CIREBON, 8 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-20 Ramadhan 1447 H, Ahad (8/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Tiga Kebahagiaan Orang Berpuasa” .
Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan keimanan.

Keutamaan Puasa: Dua Kebahagiaan yang Dijanjikan
Ustadz Ahmad Nurjanah mengawali kultum dengan mengingatkan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang dua kebahagiaan yang dijanjikan bagi orang yang berpuasa. Beliau mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Ketika kita melaksanakan ibadah saum Ramadhan ini dengan penuh keikhlasan dan keimanan kepada Allah, maka Allah menjanjikan dua kebahagiaan yang luar biasa. Bahkan jika kita renungkan lebih dalam, ada kebahagiaan ketiga yang juga kita rasakan, yaitu kebahagiaan di hari raya Idul Fitri,” papar Ustadz Ahmad.

Kebahagiaan Pertama: Saat Berbuka Puasa
Kebahagiaan pertama yang dirasakan orang berpuasa adalah saat berbuka. Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa kebahagiaan ini bukan sekadar karena hilangnya rasa lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu, karena keberhasilan menunaikan ibadah di siang hari.
“Orang-orang yang betul-betul berpuasa, ketika mendengar adzan Maghrib berkumandang, ada kebahagiaan tersendiri di hatinya. Ia berbuka dengan menikmati hidangan rezeki yang Allah berikan, sambil bersyukur karena telah diberi kekuatan menyelesaikan puasanya,” jelasnya.
Doa berbuka puasa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang rasa dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)
“Kebahagiaan berbuka ini adalah kebahagiaan duniawi yang wajar, namun mengandung nilai spiritual karena kita sadar bahwa kita telah berhasil menunaikan perintah Allah,” tambah Ustadz Ahmad.

Kebahagiaan Kedua: Hari Raya Idul Fitri
Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa di antara kebahagiaan berbuka dan kebahagiaan bertemu Allah, ada kebahagiaan lain yang juga sangat istimewa, yaitu kebahagiaan di hari raya Idul Fitri.
“Idul Fitri memiliki kebahagiaan tersendiri. Di satu sisi kita merasa sedih karena harus meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Namun di sisi lain, kita bahagia karena dapat mengagungkan asma Allah dengan bertakbir, serta merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa,” paparnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Di hari raya, kita dianjurkan memperbanyak doa memohon ampunan. Salah satu doa yang sangat dianjurkan adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk Lailatul Qadar, yang juga baik dibaca di hari raya:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
“Ini adalah doa yang sangat agung. Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemaaf agar memaafkan segala dosa dan kesalahan kita,” jelas Ustadz Ahmad.
Kebahagiaan Ketiga: Saat Bertemu dengan Allah di Surga
Kebahagiaan ketiga dan yang paling besar adalah ketika seorang hamba bertemu dengan Tuhannya di akhirat. Inilah puncak kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman, terutama mereka yang istiqamah dalam berpuasa.
“Kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah di surga nanti adalah kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ibadah puasa adalah ibadah yang Allah sendiri yang akan menilai dan membalasnya. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mendapat nilai keikhlasan dan ketulusan dari Allah,” ungkap Ustadz Ahmad dengan penuh haru.
Beliau mengutip hadits qudsi tentang keistimewaan puasa:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim)
“Subhanallah, puasa adalah ibadah yang sangat istimewa. Allah sendiri yang akan membalasnya. Maka jangan pernah kita merasa puas dengan amalan kita, teruslah berusaha ikhlas dan tulus dalam beribadah,” pesan Ustadz Ahmad.
Memasuki Sepuluh Malam Terakhir: Saatnya Meningkatkan Ibadah
Ustadz Ahmad juga mengingatkan bahwa kita telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah memberikan teladan kepada kita. Aisyah RA meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh (beribadah) di sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhannya di waktu lainnya.” (HR. Muslim)
“Mari kita contoh semangat Rasulullah. Tingkatkan ibadah kita, perbanyak shalat malam, perbanyak doa dan istigfar, perbanyak membaca Al-Qur’an, dan perbanyak sedekah. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan emas ini,” ajak Ustadz Ahmad.
Penutup: Meraih Kebahagiaan Hakiki
Menutup kultum, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah di sisa Ramadhan.
“Marilah kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk meraih tiga kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dengan penuh syukur, kebahagiaan di hari raya dengan penuh kemenangan, dan kebahagiaan saat bertemu Allah dengan penuh keridaan-Nya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-20 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang tiga kebahagiaan orang berpuasa, serta semakin termotivasi untuk memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan.


Tinggalkan Balasan