Assalaamu 'alaikum,...

Apa yang bisa kami bantu?

Tanwir I HW di UM Metro: Abdul Mu’ti Dorong Kepanduan Berkemajuan

·

Editor:

|

⏱

6 menit

|

📋

Dibaca: 4 x

METRO, LAMPUNG — Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) didorong terus melakukan revitalisasi agar mampu menjawab tantangan perubahan zaman sekaligus melahirkan generasi muda yang berkarakter, mandiri, tangguh, berjiwa nasionalis, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan 2026 yang mengusung tema “Mengukuhkan Kepanduan Berkemajuan.” Sekitar 200 peserta dari berbagai provinsi dijadwalkan mengikuti Tanwir HW I yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), Lampung.

Hadir dalam agenda tersebut, mewakili Gubernur Lampung, Ir. Yayan Ruchyansah, M.Si. selaku Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Provinsi Lampung; Walikota Metro H. Bambang Iman Santoso; Kapolres Metro AKBP Hangga Utama Darmawan, S.Ik.; serta peserta dari seluruh Kwartir Wilayah (Kwarwil) di Indonesia dan keluarga besar Muhammadiyah Metro.

Tanwir I menjadi forum evaluasi, konsolidasi, sekaligus perumusan langkah strategis bagi pengembangan HW. Peserta berasal dari berbagai unsur dan wilayah, termasuk jajaran Kwartir Pusat dan Kwartir Wilayah HW, pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah, perguruan tinggi Muhammadiyah, serta unsur terkait lainnya.

HW Harus Dikelola dengan Manajemen Modern

Ketua Umum Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Aman Suyudi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan Tanwir I di Kota Metro. Ia mengapresiasi PWM Lampung, PDM Kota Metro, UM Metro, serta panitia yang telah menyiapkan kegiatan tersebut.

Menurut Aman, tema “Mengukuhkan Kepanduan Berkemajuan” menjadi penegasan bahwa HW harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kepanduan, kata dia, tidak lagi dapat dikelola dengan pendekatan konvensional semata.

“Kepanduan Hizbul Wathan tidak bisa lagi dikelola dengan manajemen konvensional. Harus dikelola dengan manajemen yang modern,” ujarnya.

Ia menjelaskan, generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang dinamis akibat perkembangan teknologi, informasi, dan globalisasi. Kondisi tersebut menuntut perubahan dalam pola pembinaan, manajemen organisasi, hingga strategi kaderisasi.

Aman berharap Tanwir menghasilkan gagasan dan langkah strategis untuk memperkuat HW sekaligus menghadirkan generasi muda yang memiliki karakter kuat. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kepada Lampung sebagai tuan rumah Tanwir I.

Dalam kesempatan tersebut, Kwartir Pusat HW memberikan penghargaan kepada Ketua PWM Lampung Prof. Dr. Sudarman serta penghargaan Dharma Bakti kepada Ketua Kwartir Wilayah HW Lampung.

UM Metro Siap Mendukung Pengembangan HW

Sambutan berikutnya disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Dr. Nyoto Suseno, M.Si., yang menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Tanwir dari berbagai wilayah Indonesia.

Atas nama UM Metro, Rektor menyampaikan terima kasih karena kampus yang dipimpinnya dipercaya menjadi tuan rumah Tanwir I Gerakan Kepanduan HW.

“Selamat datang di Kampus Universitas Muhammadiyah Metro dalam kegiatan Tanwir Kepanduan Hizbul Wathan. Semoga kegiatan ini bisa berjalan lancar dan menghasilkan hasil yang maksimal,” katanya.

Nyoto juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyediaan tempat dan pelayanan selama kegiatan terdapat kekurangan. Ia berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian Tanwir dengan baik dan menghasilkan keputusan strategis yang mampu memperkuat perkembangan HW.

Sementara itu, Ketua PWM Lampung Prof. Dr. Sudarman menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kwartir Pusat HW kepada Lampung sebagai tuan rumah Tanwir I.

Menurut Sudarman, pelaksanaan Tanwir di Kota Metro menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Lampung sekaligus menunjukkan perkembangan pendidikan dan gerakan Muhammadiyah di daerah tersebut.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kota Metro dan UM Metro yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Sudarman berharap para peserta Tanwir dari berbagai provinsi dapat mengikuti seluruh agenda dengan baik sekaligus membawa kesan positif tentang Lampung dan Kota Metro.

“Atas nama pimpinan Muhammadiyah, khususnya PWM Lampung, saya mengucapkan selamat dan sukses terselenggaranya Tanwir I di UM Metro,” ujarnya.

HW Tidak Boleh Hanya Kuat pada Romantisme Masa Lalu

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto menegaskan bahwa Tanwir I harus menjadi momentum evaluasi perjalanan HW sekaligus memperkuat revitalisasi organisasi.

Ia mengingatkan bahwa HW memiliki sejarah panjang sejak didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1918. Setelah sempat bergabung dengan gerakan kepanduan nasional pada 1961, HW kembali dihidupkan pada 1999.

Dengan perjalanan tersebut, Agung menilai evaluasi menjadi penting agar HW mampu terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Ia menekankan bahwa HW tidak boleh hanya mengandalkan kegiatan kepanduan klasik seperti baris-berbaris, tali-temali, semaphore, dan mendirikan tenda.

“Kalau Hizbul Wathan hanya berputar kepada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada pelatihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun,” ujarnya.

Karena itu, Agung mendorong revitalisasi program, kegiatan, serta pola pembinaan HW agar lebih relevan dengan perkembangan zaman. HW, menurutnya, harus bersahabat dengan digitalisasi, teknologi informasi, dan media sosial.

Regenerasi juga harus dipercepat dengan memberikan ruang lebih besar kepada kader muda untuk mengambil peran dalam kepemimpinan organisasi.

Agung mengapresiasi perkembangan HW di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Menurutnya, keberadaan kabilah HW di sejumlah perguruan tinggi menjadi modal penting untuk memperkuat kaderisasi.

Ia juga menegaskan bahwa semangat membela tanah air tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Kecintaan terhadap bangsa dan negara harus diterjemahkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Abdul Mu’ti: HW Harus Hadir sebagai Solusi Nyata

Sambutan terakhir disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti. Ia menegaskan bahwa HW harus menjadi gerakan kepanduan yang mampu menjawab persoalan generasi muda di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.

Menurut Abdul Mu’ti, generasi Z dan generasi Alfa menghadapi tantangan yang kompleks karena tumbuh dalam lingkungan digital dan keterbukaan informasi yang sangat luas. Di sisi lain, terdapat persoalan karakter, ketahanan diri, kesehatan mental, hingga nasionalisme yang perlu mendapatkan perhatian.

Abdul Mu’ti mengingatkan agar HW tidak menjadi organisasi yang hanya kuat dalam romantisme dan nostalgia masa lalu.

“HW yang berkemajuan adalah HW yang terbuka, HW yang lebih dekat dengan masyarakat di mana mereka berada dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata terhadap permasalahan bagi generasi muda itu sendiri dan bagi persoalan bangsa dan negara,” tegasnya.

Ia juga menyoroti fenomena strawberry generation yang menggambarkan generasi yang dinilai rentan menghadapi tekanan dan tantangan. Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian penting dalam proses pembentukan generasi masa depan.

Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun pribadi yang memiliki pikiran bersih, tutur kata yang baik, serta perbuatan yang tulus dan ikhlas.

“Pikiran juga harus bersih, tutur kata yang mulia itu harus senantiasa menjadi akhlak. Perbuatannya juga perbuatan yang tulus dan ikhlas,” katanya.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga harus membentuk karakter dan peradaban bangsa melalui pembiasaan positif serta penciptaan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.

Ia mendorong agar HW semakin berkembang di sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai bagian dari upaya membentuk generasi Indonesia yang kuat, unggul, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mencintai tanah air.

Abdul Mu’ti juga menyampaikan bahwa aspirasi terkait kepanduan dan regulasi kepramukaan dapat diperjuangkan melalui jalur konstitusional. Menurutnya, penyampaian aspirasi melalui lembaga resmi merupakan bagian dari praktik organisasi yang mencerminkan keluhuran akhlak dan ketinggian ilmu.

Menutup sambutannya, Abdul Mu’ti berharap Tanwir I HW tidak sekadar menjadi ajang pertemuan dan silaturahmi, tetapi menjadi forum untuk bertukar pikiran, saling menginspirasi, serta menghasilkan gagasan dan langkah nyata dalam memperkuat kaderisasi.

“Tanwir ini menjadi forum di mana kita semua bertukar pikiran, saling menginspirasi dalam rangka membangun generasi Indonesia yang kuat, generasi Indonesia yang unggul, generasi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air dan bangsa,” pungkasnya.

Ia berharap Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang berlangsung hingga 10 Oktober 2026 di UM Metro menjadi momentum untuk mengukuhkan kepanduan berkemajuan, memperkuat kaderisasi, serta melahirkan kader yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi persyarikatan, umat, bangsa, dan negara.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *