Assalaamu 'alaikum,...

Apa yang bisa kami bantu?

Khotbah Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Cirebon: “Berhenti Mengeluh, Hidup Hanya Butuh Syukur dan Sabar”

·

Editor:

|

⏱

3 menit

|

📋

no views

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar salat Jumat berjamaah dengan khidmat 16/10/26. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan khotbah yang menyejukkan hati dengan tema “Berhenti Mengeluh”. Dalam khotbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk merenungi hakikat hidup yang tidak pernah lepas dari ujian, serta pentingnya membangun sikap syukur dan sabar dalam menghadapi setiap keadaan.

Syukur dan Sabar: Dua Rumus Hidup Mukmin

Mengawali khotbah, Ustadz Ahmad Nurjanah mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini tidak akan pernah lepas dari ujian dan masalah. Terkadang kita dihadapkan pada pekerjaan yang berat, cuaca yang tidak menentu, kondisi ekonomi yang sulit, hingga gesekan dengan orang-orang di sekitar. Dalam menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan, seringkali lisan ini dengan mudahnya terpeleset untuk mengeluh.

“Bagi seorang mukmin, tidak ada ruang yang tersisa untuk banyak mengeluh. Karena rumus hidupnya hanya dua: syukur atau sabar. Kedua hal ini sama-sama mendatangkan pahala,” tegasnya.

Beliau kemudian mengisahkan sebuah pernyataan luar biasa dari seorang Tabi’in yang mulia, yaitu Syuraih Al-Qadhi, seorang hakim yang sangat terkenal akan keadilan dan kebijaksanaannya. Syuraih memiliki cara pandang yang sangat indah agar lisan dan hatinya tidak mudah mengeluh ketika diuji.

Beliau berkata: “Sesungguhnya jika aku tertimpa suatu musibah (keburukan), maka aku memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah) sebanyak empat kali: Pertama, aku memuji Allah karena musibah itu tidak lebih besar dari yang sedang terjadi. Kedua, aku memuji Allah karena Dia memberiku kesabaran dalam menghadapinya. Ketiga, aku memuji Allah karena Dia memberiku taufik untuk mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Dan keempat, aku memuji Allah karena musibah itu tidak menimpa agamaku.”

“Lihatlah bagaimana generasi terdahulu memandang sebuah masalah. Di saat kita mungkin sibuk mencari siapa yang salah, sibuk memperbesar masalah yang kecil, dan sibuk meratapi nasib; Syuraih Al-Qadhi justru menemukan empat alasan untuk tetap bersyukur dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ di tengah musibah yang menimpanya,” ujarnya.

Mengeluh Tidak Menyelesaikan Masalah

Dalam khotbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah juga mengingatkan bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan menguras energi, mengeruhkan hati, dan yang paling berbahaya: mengikis rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Allah SWT sebenarnya telah mengingatkan kita tentang tabiat asli manusia ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’arij ayat 19-20:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah.”

Ayat ini menegaskan bahwa pada dasarnya, manusia memang mudah berkeluh kesah. Namun, sebagai seorang mukmin yang beriman, kita diminta untuk mengendalikan tabiat tersebut. Islam mengajarkan kita sebuah seni dalam menghadapi hidup, yaitu seni bersyukur saat lapang, dan bersabar saat sempit.

Hadis: Semua Urusan Mukmin adalah Baik

Rasulullah SAW telah memberikan pujian yang luar biasa kepada orang-orang beriman yang berhasil menekan hawa nafsu untuk tidak mengeluh. Beliau bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya.”

Mengeluh Hanya kepada Allah

Di akhir khotbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah menyampaikan pesan yang sangat menyentuh. Jika memang dada ini terasa sesak dan butuh tempat bersandar, maka mengeluhlah, tapi hanya kepada Allah SWT. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Yaqub ‘alaihissalam:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Beliau menutup khotbah dengan doa: “Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan raga yang senantiasa bersabar. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.”

Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon berjalan dengan tertib dan khusyuk. Para jamaah tampak menyimak dengan saksama setiap pesan yang disampaikan, berharap dapat mengamalkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.

Peliput : 




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses