CIREBON — Jumat, 28 November 2025, Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon menggelar salat Jumat yang bertindak sebagai imam dan khatib Ustadz Dedi Ahyadi. Dalam khutbahnya, Ustadz Dedi mengajak jamaah untuk senantiasa menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Inti pesan beliau: hidayah adalah nikmat terbesar dari Allah, dan tanpa hidayah manusia akan mudah tersesat, meskipun kaya ilmu dan harta.
Hidayah: Anugerah Ilahi sebagai Penuntun Hidup
Menurut Ustadz Dedi, hidayah bukan hanya sekadar petunjuk lahir, tetapi juga petunjuk hati, akhlak, dan jalan hidup. Sebagaimana dinyatakan dalam Al‑Qur’an:
«وَمَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي»
“Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk (hidayah) datang dari Allah. Oleh karena itu, hidayah harus disyukuri dan dijaga. Hidayah memungkinkan manusia mengenal kebenaran, beriman, beribadah, dan menjalani hidup sesuai ajaran Islam.

Penolakan terhadap Hidayah: Sebab – Sebab Kesesatan
Ustadz Dedi menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menghalangi seseorang menerima dan mempertahankan hidayah:
- Kesombongan, seperti yang diperlihatkan oleh tokoh zalim dalam sejarah. Contohnya disebut dalam Al-Qur’an: orang-orang yang sombong sulit menerima kebenaran. Contoh kesombongan dalam Al-Qur’an ditunjukkan melalui kisah Iblis dan Fir’aun, dua tokoh zalim yang menolak kebenaran karena kesombongan:
Iblis
Iblis menolak sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia, sombong, dan membangkang perintah Allah.
Surah Al-Baqarah ayat 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
Fir’aun
Fir’aun menolak ajakan Nabi Musa untuk beriman kepada Allah. Ia menganggap dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi.
Surah An-Nazi’at ayat 24:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
Artinya:
“Lalu dia (Fir‘aun) berkata: ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi’.”
Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah penghalang utama datangnya hidayah, bahkan ketika kebenaran sudah jelas di depan mata. - Fanatisme buta terhadap manusia atau budaya, sehingga lebih mengutamakan pemimpin, adat, atau tradisi ketimbang syariat — bahkan jika bertentangan dengan Islam.
- Syirik, bid‘ah, dan khurafat — mengagungkan selain Allah, mempercayai takhayul, adat, atau ritual yang menyimpang.
- Hawa nafsu — bila nafsu tak dikendalikan, hidayah bisa tersingkir oleh keinginan dunia.
- Takut celaan masyarakat — sehingga malu menjalankan syariat atau menyebarkan kebenaran.
- Pengaruh lingkungan dan teman dekat — bila teman akrab membawa kepada kemaksiatan, maka mudah terjerumus. Seperti diisyaratkan dalam Al‑Qur’an dalam surah Al-Furqān (ayat 28–29), bahwa teman dekat bisa menjadi jalan kesesatan jika membawa buruk.
Lingkungan, terutama teman dekat, sangat besar pengaruhnya terhadap akhlak, kebiasaan, dan pilihan hidup seseorang. Bila teman akrab membawa kepada kebaikan, seseorang akan terdorong melakukan kebaikan. Sebaliknya, jika teman dekat gemar melakukan kemaksiatan dan menjauh dari petunjuk Allah, ia bisa menjerumuskan kita pada kesesatan.
Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Furqān ayat 28–29:
الآيات:
يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (٢٨) لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا (٢٩)
Artinya:
“Celakalah aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika peringatan itu datang kepadaku. Dan setan adalah pengkhianat bagi manusia.” (QS. Al-Furqān: 28–29)
Uraian:
Ayat ini menggambarkan penyesalan seseorang di akhirat karena salah memilih teman dekat. Teman itu bukan hanya menjauhkannya dari kebenaran, tapi juga menyesatkannya dari adz-dzikr (Al-Qur’an dan petunjuk Allah). Di saat itulah ia menyadari bahwa persahabatan yang buruk berbuah penyesalan.
Pelajaran:
Pilih teman yang bisa mengingatkan kita kepada Allah.
Hidayah dalam Syariat Islam
Ustadz Dedi mengingatkan bahwa hidayah harus diwujudkan dalam tindakan nyata: taat menjalankan syariat, berakhlak mulia, dan berdakwah. Tanpa hidayah, bahkan kekayaan, ilmu, atau kedudukan tinggi tak menjamin keselamatan akhirat — karena kondisi hati dan akhlak yang rusak akan menjerumuskan ke dalam kesesatan.
Beliau menekankan bahwa Islam sebagai syariat hidup mengajarkan keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal — dan hidayah menjadi pondasi. Tanpa hidayah, manusia mudah terombang-ambing dalam budaya, tradisi, atau keinginan dunia.
Pesan Penutup: Berusahalah Mempertahankan dan Menyebarkan Hidayah
- Jauhi lingkungan yang mendorong maksiat.
- Lingkungan dan teman adalah cermin, maka bergaullah dengan orang-orang yang saleh.
Hadis pendukung :
“Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa dia berteman.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Di akhir khutbah, Ustadz Dedi menyeru kepada jamaah untuk selalu memohon hidayah dalam setiap doa, memperkuat iman dengan ibadah dan amal saleh, serta saling mengingatkan dalam kebenaran. “Semoga kita tidak termasuk orang yang ditolak hidayahnya karena kesombongan, tapi termasuk hamba-hamba yang mendapat petunjuk dan rahmat dari Allah,” tuturnya.


Tinggalkan Balasan