DALAM lanskap kepemimpinan modern yang kerap diwarnai oleh polemik dan disrupsi informasi, etika komunikasi menjadi fondasi yang krusial. Hal ini menjadi topik utama dalam Podcast Al Jabbar Episode 09 yang mengangkat tema “Etika Komunikasi Pemimpin Islam”. Acara tersebut dipandu oleh host Dr. H. Pitoyo, S.S., S.H., M.Kom., dan menghadirkan narasumber utama, Dr. Iu Rusliana, S.Fil.I., M.Si., dosen filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, Dr. Iu Rusliana menekankan bahwa kepemimpinan dalam Islam harus mampu menyeimbangkan antara transparansi publik dan upaya menjaga stabilitas organisasi. Menurutnya, dasar utama dari etika komunikasi seorang pemimpin Muslim adalah meneladani empat sifat wajib Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam: Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (bijaksana).
“Seorang pemimpin publik, pejabat negara, atau pejabat pemerintahan, basis dasarnya jika ia seorang Muslim adalah sifat-sifat tersebut. Sifat Siddiq yang memegang teguh kebenaran menjadi kunci utama,” ujar Dr. Iu Rusliana dalam wawancara tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komunikasi yang baik harus menghindari penyebaran berita bohong (hoaks) dan fitnah. Ia mengutip prinsip dalam Al-Qur’an tentang pentingnya melakukan Tabayun (klarifikasi) sebelum mempercayai dan menyebarkan suatu informasi.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Dr. Iu menambahkan bahwa media sosial seringkali menjadi alat untuk memfitnah dan memaki. Hal ini, lanjutnya, dapat memicu adrenalin dan emosi yang tidak terkendali. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kesabaran tingkat tinggi, meneladani akhlak Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq yang mampu memaafkan orang yang telah memfitnahnya, meskipun ia memiliki kuasa untuk membalas.
Diskusi juga menyoroti pentingnya meneladani Piagam Madinah sebagai konstitusi pertama yang sangat visioner dalam menghargai kemajemukan. Dr. Iu menegaskan bahwa kepemimpinan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak hanya keras terhadap kebatilan, tetapi juga sangat mengayomi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kaum non-muslim, selama mereka tidak memusuhi.
“Rasulullah itu Rahmatal lil ‘Alamin. Kasih sayangnya kepada sesama mukmin sangat luar biasa, namun tegas terhadap kezaliman. Prinsip inilah yang harus dipegang oleh pemimpin saat ini,” jelasnya.
Dalam sesi penutup, Dr. Iu Rusliana memberikan pesan kepada publik dan para pejabat untuk menumbuhkan “spirit kesalehan berinformasi”. Ia mengingatkan bahaya fitnah yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.
Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Tahukah kalian apa itu ghibah?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Yaitu engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.’ Ada yang bertanya: ‘Bagaimana jika apa yang aku katakan itu benar ada padanya?’ Beliau menjawab: ‘Jika benar ada padanya, maka engkau telah melakukan ghibah. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah melakukan fitnah (buhtan).’” (HR. Muslim)
Melalui diskusi ini, diharapkan para pemimpin dan masyarakat luas dapat lebih bijak dalam berkomunikasi, menjunjung tinggi kebenaran, serta menjadikan sabar dan tabayun sebagai benteng dalam menghadapi kompleksitas zaman. (*)


Tinggalkan Balasan