Abstrak
Artikel akademik ini membahas secara sintesis biografi dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sebagai materi inti dalam mata kuliah AIK III (Kemuhammadiyahan) di Universitas Muhammadiyah Cirebon. Melalui pendekatan historis-filosofis, artikel ini mengidentifikasi akar intelektual pemikiran Dahlan—yang terinspirasi oleh ulama pembaharu seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad Abduh—serta implementasinya dalam gerakan sosial-keagamaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ahmad Dahlan bertumpu pada lima pokok utama: (1) purifikasi tauhid berbasis Al-Qur’an dan Sunnah, (2) integrasi ilmu agama dan umum, (3) pemberdayaan amal sosial terstruktur, (4) kesetaraan gender, dan (5) akulturasi Islam dengan modernitas. Sintesis ini menjadi fondasi bagi mahasiswa Muhammadiyah dalam mengaktualisasikan Islam Berkemajuan di era kontemporer.
Kata Kunci: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, pembaruan Islam, AIK III, tauhid sosial
PENDAHULUAN
Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan core curriculum yang membedakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dengan institusi pendidikan umum lainnya. Khususnya AIK III yang fokus pada Kemuhammadiyahan, mata kuliah ini tidak hanya bertujuan mentransmisikan pengetahuan tentang organisasi, tetapi juga membentuk kesadaran kritis mahasiswa untuk menjadi agent of change sebagaimana cita-cita pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan. Di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pengajaran AIK III menekankan pemahaman utuh tentang Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam yang kontekstual dan transformatif.
Namun, seringkali mahasiswa mengalami kesulitan dalam menangkap benang merah antara biografi Ahmad Dahlan sebagai tokoh historis dengan relevansi pemikirannya untuk masa kini. Artikel ini bertujuan mensintesiskan kedua aspek tersebut—riwayat hidup dan gagasan—menjadi sebuah kerangka pemikiran yang terstruktur. Dengan memahami bahwa Ahmad Dahlan sendiri enggan menuliskan pemikirannya secara sistematis karena khawatir tulisannya justru dijadikan pedoman menggantikan Al-Qur’an dan Sunnah, maka upaya sintesis ini menjadi penting sebagai ijtihad akademik untuk menangkap esensi perjuangannya.
PEMBAHASAN
A. Genealogi Intelektual: Dari Muhammad Darwis Menjadi Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 di Kampung Kauman, Yogyakarta—sebuah kawasan santri yang berada di kompleks Masjid Agung Kesultanan. Beliau adalah putra dari K.H. Abu Bakar, khatib terkemuka di masjid tersebut, dan Siti Aminah, putri K.H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu Kesultanan. Dari garis keturunan, beliau masih terhubung dengan Maulana Malik Ibrahim, salah satu Wali Songo.
Peralihan nama dari Muhammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan terjadi saat menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah. Nama tersebut diberikan oleh gurunya, Sayyid Bakri Syatta, sebagai bentuk pengakuan atas kapasitas intelektualnya. Di Makkah inilah titik balik pemikiran Dahlan terjadi. Pada periode haji keduanya sekitar tahun 1903, beliau berjumpa dengan pemikiran para ulama pembaharu seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Meskipun corak perjuangan mereka berbeda, terdapat benang merah yang sama: kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, membuka pintu ijtihad, menolak taqlid, serta bersikap rasional dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan.
Perjumpaan intelektual ini tidak menjadikan Dahlan sekadar peniru. Justru, beliau menyaring dan mengkontekstualisasikan gagasan pembaruan tersebut ke dalam realitas masyarakat Jawa yang saat itu terjebak dalam kemiskinan, kebodohan, dan praktik-praktik sinkretis. Spirit inilah yang tertuang dalam pendirian Muhammadiyah pada 18 November 1912.
B. Landasan Teologis: Tafsir Transformatif atas Al-Qur’an
Ahmad Dahlan tidak pernah melepaskan gerakannya dari wahyu. Namun, beliau tidak membaca Al-Qur’an secara tekstual semata, melainkan tafsir yang transformatif dan berefek sosial. Beberapa surat menjadi inspirasi langsung bagi amal usaha yang didirikannya:
1. QS. Al-Ma’un (Surat Bantuan): Fondasi Philantropy Sosial
فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ۙ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ
Artinya: “Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 2-3)
Surat ini menjadi inspirasi utama Dahlan untuk mendirikan Penolong Kesengsaraan Umum (PKU)—yang kini berkembang menjadi Rumah Sakit dan Panti Asuhan Muhammadiyah. Baginya, mendustakan agama bukan hanya soal meninggalkan shalat, tetapi mengabaikan kepedulian sosial. Dengan mendirikan lembaga kesehatan dan panti asuhan, Dahlan “menafsirkan” surat Al-Ma’un menjadi institusi nyata.
2. QS. Al-‘Alaq (1-5): Fondasi Pendidikan Modern
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah iqra’ (bacalah) oleh Dahlan tidak dimaknai terbatas pada membaca teks keagamaan klasik, tetapi meliputi membaca alam, membaca realitas sosial, dan menguasasi ilmu pengetahuan umum. Atas dasar ini, beliau mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (1911) yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum secara terintegrasi—sebuah terobosan radikal di mana pendidikan pesantren saat itu hanya fokus pada kitab kuning.
3. QS. Ali ‘Imran (104): Fondasi Organisasi dan Kolektivitas
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Ayat ini menjadi landasan berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi modern. Dahlan menyadari bahwa dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidak bisa dilakukan secara individual, tetapi memerlukan sistem, manajemen, dan kolektivitas yang teratur.
C. Pokok-Pokok Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan
Berdasarkan analisis atas biografi, keteladanan, dan implementasi amal usahanya, setidaknya terdapat lima pilar utama pemikiran Ahmad Dahlan:
1. Purifikasi Tauhid (Tajdid fi al-‘Aqidah)
Dahlan prihatin dengan praktik-praktik yang mencampuradukkan ajaran Islam dengan budaya, mistisisme, dan sinkretisme Jawa (kejawen). Gerakannya adalah membersihkan akidah umat dari syirik, bid’ah, dan khurafat. Namun, berbeda dengan gerakan puritan yang kaku, Dahlan melakukan purifikasi dengan cara lembut dan edukatif, seperti meluruskan arah kiblat Masjid Agung Yogyakarta berdasarkan ilmu falak, mengundurkan waktu sahur mendekati subuh, dan segera berbuka saat magrib—sesuai tuntunan Rasulullah.
2. Integrasi Ilmu (Tajdid fi al-Manhaj al-Ta’limi)
Dahlan menolak dikotomi ilmu agama dan umum. Sekolah yang didirikannya tidak hanya mengajarkan fikih dan tauhid, tetapi juga matematika, ilmu bumi, dan bahasa asing. Prinsipnya adalah: al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Inilah yang membedakannya dari model pesantren tradisional maupun sekolah kolonial semata.
3. Amal Sosial Terstruktur (Tajdid fi al-‘Amal al-Ijtimai’)
Jika banyak ulama saat itu berdakwah dari atas mimbar, Dahlan memilih membangun infrastruktur sosial. Ia mendirikan rumah sakit, panti asuhan, sekolah, dan koperasi. Spiritnya adalah bahwa iman harus termanifestasi dalam aksi nyata yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Hadits Nabi menjadi rujukannya:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Daruquthni)
4. Kesetaraan dan Pemberdayaan Perempuan (Tajdid fi al-Nazhar ila al-Mar’ah)
Pada awal abad ke-20 ketika budaya patriarki sangat kuat membatasi ruang gerak perempuan, Dahlan justru mendorong istri dan para perempuan keluar rumah untuk belajar, berorganisasi, dan melakukan aksi sosial. Pada tahun 1917, beliau meletakkan dasar bagi berdirinya ‘Aisyiyah (organisasi perempuan Muhammadiyah) yang secara resmi lahir pada 1922. Langkah ini bahkan mendahului gerakan feminisme di Eropa. Siti Walidah (Nyai Dahlan) diajak keluar kota untuk berdakwah atas namanya sendiri, bukan sekadar pendamping suami.
5. Akulturasi dengan Modernitas (Tajdid fi al-Mu’amalah ma’a al-Hadatsah)
Dahlan tidak anti-Barat secara membabi buta. Ia bergabung dengan Budi Utomo (organisasi yang didirikan para priyayi terdidik) untuk belajar metode organisasi modern. Ia mengadopsi sistem kelas berjenjang (klasikal), meja kursi, papan tulis, dan metode pengajaran dari sekolah Belanda, tetapi diisi dengan muatan Islam. Bahkan, beliau sempat bersahabat dengan para misionaris Kristen dan suster, serta dokter Belanda untuk mempelajari sistem kesehatan modern yang kemudian diadopsi ke PKU. Prinsipnya jelas: ambil yang baik, tinggalkan yang buruk.
D. Sintesis: Tauhid sebagai Basis Peradaban
Jika disintesiskan, seluruh pemikiran Dahlan bermuara pada satu titik sentral: Tauhid sebagai basis peradaban. Tauhid tidak hanya diyakini dalam hati dan diucapkan lisan, tetapi harus diimplementasikan dalam tindakan kolektif yang membangun peradaban. Inilah yang oleh para pakar disebut sebagai teoantroposentrisme: segala aktivitas kemanusiaan (antropos) harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan (teos).
Dahlan mengajarkan bahwa surat Al-Ma’un tidak cukup dihafal, tetapi harus diwujudkan dalam rumah sakit. Surat Al-‘Asr tidak cukup dipahami, tetapi harus diwujudkan dalam disiplin organisasi dan manajemen modern. Dengan kata lain, iman tanpa amal sosial adalah hampa, dan amal sosial tanpa iman adalah buta.
Hal ini relevan dengan misi Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mencetak intelektual ulama dan ulama intelektual. Mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki sense of crisis terhadap realitas sosial di sekitarnya.
KESIMPULAN
K.H. Ahmad Dahlan adalah sosok pembaharu yang tidak hanya membaca zaman, tetapi berani mengubah zaman dengan landasan Al-Qur’an dan Sunnah. Biografinya menunjukkan bahwa seorang santri kampung Kauman mampu menjadi world figure karena keberaniannya berijtihad dan konsistensinya beramal.
Pokok-pokok pemikiran Ahmad Dahlan yang wajib diwarisi oleh mahasiswa AIK III di Universitas Muhammadiyah Cirebon adalah:
- Purifikasi akidah tanpa terjebak pada radikalisme.
- Integrasi ilmu sebagai jawaban atas dikotomi pendidikan.
- Filantropi terstruktur sebagai perwujudan ibadah sosial.
- Kesetaraan gender sebagai prinsip keadilan Islam.
- Akulturasi budaya sebagai strategi dakwah kontekstual.
Sebagai penutup, spirit Ahmad Dahlan dapat diringkas dalam kutipan yang sering diucapkannya: “Al-‘Aqlu al-muslimu laa yaqifu ‘inda al-haddi alladzi waqafa ‘indahu aslafuhu” (Akal seorang muslim tidak berhenti pada batas yang telah dicapai para pendahulunya). Maka, tugas mahasiswa Muhammadiyah adalah melanjutkan ijtihad Dahlan untuk konteks abad ke-21, dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
DAFTAR PUSTAKA
Mut’thi, Abdul, dkk. (2008). K.H. Ahmad Dahlan 1868-1923. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional dan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.
Pramono, R. (2024). Ide Pembaruan dan Resonansi Transformasi Sosial KH Ahmad Dahlan. PWM Jateng. Tersedia di: https://pwmjateng.com
RRI. (2023). Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan Pengaruhnya di Dunia Islam. RRI.co.id. Tersedia di: https://rri.co.id
Detik Hikmah. (2023). Kiprah KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional. detik.com. Tersedia di: https://www.detik.com/hikmah
Mulkhan, A.M. (2014). ‘Aisyiyah Reposition in the Reform Movement Problem. Suara ‘Aisyiyah.
Wikipedia. (2024). Ahmad Dahlan. Tersedia di: https://es.wikipedia.org (diakses untuk data biografis dasar).


Tinggalkan Balasan ke Rifdah Meiliana Dewi Batalkan balasan