pemahaman yang cukup jelas bahwa berdirinya Muhammadiyah bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi merupakan respon terhadap kondisi sosial-keagamaan masyarakat saat itu. Organisasi ini lahir dari keprihatinan terhadap praktik keagamaan yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang murni, sekaligus sebagai upaya pembaruan (tajdid) agar umat Islam kembali berpegang pada Al-Qur’an dan Hadis. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah sejak awal memiliki orientasi perubahan yang bersifat progresif dan rasional.

    Selain itu, rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah yang menekankan “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam” menunjukkan bahwa gerakan ini tidak hanya berfokus pada aspek ibadah, tetapi juga mencakup kehidupan sosial yang lebih luas. Tujuan tersebut diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang ideal, yaitu masyarakat yang berlandaskan nilai keadilan, kemajuan, dan kesejahteraan.

    Menurut saya, yang menarik adalah konsistensi Muhammadiyah dalam mempertahankan esensi tujuannya meskipun redaksi atau rumusannya mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ini menunjukkan bahwa organisasi tersebut adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada prinsip dasar yang sama. Sikap ini menjadi salah satu faktor mengapa Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang hingga sekarang.

    Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan biasa, melainkan gerakan dakwah dan pembaruan yang memiliki visi jangka panjang untuk membangun peradaban Islam yang maju dan relevan dengan perkembangan zaman.

  7. Avatar Dwi Malinda
    Dwi Malinda

    Artikel ini menjelaskan bagaimana proses berdirinya Muhammadiyah serta tujuan utamanya. Serta pembaca memahami bahwa perjuangan Muhammadiyah tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga pada pendidikan, sosial, dan kemajuan masyarakat secara luas. Dengan begitu, Muhammadiyah memiliki peran besar dalam membangun kehidupan umat yang lebih baik dan berkemajuan.

  8. Avatar NADILLA
    NADILLA

    Materi ini sudah disusun dengan sangat runtut dan jelas dalam menjelaskan sejarah berdirinya Muhammadiyah serta peran K.H. Ahmad Dahlan sebagai tokoh pembaru. Penjelasan tentang rumusan, maksud, dan tujuan juga mudah dipahami karena didukung dalil Al-Qur’an dan hadits yang relevan.

  9. Avatar Rika Amelia
    Rika Amelia

    Artikel ini memberikan penjelasan yang sangat komprehensif dan sistematis mengenai sejarah, identitas, serta landasan teologis berdirinya Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan. Penjelasan mengenai tiga pilar utama—Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Tajdid—yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sangat membantu pembaca dalam memahami akar ideologi Persyarikatan secara mendalam. Selain itu, artikel ini dengan jelas merumuskan maksud dan tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, menjadikannya referensi yang sangat berharga bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk memahami nilai-nilai Islam berkemajuan.

  10. Avatar Natalie
    Natalie

    Artikel ini membahas secara sistematis proses berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dengan penekanan khusus pada tiga elemen fundamental: rumusan, maksud, dan tujuan Persyarikatan. Melalui metode studi literatur dan pendekatan historis-normatif, artikel ini menguraikan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah