MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon menggelar salat Jumat dengan penuh kekhusyukan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Bertindak selaku imam dan khatib, Ustadz Upang Ibrahim menyampaikan khutbah yang menekankan pentingnya meningkatkan dan menjaga kualitas iman dan taqwa di tengah kehidupan dunia yang semakin menantang. Menurutnya, iman dan taqwa adalah pondasi utama agar seorang Muslim mampu berdiri tegak dan istiqamah dalam kondisi apa pun.

Dalam khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah negeri atau bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas orang-orang yang membimbingnya. Kepemimpinan yang baik, lanjutnya, adalah kepemimpinan yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan utama. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Dan berlaku adillah kamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujurat: 9)
Ustadz Upang menegaskan bahwa para pemimpin harus berupaya menghadirkan negeri yang aman dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat komponen dan nilai-nilai yang harus dilaksanakan, salah satunya adalah memiliki pemimpin yang adil dan menegakkan supremasi hukum tanpa membeda-bedakan rakyatnya.
Pemimpin Adil: Golongan Pertama yang Mendapat Naungan Allah
Dalam khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengutip hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat, di mana pemimpin yang adil menempati urutan pertama. Beliau membacakan hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ»
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda: ‘Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala, (3) Seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, (5) Seseorang yang diajak oleh perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan (7) Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga kedua matanya mencucurkan air mata.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kriteria Pemimpin dalam Al-Qur’an: Kecerdasan dan Kesehatan Jasmani
Lebih lanjut, Ustadz Upang Ibrahim menjelaskan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin, yaitu memiliki kecerdasan dan kondisi yang sehat. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 247:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi raja atas kamu dan memberinya kelebihan dalam ilmu pengetahuan dan kekuatan fisik.” (QS. Al-Baqarah: 247)
Khatib menceritakan kisah Bani Israil ketika Nabi Samuel dipertanyakan mengapa Thalut yang dipilih menjadi pemimpin. Kelebihan Thalut terletak pada ilmu atau kecerdasan serta fisik yang kuat. Dalam Tafsir Al-Muyassar, dua hal ini diartikan sebagai “kuat fisik” dan “berpengetahuan luas” . Muhammadiyah melalui tokohnya, Abdul Mu’ti, juga menekankan bahwa pemimpin haruslah orang yang berpengetahuan luas dan berfisik kuat, bukan orang yang serba tidak tahu .
Flashback KH Ahmad Dahlan: Teladan Pengorbanan untuk Pendidikan
Dalam khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim juga membawa jamaah untuk mengenang kembali keteladanan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau mengisahkan bagaimana KH Ahmad Dahlan pernah melelang barang-barang pribadinya untuk membayar gaji guru-guru Muhammadiyah yang belum terbayarkan. Meskipun hanya dibutuhkan 500 gulden, hasil lelang justru terkumpul hingga 2.000 gulden . Kisah ini menjadi cerminan betapa besar pengorbanan dan ketulusan KH Ahmad Dahlan dalam memperjuangkan pendidikan bagi umat.
Doa untuk Indonesia: Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Di akhir khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim memanjatkan doa agar Indonesia diberikan pemimpin yang baik, yang memiliki keinginan untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta pemimpin yang menegakkan hukum secara adil, tidak dapat dibeli, dan tidak diputar balikkan. Beliau berharap Indonesia dapat menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang baik dan mendapat ampunan dari Allah.
Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon berlangsung dengan tertib dan khidmat. Para jamaah yang hadir tampak menyimak khutbah dengan saksama, menghayati setiap pesan yang disampaikan tentang pentingnya iman, taqwa, dan kepemimpinan yang adil dalam membangun negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Peliput : Dakum


Kirim Tanggapan