CIREBON, 15 Februari 2026 – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kejaksan menggelar Pengajian Tarhib Ramadhan yang berlangsung khidmat di Mushola Al-Misbah, Syechmagelung, Cirebon, Ahad (15/2/2026). Pengajian ini menghadirkan penceramah Ustadz Drs. H. Otang Misbah Jalil, M.Si. , yang menyampaikan materi tentang persiapan menyambut bulan penuh berkah.
Acara yang dihadiri oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kejaksan Kota Cirebon, Yoyon Sumaryono, SE. dan jamaah dari berbagai kalangan ini diawali dengan doa bersama dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Suasana haru dan kerinduan untuk bertemu Ramadhan tampak jelas terpancar dari wajah para jamaah yang memadati mushola.

Doa Pembuka: Memohon Ilmu yang Bermanfaat
Sebelum memulai tausiyah, Ustadz Otang Misbah mengajak seluruh jamaah untuk membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Sunni dan Ibnu Majah)
“Kita awali pengajian ini dengan memohon ilmu yang bermanfaat. Karena hanya dengan ilmu, kita akan mampu menjalankan ibadah Ramadhan dengan benar dan berkualitas,” ujar Ustadz Otang.

Ramadhan: Bulan yang Dinanti dan Keistimewaannya
Memasuki tausiyah, Ustadz Otang Misbah mengajak jamaah merenungkan perjalanan waktu yang terus bergulir. “Tidak terasa, putaran waktu terus bergerak. Napas berhembus tanpa kita sadari. Sekarang kita sudah berada di penghujung bulan Sya’ban, yang menjadi jembatan persiapan spiritual (tahiyah ruhiyyah) menuju bulan yang diistimewakan, yaitu bulan suci Ramadhan,” tuturnya.
Beliau mengingatkan bahwa bulan Ramadhan pasti akan tiba, disukai atau tidak. Namun, orang-orang beriman selalu menanti-nantikan kedatangannya dengan penuh suka cita. Mereka yang disebut salafus saleh adalah teladan dalam menyambut Ramadhan. Allah berfirman tentang mereka:
أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
“Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya (kenikmatan surga).” (QS. Al-Mu’minun: 61)

Tiga Golongan yang Celaka Menurut Hadis Nabi
Ustadz Otang kemudian menyampaikan sebuah hadis yang sangat terkenal, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi. Hadis ini menggambarkan tiga golongan manusia yang sangat celaka di sisi Allah, yang menyebabkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengucapkan “Aamiin” sebanyak tiga kali saat naik mimbar.
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: احْضَرُوا الْمِنْبَرَ فَحَضَرْنَا، فَلَمَّا ارْتَقَى دَرَجَةً قَالَ: آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى دَرَجَةً أُخْرَى فَقَالَ: آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى دَرَجَةً ثَالِثَةً فَقَالَ: آمِينَ، فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْنَا مِنْكَ الْيَوْمَ شَيْئًا مَا كُنَّا نَسْمَعُهُ قَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَرَضَ لِي فَقَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلْتُ: آمِينَ، فَلَمَّا ارْتَقَيْتُ الثَّانِيَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، قُلْتُ: آمِينَ، فَلَمَّا ارْتَقَيْتُ الثَّالِثَةَ قَالَ: بُعْدًا لِمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ: آمِينَ
Dari Ka’ab bin Ujrah RA, ia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Naiklah ke mimbar.” Maka kami pun naik. Ketika beliau menaiki tangga pertama, beliau mengucapkan, “Aamiin.” Kemudian ketika menaiki tangga kedua, beliau mengucapkan, “Aamiin.” Kemudian ketika menaiki tangga ketiga, beliau mengucapkan, “Aamiin.” Setelah turun, kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengar sesuatu dari engkau hari ini yang belum pernah kami dengar sebelumnya.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Jibril AS menemuiku dan berkata: ‘Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, lalu (dosanya) tidak diampuni.’ Maka aku mengucapkan: Aamiin. Ketika aku menaiki tangga kedua, ia berkata: ‘Celakalah seorang hamba yang namamu disebut di sisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadamu.’ Maka aku mengucapkan: Aamiin. Ketika aku menaiki tangga ketiga, ia berkata: ‘Celakalah seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya (dalam usia lanjut), tetapi (keberadaan mereka) tidak memasukkan dia ke surga.’ Maka aku mengucapkan: Aamiin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al-Albani)

Ustadz Otang menjelaskan makna dari hadis ini:
- Golongan Pertama: Orang yang menjumpai Ramadhan, tetapi dosa-dosanya tidak diampuni Allah. Ini bisa terjadi karena ia masih menyimpan dendam, iri hati, dengki, atau terus melakukan maksiat seperti judi, narkoba, miras, dan memutus silaturahmi tanpa bertaubat. Beliau mengingatkan sabda Nabi SAW:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah) Sebaliknya, keutamaan puasa yang dilakukan dengan iman dan pengharapan disebutkan dalam hadis:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim) - Golongan Kedua: Orang yang mendengar nama Nabi Muhammad SAW disebut, tetapi tidak bershalawat kepadanya. Ia tidak akan mendapatkan kebaikan, keutamaan, dan akan memiliki perangai yang buruk, serta tidak mendapat jalan masuk surga.
- Golongan Ketiga: Orang yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya di usia lanjut, tetapi hal itu tidak menjadikannya masuk surga. Ini karena ia lalai dalam berbakti kepada mereka. Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu.” (QS. Al-Isra’: 23)
Lima Persiapan Menyambut Ramadhan
Memasuki inti kajian, Ustadz Otang Misbah memaparkan lima persiapan strategis yang harus dilakukan seorang muslim dalam menyambut bulan suci Ramadhan:
1. Persiapan Ruhiyah (Tazkiyatun Nafs) – Menjaga dan Membersihkan Jiwa
“Persiapan pertama dan paling utama adalah membersihkan hati. Hendaknya seorang muslim semakin berusaha menjaga hati dari segala perbuatan yang dapat merusak kesuciannya,” jelas Ustadz Otang.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah menjaga niat agar tidak menyimpang. Betapa banyak amalan yang tampak sepele, namun menjadi besar pahalanya karena niat yang benar. Sebaliknya, banyak amalan besar yang menjadi tidak bernilai karena niat yang salah.
Beliau mengutip sebuah ungkapan:
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi kecil karena niatnya.”
Amalan untuk membersihkan diri di bulan Sya’ban antara lain: memperbanyak puasa sunnah, tadarus Al-Qur’an, dan shalat malam.
2. Persiapan Amaliyah – Menyusun Target Ibadah
“Kedua, hendaknya seorang muslim menyusun rencana target ibadah yang ingin dicapai selama Ramadhan. Misalnya: khatam Al-Qur’an 30 juz, tarawih tidak bolong, sedekah harian, memberi makan anak yatim, membebaskan hutang orang yang kesulitan, itikaf, dan sebagainya,” papar Ustadz Otang.
Target-target ini perlu disiapkan agar menjadi panduan dan motivasi selama berada di bulan Ramadhan. “Jangan sampai bulan Ramadhan berlalu sia-sia, karena belum tentu kita bisa bertemu Ramadhan tahun depan. Maka maksimalkan dengan menyusun dan merealisasikan target yang sudah kita buat,” tegasnya.
3. Persiapan Ilmiyah – Memahami Fiqih Ramadhan
Seorang muslim hendaknya membekali diri dengan ilmu sebanyak mungkin seputar Ramadhan. Ustadz Otang membagi ilmu Ramadhan ke dalam tiga fase:
- Sebelum Ramadhan: Ilmu tentang istigfar, taubat, qadha puasa, persiapan mental dan material.
- Saat Ramadhan: Ilmu tentang sahur, berbuka, ibadah wajib dan sunah, serta menjaga lisan.
- Sesudah Ramadhan: Ilmu tentang puasa Syawal, istiqamah dalam kebaikan, dan silaturahim.
“Hendaknya seorang muslim menguasai ilmu-ilmu tersebut. Ini adalah wujud bahwa kita benar-benar senang dan gembira menyambut Ramadhan, serta tidak ingin melewatinya begitu saja agar setiap detik yang kita lewati menjadi lebih bermakna dan indah,” ujarnya.
4. Persiapan Jasadiyah – Menjaga Kebugaran Fisik
Persiapan keempat adalah menjaga kesehatan tubuh. “Seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga kebugaran dengan pola makan yang baik, tidur teratur, gizi seimbang, perbanyak minum air putih, kurangi minuman manis,” pesan Ustadz Otang.
Yang tak kalah penting adalah tetap berolahraga 20-30 menit per hari dengan niat beribadah kepada Allah, agar stamina terjaga dan kondisi badan prima selama menjalankan ibadah puasa. “Berlatih puasa sunnah di bulan Sya’ban juga termasuk persiapan jasadiyah yang sangat baik,” tambahnya.
5. Persiapan Maliyah – Menyiapkan Harta untuk Infak dan Sedekah
Persiapan terakhir adalah finansial untuk mendukung berbagai kegiatan ibadah di bulan Ramadhan. “Zakat mal, zakat fitrah, umroh, haji, infak, sedekah, membantu sesama – semua ibadah ini membutuhkan maliyah (harta),” jelas Ustadz Otang.
“Dari sekarang kita siapkan, sisihkan setiap rupiah demi rupiah yang kita miliki, agar dapat disalurkan kepada yang membutuhkan pada saat bulan Ramadhan yang mulia dan istimewa ini,” ajaknya.

Landasan Hukum Puasa dan Shalat Tarawih
Ustadz Otang juga menyampaikan landasan hukum puasa dan shalat malam di bulan Ramadhan:
1. Perintah Puasa
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Hadis keutamaannya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
2. Perintah Shalat Malam (Tarawih)
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dan keutamaan shalat berjamaah:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam (shalat malam) satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
3. Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Ustadz Otang menjelaskan bahwa terdapat beberapa variasi dalam pelaksanaan shalat tarawih, dan semuanya memiliki landasan: Pertama 20 rakaat + 3 witir caranya 2 rakaat salam (11 kali) + 1 rakaat witir. Pendapat kedua 8 rakaat + 3 witir caranya 2 rakaat salam (4 kali) + 3 rakaat witir. Ketiga 8 rakaat + 3 witir 4 rakaat salam (2 kali) + 3 rakaat witir Berdasarkan riwayat Aisyah RA
Mengenai pertanyaan tentang shalat 4 rakaat dengan satu salam tanpa tahiyat awal, Ustadz Otang menjelaskan berdasarkan hadits Aisyah RA dan pendapat para ulama dalam Kitab Majmu’ Muhadzab jilid IV halaman 32, bahwa shalat 4 rakaat tanpa tahiyat awal (satu kali salam) tidak sah. Hal ini sesuai dengan hadits:
وَكَانَ يُسَلِّمُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ
“Dan beliau (Nabi SAW) mengucapkan salam pada setiap dua rakaat.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari jilid II hal. 241-242)

Penutup: Rumus Mudah Mengingat Bulan Hijriah
Di akhir kajian, Ustadz Otang Misbah memberikan tips mudah untuk mengingat nama-nama bulan Hijriah dengan rumus “Kanan Musa Rara Juju – Kiri Rasya Rasya Dzudzu” :
- Kanan (6 bulan pertama): Muharram, Safar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir
- Kiri (6 bulan kedua): Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijjah
Pengajian ditutup dengan doa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal ‘afiat, serta diberi kekuatan untuk mengisi bulan suci dengan amalan-amalan terbaik. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Tinggalkan Balasan