Tarawih Malam ke-28 di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Paparkan Empat Tipe Orang di Penghujung Ramadhan

CIREBON, 16 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-28 Ramadhan 1447 H, Senin (16/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Sunarya, M.M. , menyampaikan kultum yang menggugah dengan tema “Empat Tipe Orang di Akhir Ramadhan” .

Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan posisi diri masing-masing menjelang kepergian bulan penuh berkah ini.


Empat Tipe Manusia Menyikapi Akhir Ramadhan

Ustadz Sunarya mengawali kultum dengan mengamati fenomena yang terjadi di tengah masyarakat menjelang berakhirnya Ramadhan. Beliau memaparkan empat tipe manusia dalam menyikapi hari-hari terakhir bulan suci ini.

1. Tipe Biasa Saja (Tipe Lalai)

Tipe pertama adalah orang yang bersikap biasa saja. Mereka beranggapan bahwa Ramadhan tahun depan pasti akan bertemu lagi, sehingga tidak ada upaya khusus untuk memaksimalkan ibadah di sisa waktu yang ada.

“Mereka merasa tenang-tenang saja, seolah Ramadhan akan datang lagi tahun depan dengan pasti. Padahal, tidak ada jaminan umur kita sampai Ramadhan mendatang. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita,” papar Ustadz Sunarya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

2. Tipe Bergembira (Merdeka)

Tipe kedua adalah orang yang bergembira karena merasa “merdeka” dari kekangan ibadah. Selama Ramadhan, mereka merasa ibadahnya dilakukan dengan keterpaksaan, sehingga ketika Ramadhan hendak pergi, mereka justru bersukacita.

“Bagi mereka, Ramadhan dianggap sebagai bulan yang membebani. Puasa dianggap memberatkan, tarawih melelahkan. Ketika Ramadhan hampir berakhir, mereka bergembira karena akan kembali ke ‘kehidupan normal’ tanpa beban ibadah. Na’udzubillah, ini adalah tanda diterimanya ibadah yang keliru,” tegas Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam justru bersabda sebaliknya:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Kegembiraan orang beriman di akhir Ramadhan adalah karena telah menyelesaikan ibadah, bukan karena beban telah lepas,” jelasnya.

3. Tipe Perasaan Cemas (Tipe Duniawi)

Tipe ketiga adalah mereka yang merasa cemas karena hal-hal duniawi menjelang Idul Fitri. Mereka khawatir tidak bisa membeli baju baru, khawatir tidak punya uang untuk mudik, atau khawatir tidak bisa menyediakan hidangan lebaran.

“Kekhawatiran mereka adalah kekhawatiran duniawi. Padahal, yang lebih penting dikhawatirkan adalah apakah ibadah kita diterima atau tidak. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sendiri khawatir meskipun telah dijamin surga. Beliau banyak berdoa dan beribadah hingga kaki bengkak,” ujar Ustadz Sunarya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Asy-Syura: 36)

4. Tipe Khawatir (Tipe Spiritual)

Tipe keempat adalah mereka yang memiliki kekhawatiran spiritual yang mulia. Mereka khawatir karena tiga hal:

  • Khawatir ibadahnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Khawatir tidak akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.
  • Khawatir tidak akan mendapatkan Lailatul Qadar di bulan-bulan lain setelah Ramadhan pergi.

“Kekhawatiran inilah yang patut kita miliki. Para salafus saleh, setelah beribadah dengan sungguh-sungguh, justru merasa khawatir apakah amalan mereka diterima. Mereka menangis karena takut ibadahnya ditolak,” papar Ustadz Sunarya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang sifat orang beriman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang ayat ini: “Apakah mereka yang dimaksud adalah orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr?” Rasulullah menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ

“Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka takut bahwa amalan mereka tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)


Hakikat Meninggalkan Ramadhan

Di penghujung kultum, Ustadz Sunarya menjelaskan hakikat meninggalkan bulan Ramadhan. Ramadhan pergi bukan untuk disesali secara berlebihan, tetapi untuk diambil hikmahnya.

“Hakikat kita meninggalkan Ramadhan adalah untuk membesarkan asma Allah dengan takbir di hari raya, dan untuk memperkuat keimanan sebagai bekal menjalani sebelas bulan ke depan. Ramadhan telah melatih kita. Sekarang saatnya kita membuktikan bahwa latihan itu membuahkan hasil,” jelasnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

“Setelah Ramadhan, kita diperintahkan bertakbir sebagai wujud syukur dan pengagungan kepada Allah. Kita juga harus mempertahankan kualitas iman dan takwa yang telah kita bangun selama sebulan penuh. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita kembali kepada kebiasaan buruk,” pesan Ustadz Sunarya.


Penutup: Refleksi dan Harapan

Menutup kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk merenungkan tipe mana yang paling mendekati diri kita.

“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera pergi. Tanyakan pada diri kita: termasuk tipe manakah kita? Jangan menjadi orang yang lalai, jangan menjadi orang yang bergembira karena beban lepas, jangan menjadi orang yang cemas karena urusan dunia. Jadilah orang yang khawatir secara spiritual: khawatir ibadah tidak diterima, khawatir tidak bertemu Ramadhan lagi, khawatir kehilangan Lailatul Qadar. Dengan kekhawatiran itulah kita akan terus berusaha memperbaiki diri.”

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Salat Tarawih malam ke-28 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, tersentuh oleh ajakan untuk merefleksikan diri di penghujung Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam ke-28 di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Paparkan Empat Tipe Orang di Penghujung Ramadhan”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Sebuah pengingat yang menyentuh agar kita tidak terjebak dalam euforia selebrasi, melainkan tetap rendah hati dan menjaga kualitas takwa di sebelas bulan berikutnya.