CIREBON, muhammadiyahciko – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) resmi menutup pelaksanaan Perkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang berlangsung selama beberapa hari di lingkungan kampus UMC. Acara penutupan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh para dosen AIK, pimpinan universitas, serta jajaran Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) UMC.

Ketua LPP AIK UMC, Novan Hardiyanto, M.M., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan refleksi mendalam mengenai hakikat dakwah di era kontemporer. Beliau menekankan bahwa dakwah tidak semata-mata berbicara, melainkan harus diiringi dengan kemampuan mendengar dan memberikan solusi nyata.
“Indra kita pandai bicara, tetapi jarang mendengar. Dakwah yang sebenarnya bukan hanya bicara, tetapi problem solving,” ujar Novan Hardiyanto di hadapan para peserta perkaderan.
Beliau mengajak seluruh dosen AIK untuk lebih sering berkunjung dan berkoordinasi dengan LPP AIK UMC sebagai pusat pengkajian dan pengamalan nilai-nilai Islam serta Kemuhammadiyahan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa kampus UMC terus menjaga kualitas layanan kepada customer (stakeholder) agar semakin dimiliki dan dipercaya oleh masyarakat se-Kabupaten dan Kota Cirebon.

“Kita harus memastikan kampus kita menjaga ‘customer’ agar semakin dimiliki oleh masyarakat se-Kabupaten dan se-Kota Cirebon,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Novan Hardiyanto menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan perkaderan, seraya berharap agar kegiatan ini menjadi momentum peningkatan kualitas dakwah dan pengabdian dosen AIK.
Pesan Strategis Wakil Rektor III: Lahirkan Buku dan Perkuat Kaderisasi
Acara penutupan secara resmi dilakukan oleh Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Iman, yang turut menyampaikan sejumlah pesan strategis untuk keberlanjutan program perkaderan ke depan.
Dr. Bagus Nurul Iman menekankan pentingnya tindak lanjut dari kegiatan perkaderan ini dalam bentuk karya nyata yang bermanfaat bagi civitas akademika. Beliau berharap agar para dosen AIK segera menghasilkan buku yang dapat digunakan pada tahun ajaran berjalan.
“Saya berharap perkaderan ini ada hasilnya, yaitu dengan membuat buku yang bisa digunakan untuk tahun ajaran sekarang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dr. Bagus Nurul Iman mengungkapkan bahwa UMC setiap tahun memberikan beasiswa kepada anak kader melalui jalur Pimpinan Pusat (PP) Persyarikatan. Namun, beliau menyayangkan bahwa tidak semua penerima beasiswa menjadi kader yang aktif di Muhammadiyah.
“UMC setiap tahun memberikan beasiswa untuk anak kader melalui jalur PP Persyarikatan, tetapi tidak menjadi kader. Kami berharap mahasiswa yang mendapat beasiswa bisa aktif di Muhammadiyah dan dapat dikumpulkan oleh LPP AIK,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa UMC telah memiliki Bursa Kerja Khusus (BKK) yang tidak hanya melayani penempatan kerja di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Keunggulan ini menjadi nilai tambah bagi lulusan UMC.
“Sebagaimana kita maklumi bahwa UMC sudah punya Bursa Kerja Khusus (BKK), bukan hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri,” ungkapnya.
Menurut testimoni yang diterima, lulusan UMC dikenal memiliki keunggulan dalam hal disiplin ibadah. Bahkan, ketika berada di tempat kerja, mereka selalu meminta izin untuk melaksanakan salat.
“Keunggulan sesuai testimoni, lulusan UMC waktu salat selalu izin melaksanakan salat,” pungkas Dr. Bagus Nurul Iman.
Landasan Qur’ani dan Hadits tentang Dakwah, Mendengar, dan Kaderisasi
Perkaderan fungsional dosen AIK ini memiliki landasan kuat dari Al-Qur’an dan hadits yang mengajarkan pentingnya dakwah bil-hikmah, kemampuan mendengar, serta pembinaan kader yang berkesinambungan.
1. Perintah Dakwah dengan Hikmah dan Solusi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Yā ayyuhan-nāsu qad jā’atkum mau’iẓatum mir rabbikum wa syifā’un limā fīṣ-ṣudūri wa hudan wa raḥmatul lil-mu’minīn.
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadmu pelajaran (nasihat) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus [10]: 57)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar ucapan, melainkan harus menjadi penyembuh (syifā’) dan solusi bagi permasalahan umat. Hal ini selaras dengan pesan Novan Hardiyanto bahwa dakwah sejati adalah problem solving.
2. Keutamaan Mendengar sebelum Berbicara
Allah berfirman dalam surat Al-A’raf:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu’āda kullu ulā’ika kāna ‘anhu mas’ūlā.
Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 36)
Ayat ini mengingatkan bahwa pendengaran adalah anugerah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, seorang dai hendaknya lebih banyak mendengar untuk memahami kebutuhan mad’u (mitra dakwah), sebelum menyampaikan solusi.
3. Hadits tentang Pentingnya Kaderisasi dan Regenerasi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Ballighū ‘annī wa law āyah.
Artinya: “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat.”
(HR. Al-Bukhari no. 3461)
Hadits ini menjadi landasan utama bagi pentingnya kaderisasi dan regenerasi dalam dakwah. Setiap dosen AIK yang telah mengikuti perkaderan diharapkan menjadi muballigh yang menyampaikan ajaran Islam dan nilai-nilai Kemuhammadiyahan kepada generasi berikutnya, terutama mahasiswa penerima beasiswa yang diharapkan aktif menjadi kader Persyarikatan.
4. Hadits tentang Sikap Mendengar yang Baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri fal-yaqul khairan aw liyaṣmut.
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Hadits ini mengajarkan bahwa kemampuan mendengar dan menahan diri dari ucapan yang tidak bermanfaat adalah ciri orang beriman. Hal ini menjadi pengingat bagi para dosen AIK agar dalam berdakwah lebih banyak mendengar dan memberikan solusi yang tepat, bukan sekadar retorika.
Penutup: Komitmen LPP AIK UMC ke Depan
Dengan berakhirnya Perkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini, LPP AIK UMC berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan pembinaan kepada para dosen AIK, serta mengoptimalkan peran mereka dalam mencetak kader-kader Persyarikatan yang unggul, berakhlak mulia, dan siap bersaing di dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.
Semoga seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi amal jariyah bagi semua pihak yang terlibat dan membawa keberkahan bagi UMC, masyarakat Cirebon, serta Persyarikatan Muhammadiyah secara keseluruhan. (*)


Tinggalkan Balasan