DALAM upaya memperkuat pemahaman keagamaan dan membentuk karakter jamaah yang berakhlak mulia, Masjid Umar bin Khattab Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah Kabupaten Cirebon kembali menggelar Pengajian Rutin Malam Senin. Acara yang dilaksanakan pada Ahad malam, 25 Oktober 2026 ini menghadirkan Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai penceramah utama. Kajian kali ini membahas Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya Bab 28 mengenai perintah untuk merahasiakan atau menutup aib seorang Muslim.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Yandi menekankan pentingnya menjaga lisan dan sikap tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan informasi. Beliau mengaitkan materi dengan fenomena maraknya berita bohong (hoaks) di era digital yang sering kali menimpa kehormatan seseorang. “Islam sangat melarang keras penyebaran berita buruk, terlebih lagi jika itu adalah tuduhan palsu. Kita diingatkan oleh peristiwa Ashabul Ifki atau berita bohong yang menimpa keluarga Nabi, yaitu tuduhan terhadap Sayyidah Aisyah r.a., yang pelakunya digolongkan sebagai orang-orang munafik,” ujar beliau di hadapan jamaah.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Dalam paparannya, Ustadz Yandi membacakan firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 19 sebagai landasan utama kajian:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini menjadi peringatan tegas bahwa menyebarkan keburukan, terlebih yang belum terbukti kebenarannya, adalah dosa besar yang akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat.
Selain itu, beliau juga mengutip QS. Al-Ahzab ayat 72 untuk menjelaskan tentang hakikat amanah dan kezaliman manusia:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa kezaliman terbagi menjadi dua: kezaliman yang disengaja dan kesalahan yang tidak disengaja. Oleh karena itu, sebagai manusia yang telah menerima amanah, kita wajib berhati-hati, terutama dalam menjaga rahasia dan aib orang lain.
Empat Hadits Penting dari Abu Hurairah
Mengacu pada kitab Riyadhus Shalihin, Ustadz Yandi memaparkan empat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. sebagai pedoman praktis bagi para jamaah :
- Balasan bagi yang Menutup Aib: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba yang lain di dunia, kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim). Beliau menambahkan, jika aib sudah telanjur bocor, maka hendaknya berita tersebut disamarkan (as-satru) dan tidak diungkit-ungkit kembali.
- Larangan Berbuat Dosa Terang-terangan: “Setiap umatku akan dimaafkan oleh Allah dari segala dosa, kecuali orang yang berbuat dosa secara terang-terangan…” (Muttafaqun ‘alaih). Orang yang melakukan dosa di malam hari lalu menceritakannya di siang hari padahal Allah telah menutupinya, termasuk golongan yang membuka tabir Allah.
- Hukuman bagi Budak yang Berzina: Hadits riwayat Muttafaqun ‘alaih menjelaskan tentang hukuman cambuk bagi hamba sahaya perempuan yang berzina hingga tiga kali, dan pada kali ketiga diperintahkan untuk dijual meskipun dengan harga seutas tali.
- Larangan Mencaci Maki Pelaku Maksiat: Diceritakan seorang pria pemabuk yang dihukum oleh Nabi ﷺ. Setelah hukuman selesai, sebagian orang mencaci maki orang tersebut. Nabi ﷺ melarangnya dengan sabda, “Jangan kalian mengatakan demikian, jangan kalian membantu setan atas dirinya.” (HR. Bukhari).
Pesan untuk Para Jama’ah
Menutup rangkaian kajian, Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., berpesan agar senantiasa menjaga aurat, baik secara hakiki (anggota tubuh yang wajib ditutup) maupun secara maknawiyah (aib dan kejelekan diri maupun orang lain). Beliau juga menekankan bahwa orang yang memiliki utang atau sedang dalam kesulitan tidak boleh aibnya disebarkan kepada orang lain.
“Jadilah orang yang cerdas dalam bermedia sosial. Jika menemukan informasi yang sifatnya aib orang lain, tahan dulu, jangan langsung di-share. Lakukan tabayyun terlebih dahulu. Menutup aib saudara muslim adalah jalan untuk mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat,” pungkas beliau.
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa, dengan harapan agar para jamaah dapat mengamalkan ilmu yang didapat dan menjadi pribadi yang lebih menjaga lisan serta kehormatan diri dan orang lain. (*)
Peliput : Berry


Kirim Tanggapan