METRO, LAMPUNG — Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) secara resmi menetapkan sejumlah keputusan strategis dalam Tanwir ke-1 Tahun 2026 yang berlangsung pada 27–29 Rabiul Akhir 1448 H / 8–10 Oktober 2026 di Universitas Muhammadiyah Metro, Kota Metro, Lampung. Mengusung tema “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan”, musyawarah nasional ini menandai langkah transformasi Hizbul Wathan dari “The Real Scout” menuju “Modern Scout”.
Melalui Surat Keputusan Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Nomor 212/KEP/Kwarpus/A/X/2026, Tanwir ke-1 merumuskan paradigma Kepanduan Berkemajuan sebagai landasan pengembangan gerakan pada abad kedua. Paradigma ini bertujuan memperkuat karakter, kecakapan hidup, literasi digital, hingga kepedulian lingkungan tanpa menghilangkan jati diri dan prinsip dasar kepanduan Muhammadiyah.

Tujuh Arah Kebijakan Strategis
Dalam Sidang Pleno dan Sidang Komisi, disepakati tujuh arah kebijakan serta rekomendasi strategis organisasi. Pertama, Penguatan Organisasi dan Digitalisasi Tata Kelola, meliputi konsolidasi struktur kwartir dari tingkat Pusat hingga Qabilah, percepatan digitalisasi administrasi, pendataan anggota, pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) digital, serta penjajakan integrasi dengan aplikasi MASA.
Kedua, penetapan Enam Program Prioritas nasional yang terdiri dari: HW Disaster Response melalui edukasi dan pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB); Green Scout Movement dengan aksi pelestarian lingkungan seperti pengelolaan sampah, bank sampah, dan penanaman pohon; Internalisasi Literasi Digital dan Rintisan Aksi Lingkungan; Kegiatan Milad/Kemah Bakti sebagai wadah kreativitas bagi Pandu Penghela dan Penuntun; Digital Scout Talent untuk pengembangan bakat dan potensi digital anggota; serta Temu Qabilah dan Kafilah Tahunan guna memperkuat silaturahmi dan konsolidasi.

Ketiga, Pembaruan Kurikulum dan Sistem Pendidikan-Pelatihan dengan penyempurnaan kurikulum yang mencakup AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan), Prinsip Dasar dan Metode Kepanduan (PDK-MK), teknologi digital, serta eko-kepanduan. Sistem pelatihan dikembangkan secara berjenjang, berkelanjutan, dan berbasis kompetensi dengan memanfaatkan model blended learning.
Keempat, Transformasi Menuju Modern Scout melalui penyediaan materi kepanduan digital (e-book/PDF) serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung proses pembelajaran, pendataan, dan peningkatan kompetensi pelatih. Kelima, Kemandirian Ekonomi dan Keberlanjutan melalui pengembangan HW Business Center, unit usaha, dan koperasi, disertai kajian ulang kebijakan seragam dan atribut organisasi.
Keenam, Perluasan Kemitraan dan Pemerataan Wilayah dengan memperkuat kerja sama bersama Majelis Dikdasmen, Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), instansi pemerintah, serta mendorong pemerataan pengembangan gerakan di seluruh Indonesia, khususnya wilayah Indonesia Timur. Ketujuh, Rekomendasi Strategis Internal dan Eksternal yang mencakup penguatan Qabilah HW di sekolah, pesantren, dan PTMA, serta koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terkait pengakuan pendidikan kepanduan HW dalam jalur nonformal.

Semangat Ta’awun dalam Kepanduan Berkemajuan
Paradigma Kepanduan Berkemajuan yang digagas Hizbul Wathan sejatinya berakar pada nilai-nilai fundamental Islam tentang kolaborasi dan saling menguatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini mengandung prinsip ta’awun yang menjadi landasan etis setiap bentuk kerja sama organisasi. Imam Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah bagi seluruh makhluk untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, saling mendorong untuk melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi larangan-Nya. Prinsip inilah yang menjiwai pembentukan karakter, kecakapan hidup, dan kepedulian lingkungan dalam kepanduan Hizbul Wathan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menegaskan pentingnya persatuan dan saling menguatkan antar sesama mukmin. Beliau bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah menggambarkan hubungan kaum mukminin sebagai satu tubuh. Beliau bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya; tidak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua hadis ini memberikan fondasi spiritual bagi organisasi kepanduan yang menekankan kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Hizbul Wathan sebagai gerakan kepanduan Muhammadiyah menginternalisasi nilai-nilai ini dalam setiap program, mulai dari mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, hingga penguatan literasi digital.
Harapan dan Arah Ke Depan
Ketua Umum Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Ramanda Aman Suyadi, menyatakan bahwa keputusan Tanwir merupakan implementasi dari tema yang diusung. “Tema ini sangat tepat khususnya dalam rangka pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan untuk meneguhkan jati diri kepanduan Muhammadiyah sekaligus memperkuat relevansi, kapasitas, dan daya adaptasi gerakan dalam menghadapi dinamika zaman,” ujarnya.
Dengan ditetapkannya tujuh arah kebijakan strategis dan enam program prioritas nasional, Hizbul Wathan menegaskan posisinya sebagai organisasi kepanduan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berani bertransformasi. Semangat ta’awun dalam kebajikan dan ketakwaan menjadi ruh yang menggerakkan seluruh ikhtiar organisasi menuju abad kedua: kepanduan yang berkemajuan, adaptif, dan berdampak nyata bagi umat dan bangsa. (SAA)


Tinggalkan Balasan