CIREBON, 17 Maret 2026 – Masjid Annur Sangkana Muhammadiyah Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-29 Ramadhan 1447 H, Selasa (17/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum perpisahan yang menyentuh hati.
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat diterimanya ibadah serta pentingnya istiqamah setelah Ramadhan berlalu.
Permohonan Maaf di Penghujung Ramadhan
Mengawali kultum, Ustadz Yandi Heryandi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jamaah atas segala kekurangan selama menjadi imam dan khatib di masjid Annur Sangkana sepanjang bulan Ramadhan.
“Di penghujung Ramadhan ini, izinkan saya pribadi menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh jamaah sekalian. Jika selama menjadi imam dan khatib ada kata-kata yang kurang berkenan, bacaan yang kurang sempurna, atau sikap yang kurang tepat, saya mohon dimaafkan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua,” ujar Ustadz Yandi dengan penuh ketulusan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan saling memaafkan:
وَلَا يَزِيدُ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Dan Allah tidak akan menambah seorang hamba dengan pemberian maafnya, kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)
Jangan Hanya Mendapat Lapar dan Dahaga
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi mengingatkan sebuah hadits yang sangat terkenal tentang orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
“Jangan sampai kita termasuk golongan ini. Puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh jangan hanya menghasilkan rasa lapar dan haus. Kita harus meraih esensi puasa yang sesungguhnya, yaitu ketakwaan,” tegas Ustadz Yandi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tanda Diterimanya Ibadah
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa diterima atau tidaknya ibadah seseorang tidak bisa diketahui saat ibadah itu dilakukan, melainkan setelahnya. Ini adalah konsep penting yang harus dipahami setiap muslim.
“Diterimanya ibadah kita itu dilihat setelah ibadahnya, bukan saat ibadahnya. Banyak orang yang shalatnya khusyuk di bulan Ramadhan, tetapi setelah Ramadhan ia kembali kepada kebiasaan buruk. Sebaliknya, ada yang biasa-biasa saja saat Ramadhan, tetapi setelahnya ia justru meningkat kualitas ibadahnya. Yang kedua inilah yang lebih baik,” paparnya.
Para salafus saleh, setelah beribadah dengan sungguh-sungguh, justru merasa khawatir apakah amalan mereka diterima. Mereka menangis karena takut ibadahnya ditolak.
Aisyah RA meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang ayat:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjawab:
هُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
“Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka takut bahwa amalan mereka tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)
Tanda-Tanda Diterimanya Ibadah
Ustadz Yandi kemudian menjelaskan beberapa tanda bahwa ibadah seseorang diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
1. Menjadi Lebih Baik Setelah Beribadah
“Bila seseorang setelah beribadah kemudian menjadi lebih baik, lebih saleh, dan semakin semangat dalam beribadah, itu adalah tanda bahwa ibadahnya diterima. Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih rajin shalat, lebih dermawan, lebih sabar, dan lebih peduli kepada sesama, insya Allah itu pertanda baik,” jelasnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan buruk.” (QS. Hud: 114)
2. Istiqamah dalam Beribadah
Tanda kedua adalah istiqamah, yaitu konsisten dalam menjalankan ketaatan, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga di bulan-bulan lainnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (terus-menerus) dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Istiqamah dalam beribadah adalah bukti bahwa Ramadhan telah membekas dalam jiwa kita. Puasa telah melatih kita, dan setelah Ramadhan kita harus mempertahankan kualitas ibadah yang telah kita bangun,” pesan Ustadz Yandi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)
Penutup: Menjaga Semangat Pasca Ramadhan
Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan berlalu.
“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Jangan biarkan semangat ibadah kita ikut pergi bersama Ramadhan. Pertahankan kualitas shalat, perbanyak sedekah, jaga lisan, dan teruslah berbuat baik. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin,” pungkasnya.
Beliau juga mengingatkan untuk memperbanyak doa di malam-malam terakhir ini, terutama doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
Salat Tarawih malam ke-29 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, tersentuh oleh pesan-pesan perpisahan yang disampaikan dengan penuh kehangatan. Suasana haru menyelimuti masjid ketika Ustadz Yandi pamit dan memohon maaf kepada seluruh jamaah.


Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan