CIREBON, 15 Mei 2026 — Suasana haru dan khusyuk menyelimuti Masjid Raya UMC (Universitas Muhammadiyah Cirebon) Watubelah pada pelaksanaan salat Jumat, 15 Mei 2026. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan tampak larut dalam renungan mendalam ketika Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. menyampaikan khutbah dengan tema yang menggugah: “Antara Iman dan Logika (di balik Peristiwa Kurban).”
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Somantri mengajak jamaah untuk merenungkan pergulatan batin terbesar seorang hamba: apakah ia lebih percaya pada logikanya sendiri atau lebih percaya kepada Tuhannya. Menurutnya, hidup manusia sering berada di persimpangan antara apa yang masuk akal dan apa yang diperintahkan Allah.
“Di situlah letak ujian terbesar seorang hamba,” tegas Ustadz Somantri dari atas mimbar.
Kisah Ibrahim dan Ismail: Kemenangan Iman atas Logika
Ustadz Somantri mengawali khutbahnya dengan mengisahkan Nabi Ibrahim yang setelah puluhan tahun menanti anak, di usia senja, Allah menghadiahkan seorang putra bernama Ismail. Namun, ketika cinta itu sedang tumbuh paling dalam, justru Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih putranya.
“Secara logika, itu tidak masuk akal. Itu bertentangan dengan perasaan. Itu menghancurkan harapan,” ujar khatib.
Tetapi, lanjutnya, Nabi Ibrahim tidak berkata, “Ya Allah, apa alasannya?” Beliau tidak menawar, tidak membantah, tidak mencari pembenaran logika. Allah mengabadikan dialog agung ini dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102:
Arab:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
Latin: Yā bunayya innī arā fī al-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā.
Artinya: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Dengan luar nalar dan menjungkirbalikkan logika, Ismail menjawab:
Arab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Latin: Yā abati if‘al mā tu’mar, satajidunī in syā’allāhu minaṣ-ṣābirīn.
Artinya: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
“Ini bukan sekadar kisah penyembelihan. Ini adalah kisah kemenangan iman atas logika!” seru Ustadz Somantri dengan penuh penghayatan.
Logika Berhitung, Iman Berserah
Khatib menjelaskan bahwa logika kerap membisikkan asumsi-asumsi manusiawi: “Kalau memberi, hartaku berkurang; kalau berkurban, uang habis; kalau taat total, nanti aku rugi.” Tetapi iman berkata sebaliknya: Allah tidak pernah salah, apa yang diberikan di jalan Allah tidak akan hilang, dan ketaatan selalu membawa keberkahan.
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 92:
Arab:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Latin: Lan tanālū al-birra ḥattā tunfiqū mimmā tuḥibbūn(a).
Artinya: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Kurban Bukan Sekadar Hewan, tapi Ego
Ustadz Somantri menegaskan bahwa kurban bukanlah tentang hewan semata. Kurban yang sesungguhnya adalah tentang ego yang dipotong, kesombongan yang disembelih, dan cinta dunia yang dilepaskan.
“Ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau di leher Ismail, sebenarnya yang sedang diuji bukan kekuatan tangan yang kekar, tetapi kekuatan iman. Apakah Allah lebih kita cintai daripada apa pun di dunia ini?” ujarnya.
Yang harus “dikurbankan” bukanlah kambing atau sapi, tetapi: ambisi yang haram, hubungan yang melalaikan, kebiasaan buruk, gengsi, dan dosa yang terus dipelihara.
Iman Bukan Berarti Semua Harus Dimengerti
Dalam khutbahnya, khatib juga mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
Arab:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Latin: Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā’uhā wa lākin yanāluhu at-taqwā minkum.
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Makna dari ayat ini, jelas Ustadz Somantri, bahwa ukuran kurban bukanlah seberapa mahal hewannya, seberapa besar ukurannya, atau seberapa banyak puji manusia. Tetapi seberapa ikhlas hati, seberapa tulus pengorbanan, dan seberapa besar cinta kepada Allah.
“Logika membuat manusia berhitung, tetapi iman membuat manusia berserah. Ibrahim membuktikan: ketika manusia rela kehilangan karena Allah, Allah mengganti dengan kemuliaan,” tuturnya.
Setiap Kita adalah Ibrahim, Setiap Kita Punya Ismail
Menjelang penutup, khatib menyampaikan pesan mendalam bahwa setiap Muslim adalah ‘Ibrahim’ dan setiap Ibrahim punya ‘Ismail’-nya sendiri. Ismail bisa berupa harta, gelar, ego, jabatan, atau sesuatu yang paling dicintai dan dipertahankan di dunia ini.
“Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail. Karena hakikatnya semua adalah milik Allah,” pesannya.
Jangan merendahkan orang lain dengan harta, jabatan, dan gelar karena ego. Karena di hadapan Allah, hanya takwa yang diterima-Nya.
Penutup dengan Ayat Al-Qur’an
Khatib menutup khutbahnya dengan dua ayat suci Al-Qur’an. Pertama, QS. Al-An’am ayat 162:
Arab:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Latin: Qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn(a).
Artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS. Al-An’am: 162)
Kedua, QS. Al-Kautsar ayat 2:
Arab:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Latin: Fa ṣalli lirabbika wanḥar.
Artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Doa dan Harapan
Di akhir khutbah, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan keteguhan iman seperti Nabi Ibrahim dan keikhlasan seperti Nabi Ismail kepada seluruh jamaah, sehingga mampu mengaplikasikan nilai-nilai kurban dalam kehidupan sehari-hari dan tergolong sebagai orang-orang yang bertakwa.
Salat Jumat dua rakaat yang dipimpinnya berlangsung tertib dan lancar. Jamaah tampak meninggalkan masjid dengan hati yang tergugah, membawa pesan mendasar: Iman bukan berarti semua harus dimengerti, tetapi tetap taat meski belum mengerti.
Redaksi: Tim Liputan Masjid Raya UMC Watubelah


Tinggalkan Balasan