CIREBON, 17 Maret 2026 – Masjid Ad-Din Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Kalitanjung, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-29 Ramadhan 1447 H, Selasa (17/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Abdul Aziz Fakhrurozi, S.H., menyampaikan kultum yang sangat penting dengan tema “Zakat Fitrah: Membersihkan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah” .
Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak tausiyah yang memberikan pemahaman mendalam tentang hikmah dan fungsi zakat fitrah menjelang Idul Fitri.

Zakat Fitrah: Ibadah yang Melekat dengan Ramadhan
Ustadz Abdul Aziz mengawali kultum dengan menjelaskan bahwa zakat fitrah adalah ibadah yang secara khusus terkait dengan bulan Ramadhan. Ibadah ini menjadi penutup rangkaian ibadah di bulan suci dan memiliki kedudukan yang sangat penting.
“Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi ia memiliki makna spiritual yang dalam. Ia adalah pembersih diri, penyempurna puasa, dan wujud syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” papar Ustadz Abdul Aziz.
Lima Poin Utama Zakat Fitrah
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Abdul Aziz memaparkan lima poin utama tentang zakat fitrah yang menjadi hikmah dan fungsi pensyariatannya.
1. Pembersih Diri (Tazkiyatun Nafs)
Poin pertama dan paling utama adalah fungsi zakat fitrah sebagai pembersih diri. Zakat fitrah berfungsi untuk mencuci dosa-dosa kecil, membersihkan lisan yang tidak terjaga (perkataan sia-sia), dan menghilangkan sifat kikir yang mungkin muncul selama menjalankan ibadah puasa.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud)
“Selama berpuasa, mungkin tanpa sadar kita melakukan kesalahan seperti berkata sia-sia, bergunjing, atau perbuatan lain yang mengurangi kesempurnaan puasa. Zakat fitrah inilah yang menjadi pembersihnya,” jelas Ustadz Abdul Aziz.
2. Kembali ke Fitrah
Poin kedua, sesuai dengan namanya, zakat fitrah bertujuan mengembalikan manusia ke keadaan suci (fitrah) setelah sebulan penuh menempa diri di bulan Ramadhan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)
“Setelah sebulan berpuasa, kita kembali kepada fitrah kesucian. Zakat fitrah menjadi simbol dan sarana untuk meraih kesucian itu,” paparnya.
3. Wujud Kepedulian Sosial
Poin ketiga, zakat fitrah menjadi jembatan antara si kaya dan si miskin agar semua umat muslim dapat merasakan kegembiraan di hari raya tanpa ada yang kelaparan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)
“Dengan zakat fitrah, orang kaya diajak untuk berbagi kebahagiaan. Orang miskin pun bisa merayakan Idul Fitri dengan layak. Inilah keindahan Islam yang merangkul semua lapisan masyarakat,” tegas Ustadz Abdul Aziz.
4. Penyempurna Ibadah Puasa
Poin keempat, zakat fitrah berfungsi sebagai penyempurna bagi kekurangan-kekurangan yang terjadi selama berpuasa. Ibarat sujud sahwi dalam shalat yang menambal kekurangan, zakat fitrah menjadi penambal kekurangan puasa kita.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
“Kita tidak tahu apakah puasa kita sempurna atau tidak. Dengan menunaikan zakat fitrah, kita berharap Allah menyempurnakan kekurangan puasa kita dan menerima amal ibadah kita,” jelasnya.
5. Simbol Syukur
Poin kelima, zakat fitrah adalah ungkapan terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas nikmat umur dan kesehatan sehingga bisa menyelesaikan kewajiban puasa Ramadhan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
“Kita bersyukur masih diberi umur, kesehatan, dan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Wujud syukur itu antara lain dengan menunaikan zakat fitrah,” papar Ustadz Abdul Aziz.

Waktu dan Besaran Zakat Fitrah
Ustadz Abdul Aziz juga mengingatkan tentang waktu pelaksanaan zakat fitrah. Beliau mengutip hadits Ibnu Umar RA:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ… وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum… dan beliau memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang keluar (pergi) untuk shalat (Id).” (HR. Bukhari & Muslim)
“Waktu utama membayar zakat fitrah adalah sebelum shalat Idul Fitri. Boleh juga dibayarkan sejak awal Ramadhan, tetapi yang paling utama adalah mendekati waktu Id,” jelasnya.
Besaran zakat fitrah adalah 1 sha’ makanan pokok, yang jika dikonversi setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kg beras. Dalam praktiknya, zakat fitrah juga boleh dikonversi dalam bentuk uang senilai makanan pokok tersebut demi kemudahan dan kemanfaatan bagi penerima zakat.
Golongan Penerima Zakat
Ustadz Abdul Aziz juga mengingatkan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Beliau mengutip QS. At-Taubah ayat 60:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, para amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)
“Dari delapan golongan ini, yang paling utama menerima zakat fitrah adalah fakir miskin. Karena itu, pastikan zakat fitrah kita sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan,” pesan Ustadz Abdul Aziz.
Penutup: Menyempurnakan Ibadah dengan Zakat Fitrah
Menutup kultum, Ustadz Abdul Aziz mengajak jamaah untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas dan tepat waktu.
“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Mari kita sempurnakan ibadah puasa kita dengan menunaikan zakat fitrah. Jangan sampai kita termasuk orang yang berpuasa tetapi tidak membersihkan diri. Tunaikanlah zakat fitrah dengan ikhlas, tepat waktu, dan kepada yang berhak. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, membersihkan jiwa kita, dan mengembalikan kita kepada fitrah kesucian. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-29 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang hikmah dan fungsi zakat fitrah, sehingga siap menunaikan kewajiban ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan menjelang Idul Fitri.


Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan