CIREBON, 15 Mei 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Kota Cirebon, pada pelaksanaan salat Jumat hari ini, 15 Mei 2026. Jamaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Anisulfata, ME.Sy., menyampaikan khutbah dengan tema yang sangat relevan dengan tantangan zaman: “Menjaga Privasi dan Menutup Aib Orang Lain di Era Digital.”

Dalam khutbahnya, Ustadz Anisulfata mengingatkan bahwa kehidupan di era digital tidak lepas dari penggunaan media sosial, aplikasi pesan instan, dan berbagai platform online. Kemudahan berkomunikasi ini, menurutnya, membawa risiko besar, terutama terhadap privasi dan aib orang lain.
“Menjaga rahasia, menutup aib, dan menghormati privasi adalah bagian dari akhlak mulia seorang Muslim,” tegas Ustadz Anisulfata di hadapan jamaah.

Ayat Al-Qur’an tentang Larangan Menggunjing
Ustadz Anisulfata mengawali khutbahnya dengan membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12:
Arab:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanujtanibū kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba‘ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasū wa lā yagtab ba‘ḍukum ba‘ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitā fa karihtumūh(u), wattaqullāh(a), innallāha tawwābun raḥīm(un).
Artinya: “Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian benci hal itu.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Khatib menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tidak membicarakan keburukan orang lain, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Menyebarkan aib orang lain sama dengan menggunjing, yang sangat dilarang dalam Islam.

Hadits tentang Keutamaan Menutup Aib
Selanjutnya, Ustadz Anisulfata menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Arab:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Latin: Man satara musliman satarahullāhu fid-dunyā wal-ākhirah.
Artinya: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, No. 2638)
Hadis ini, kata Ustadz Anisulfata, mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan dan privasi orang lain. Dalam konteks digital, umat Islam harus berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, foto, video, maupun pesan yang bersifat sensitif.
“Menjaga privasi bukan hanya soal hukum dunia, tetapi juga bentuk takwa kepada Allah. Media sosial sering membuat kita tergoda untuk mengunggah sesuatu yang sebenarnya bersifat pribadi, seperti kesalahan, kelalaian, atau perbuatan kurang pantas. Menyebarkan hal tersebut berarti membuka aib orang lain,” ujarnya.
Hadits tentang Kriteria Penilaian Allah
Khatib juga mengutip hadits lain dari HR. Muslim No. 2564:
Arab:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Latin: Innallāha lā yanẓuru ilā ṣuwarikum wa amwālikum, wa lākin yanẓuru ilā qulūbikum wa a‘mālikum.
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim, No. 2564)
Menjaga privasi orang lain, lanjutnya, adalah salah satu bentuk kebaikan yang menyentuh hati. “Jangan sampai kesalahan kecil orang lain kita viralkan, karena itu bisa merusak kehormatan mereka dan membawa dosa bagi kita,” pesan Ustadz Anisulfata.
Penutup Khutbah dan Doa
Di akhir khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk bermuhasabah. Setiap klik, unggahan, atau pesan di era digital dapat tersebar luas. Sebelum membagikan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini bisa merugikan orang lain? Apakah ini termasuk aib yang seharusnya kita tutupi?
“Jika jawabannya ‘iya’, maka menahan diri adalah wujud iman yang sesungguhnya. Menutup aib orang lain akan membawa keberkahan dan perlindungan Allah bagi kita sendiri,” tuturnya.
Khutbah ditutup dengan doa:
Arab:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا حَلَالًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَاحْفَظْنَا مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَاجْمَعْنَا عَلَى الْخَيْرِ، وَاهْدِنَا إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، آمِينَ
Latin: Allāhumma innā nas’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan ḥalālan, wa ‘amalan mutaqabbalā, waḥfaẓnā min syurūri anfusinā wa sayyi’āti a‘mālinā, wajma‘nā ‘alal-khayr(i), wahdinā ilaṣ-ṣirāṭil-mustaqīm(i), āmīn.
Artinya: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, amal yang diterima, lindungilah kami dari keburukan diri kami dan dosa-dosa kami, satukanlah kami dalam kebaikan, dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Aamiin.”
Salat Jumat dua rakaat yang dipimpin oleh Ustadz Anisulfata berlangsung lancar dan tertib. Jamaah tampak merenungkan pesan-pesan khutbah yang sarat makna, bertekad untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di dunia digital dan meneladani akhlak mulia menutup aib sesama Muslim.
Redaksi: Dakum dan Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Tinggalkan Balasan