Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Menggali Teladan Kesabaran Nabi Zulkifli dan Hikmah di Balik Azab Kaum Terdahulu

·

Avatar Arofah Firdaus

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 25 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat dan syahdu menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Pengajian Reboan, Rabu (19/8/2026). Jemaah yang hadir tampak antusias mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz H. Dedi Ahyadi. Dalam tausiyahnya, penceramah mengangkat tema tentang keteladanan dari kisah Nabi Zulkifli ‘alaihissalam serta peristiwa-peristiwa besar yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam masa kini.

Sebelum memasuki inti kajian, Ustadz Dedi Ahyadi mengawali dengan mengingatkan kembali tentang kekuatan doa yang dipanjatkan oleh para nabi ketika menghadapi ujian. Di antara doa-doa tersebut adalah seruan Nabi Ayyub ‘alaihissalam ketika ditimpa penyakit berat dan doa Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika dihadapkan pada fitnah dan godaan.

Ustadz Dedi membacakan doa Nabi Ayyub yang merupakan permohonan kesembuhan dan rahmat:

رَبِّ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 83)

Selanjutnya, beliau juga mengutip doa Nabi Yusuf yang menjadi bukti keteguhan iman dan permohonan husnul khatimah:

فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“(Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf [12]: 101)

Memasuki tema utama, Ustadz Dedi Ahyadi mengupas tuntas sosok Nabi Zulkifli ‘alaihissalam. Beliau menjelaskan bahwa nama Zulkifli disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak dua kali, yang menunjukkan kemuliaan dan kesabarannya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 85)

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ وَكُلٌّ مِّنَ الْأَخْيَارِ

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Shad [38]: 48)

Ustadz Dedi menjelaskan bahwa nama Zulkifli tersusun dari kata ‘Zul‘ yang berarti ‘memiliki’ dan ‘Kifli‘ yang bermakna ‘orang yang memegang amanah’. Dalam tafsir para ulama disebutkan bahwa beliau adalah putra dari Nabi Ayyub AS atau merupakan seorang yang saleh dan diangkat menjadi pemimpin karena kemampuannya memegang amanah. Kisah menarik yang disampaikan adalah ketika Nabi Ilyasa AS mencari pengganti dengan tiga syarat berat, yaitu berpuasa di siang hari, shalat malam, dan tidak pernah marah. Hanya Nabi Zulkifli yang sanggup memenuhi persyaratan tersebut, sehingga ia dijuluki Zulkifli. Bahkan, beliau menyebutkan bahwa orang yang mampu melaksanakan shalat 100 rakaat setiap harinya dapat diserupakan dengan akhlak Zulkifli dalam hal ketekunan ibadah.

Dalam lanjutan kajian, Ustadz Dedi Ahyadi juga menyinggung tentang kaum-kaum yang dibinasakan secara masal karena kedurhakaan mereka, terutama sebelum diturunkannya kitab Taurat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Qashash [28]: 134 yang menerangkan tentang azab yang ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Di antara kaum tersebut adalah:

  1. Ash-habul Rass (Para Penghuni Sumur) : Mereka adalah kaum yang mendustakan rasul dan membunuh nabi mereka dengan melemparkannya ke dalam sumur. Allah membinasakan mereka karena kezaliman tersebut, sebagaimana disebutkan dalam QS. Qaf [50]: 12 dan QS. Al-Furqan [25]: 38.
  2. Ash-habul Aikah (Penduduk Aikah) : Mereka adalah kaum Nabi Syu’aib AS yang tinggal di kawasan pepohonan rindang (Aikah). Meskipun diberi peringatan, mereka tetap ingkar dan mendustakan rasul, sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka. Kisah ini diabadikan dalam QS. Qaf [50]: 13-14.
  3. Ash-habul Ukhdud (Penduduk Parit) : Mereka adalah para penguasa zalim yang menggali parit besar berisi api untuk membakar orang-orang beriman yang menolak untuk menyembah berhala. Peristiwa tragis ini mengajarkan tentang keteguhan iman dan keadilan Allah bagi para penindas, sebagaimana diterangkan panjang lebar dalam QS. Al-Buruj [85]: 4-10.

Pengajian yang berlangsung hingga menjelang Isya itu ditutup dengan doa dari Ustadz Dedi Ahyadi, mengajak seluruh jemaah untuk meneladani kesabaran Nabi Zulkifli dan menjauhi sifat-sifat zalim yang menjadi penyebab kehancuran umat-umat terdahulu. Kegiatan rutin Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah ini menjadi bukti nyata komitmen warga Muhammadiyah Kota Cirebon dalam memperkokoh keimanan dan menimba ilmu agama. (*)

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun.


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Menggali Teladan Kesabaran Nabi Zulkifli dan Hikmah di Balik Azab Kaum Terdahulu”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Menjaga amanah lewat teladan Nabi Zulkifli AS, serta kekuatan doa saat menghadapi ujian ,menjadi ikhtibar penting agar kita senantiasa menjauhi kezaliman dan menjaga ketakwaan.