CIREBON, 17 Juni 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu malam, 17 Juni 2026, dalam rangkaian pengajian rutin Reboan. Jamaah dari berbagai penjuru Kota Cirebon dan sekitarnya tampak antusias menghadiri kajian yang kali ini menghadirkan penceramah, Ustadz Dedi Ahyadi. Pengajian tersebut mengupas tuntas lanjutan kisah penuh hikmah Nabi Yusuf Alaihissalam, khususnya menyoroti ayat 99 dari Surat Yusuf.

Ustadz Dedi Ahyadi dalam ceramahnya yang menyejukkan mengisahkan puncak pertemuan agung antara Nabi Yusuf Alaihissalam dengan kedua orang tuanya setelah puluhan tahun terpisah. Beliau mengutip firman Allah dalam Surat Yusuf ayat 99:
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ٱدْخُلُوا مِصْرَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ
Artinya: “Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata: ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman’.”
Dalam tafsirnya, Ustadz Dedi menjelaskan momen haru ketika Nabi Yakub Alaihissalam bersama keluarga besar akhirnya tiba di Mesir dan disambut langsung oleh putranya yang telah menjadi penguasa Mesir. Meski telah mengalami pengkhianatan dan penderitaan, Nabi Yusuf tidak menunjukkan rasa dendam sedikit pun. Justru dengan penuh kasih sayang, ia merangkul kedua orang tuanya dan mempersilakan seluruh keluarganya tinggal dengan aman di negeri Mesir.

Teladan Maaf dan Ketakwaan Nabi Yusuf
Salah satu pesan mendalam yang ditekankan Ustadz Dedi adalah sikap Nabi Yusuf yang tidak pendendam. Ketika akhirnya berhadapan dengan saudara-saudaranya yang pernah mencelakakannya, Yusuf justru menyalahkan setan yang telah mengganggu hubungan persaudaraan mereka. Hal ini sebagaimana termaktub dalam lanjutan Surat Yusuf ayat 100:
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَاأَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَٰيَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۖ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: ‘Wahai ayahku! Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’”
Ustadz Dedi menyoroti betapa agungnya akhlak Nabi Yusuf yang lebih memilih memaafkan dan menyadari bahwa semua musibah yang menimpanya adalah bagian dari takdir Allah. Beliau juga mengingatkan bahwa sikap memaafkan adalah ciri orang bertakwa, sebagaimana firman Allah:
وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Artinya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran: 134)

Mukjizat Takwil Mimpi dan Doa Akhir Hayat
Lebih lanjut, Ustadz Dedi menjelaskan bahwa salah satu mukjizat besar yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Yusuf adalah kemampuan menakwilkan mimpi (ta’bir ar-ru’ya). Kemampuan inilah yang mengangkat derajatnya di hadapan raja Mesir dan menyelamatkan negeri itu dari bencana kelaparan.
Beliau juga mengutip doa indah yang dipanjatkan Nabi Yusuf di akhir hayatnya, sebuah permohonan agar dimatikan dalam keadaan Islam dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh. Doa ini terdapat dalam Q.S. Yusuf: 101:
رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
Doa ini mengajarkan umat Islam untuk selalu memohon akhir yang baik (husnul khatimah) dan berharap dikumpulkan bersama orang-orang saleh di akhirat kelak.

Perpisahan Panjang dan Pelajaran Berharga
Ustadz Dedi mengingatkan jamaah bahwa perpisahan antara Nabi Yusuf dan Nabi Yakub berlangsung selama sekitar 17 hingga 18 tahun. Lamanya perpisahan ini menjadi ujian kesabaran yang luar biasa bagi Nabi Yakub, yang setiap hari menangis mengenang putra kesayangannya. Namun, kesabaran dan keyakinan kepada Allah akhirnya membuahkan pertemuan yang mengharukan.
“Kisah ini mengajarkan kita bahwa ujian dan penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan dan hikmah yang agung. Kunci utamanya adalah sabar, tawakal, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah,” ujar Ustadz Dedi di hadapan jamaah yang tampak khusyuk.
Pengajian Pekan Depan: Kisah Nabi Ayub AS
Menutup ceramahnya, Ustadz Dedi Ahyadi menginformasikan bahwa pengajian Reboan pekan depan akan melanjutkan rangkaian kisah para nabi dengan mengangkat kisah inspiratif Nabi Ayub Alaihissalam, seorang nabi yang dikenal dengan kesabarannya yang luar biasa dalam menghadapi ujian berat berupa penyakit dan kehilangan harta.
Tentang Pengajian Reboan Masjid Santun
Pengajian rutin Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon merupakan agenda mingguan yang terus berlangsung dengan antusiasme tinggi dari warga Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ortom lainnya. Kajian ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperdalam pemahaman agama, khususnya melalui kisah-kisah para nabi yang sarat dengan pelajaran hidup.
Acara berlangsung dengan khidmat dan diakhiri dengan doa, dipimpin oleh Ustadz Dedi Ahyadi, memohon keberkahan dan perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk seluruh jamaah dan umat Islam di Kota Cirebon.
Peliput : Dakum, S.Pd. dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan