CIREBON, 10 April 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, (10/4/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Apt. Didin Ahidin, M.Farm., menyampaikan khutbah yang menggetarkan hati jemaah dengan tema utama mengajak kepada rasa syukur dan peningkatan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam khutbahnya, Ustadz Didin menegaskan bahwa seluruh ibadah, termasuk salat Jumat dan puasa Ramadan yang baru saja dilalui, memiliki tujuan utama yang sama, yaitu meraih predikat muttaqin (orang-orang bertakwa).

Beliau mengawali khutbah dengan membacakan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 21,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
“Allah memerintahkan kita untuk menyembah kepada-Nya semata, dan tujuan akhir dari perintah tersebut adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa,” ujar Ustadz Didin. “Demikian pula puasa Ramadan yang kita laksanakan, tujuannya sama: la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa).”

Setelah Taqwa, Lalu Apa?
Ustadz Didin kemudian melontarkan pertanyaan mendasar yang merenung, “Jika takwa sudah kita peroleh di bulan Ramadan, lalu bagaimana setelah masuk bulan Syawal? Syawal adalah bulan peningkatan, bukan bulan kemunduran.”
Beliau menjelaskan bahwa ada empat langkah strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan ketakwaan pasca-Ramadan:
1. Al-Mu’ahadah (Perjanjian dengan Allah)
“Setiap hari dalam salat kita mengucapkan janji dalam Surat Al-Fatihah: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in – Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Itu adalah perjanjian kita dengan Allah. Jangan pernah ingkar janji.”
2. Al-Muraqabah (Merasa Dekat dan Diawasi Allah)
Ustadz Didin mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hadid: 4,
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Artinya: “Dan Dia (Allah) bersama kalian di mana pun kalian berada.”
“Jika kita merasa selalu diawasi Allah, maka kita akan senantiasa mengingat-Nya dalam setiap langkah. Inilah puncak ketakwaan,” terangnya.
3. Al-Muhasabah (Introspeksi Diri)
“Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihisab,” pesan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Arab: حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Artinya: “Hisablah (introspeksi) diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
“Apakah amal saleh kita lebih banyak daripada amal salah? Atau sebaliknya? Mari kita beristigfar dan memperbaiki diri,” ajak Ustadz Didin.
4. Al-Mujahadah (Bersungguh-sungguh)
Menutup nasihatnya, beliau membacakan QS. Al-‘Ankabut: 69,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujahadah) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
“Mujahadah adalah kesungguhan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan empat hal ini—mu’ahadah, muraqabah, muhasabah, dan mujahadah—ketakwaan kita akan kokoh, bukan hanya di Ramadan, tetapi selamanya,” pungkas Ustadz Apt. Didin Ahidin, M.Farm.
Jemaah pun tampak haru dan bersemangat, meninggalkan masjid dengan tekad baru untuk terus bersyukur dan meningkatkan kualitas ibadah di bulan Syawal serta seterusnya.
Redaktur: Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan