Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas: Ustadz Didin Ahidin Paparkan Empat Langkah Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup

CIREBON, 6 Maret 2026 – Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Jumat, 6 Maret 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Apt. Didin Ahidin, S.Si., M.Farm., menyampaikan khutbah yang mendalam dengan tema “Ramadhan Syahrul Quran: Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup” .

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, H. Digyono , beserta jajaran pengurus dan warga Muhammadiyah se-Kecamatan Kesambi. Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang keistimewaan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an dan bagaimana menjadikan kitab suci ini sebagai petunjuk dalam kehidupan.


Ramadhan: Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Ustadz Didin Ahidin mengawali khutbah dengan mengingatkan salah satu keistimewaan terbesar bulan Ramadhan, yaitu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

“Al-Qur’an diturunkan di bulan yang mulia ini untuk menjadi hudan (petunjuk) bagi manusia, bayyinat (penjelas) dari petunjuk tersebut, dan furqan (pembeda) antara yang hak dan yang batil. Inilah fungsi utama Al-Qur’an dalam kehidupan kita,” papar Ustadz Didin.


Empat Langkah Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup

Memasuki inti khutbah, Ustadz Didin memaparkan empat langkah konkret agar Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk (hudan) dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mengimani Al-Qur’an sebagai Wahyu Allah yang Terjamin Kebenarannya

Langkah pertama dan paling fundamental adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang mutlak benar, bukan buatan manusia apalagi sekadar syair-syair Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang yang tidak suka kepada Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 2:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

“Keyakinan ini perlu kita tegakkan kembali, karena di luar sana ada kelompok-kelompok yang tidak suka terhadap Islam yang mencoba menggoyahkan keyakinan umat Islam. Mereka membuat narasi bahwa Al-Qur’an hanyalah syair-syair yang dibuat oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Sungguh, ini merupakan kekeliruan yang sangat nyata,” tegas Ustadz Didin.

2. Mampu Membaca Al-Qur’an dengan Tartil

Langkah kedua adalah membekali diri dengan kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil, yaitu membaca dengan benar sesuai hukum tajwid, perlahan, dan tidak tergesa-gesa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

“Kita harus berusaha untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil. Jika belum bisa, belajarlah. Jika sudah bisa, tingkatkan kualitas bacaannya. Jangan sampai kita termasuk orang yang jauh dari Al-Qur’an,” ajak Ustadz Didin.

3. Mampu Memahami Kandungan Al-Qur’an

Langkah ketiga adalah berusaha memahami makna dan kandungan Al-Qur’an. Allah menegur keras orang-orang yang tidak mau mentadaburi (merenungkan) Al-Qur’an.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Muhammad ayat 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

“Di bulan Ramadhan ini, mari kita mencoba belajar memahami isi Al-Qur’an. Ikuti kajian-kajian yang membahas kandungan Al-Qur’an. Jangan hanya membaca tanpa tahu arti dan pesan yang terkandung di dalamnya,” pesan Ustadz Didin.

4. Mengamalkan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Langkah keempat dan yang paling penting adalah mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Percuma bisa membaca dan memahami, tetapi tidak diamalkan.

Ustadz Didin mengutip sebuah atsar (perkataan ulama) yang sangat terkenal:

مَنْ جَعَلَ الْقُرْآنَ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَ الْقُرْآنَ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ

“Barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an di hadapannya (sebagai imam/pemimpin dalam hidupnya), maka ia akan digiring ke surga. Dan barangsiapa yang menjadikan Al-Qur’an di belakangnya (diabaikan), maka ia akan didorong ke neraka.”

“Al-Qur’an harus menjadi imam, pemimpin, dan pedoman dalam hidup kita. Semua langkah dan keputusan harus mengacu pada petunjuk Al-Qur’an. Jangan sampai kita menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan di atas lemari, atau hanya dibaca saat ada acara tertentu, tetapi tidak dijadikan pedoman hidup,” tegas Ustadz Didin.


Penutup: Al-Qur’an sebagai Hudan Sepanjang Masa

Menutup khutbah, Ustadz Didin Ahidin mengajak jamaah untuk mengamalkan keempat langkah tersebut, sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk (hudan) dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

“Semoga kita bisa mengamalkan keempat hal tersebut, sehingga insya Allah Al-Qur’an bisa menjadi hudan dalam kehidupan kita. Dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an, kita tidak akan tersesat selama-lamanya, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin,” pungkasnya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Semoga Allah memberkati aku dan kalian semua dalam Al-Qur’an yang agung, dan semoga Dia memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian dengan ayat-ayat dan dzikir yang bijaksana yang terkandung di dalamnya. Aku katakan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian, maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Salat Jumat berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir mendapatkan pencerahan tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, terutama di bulan Ramadhan yang merupakan Syahrul Quran.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke SfitriaF Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas: Ustadz Didin Ahidin Paparkan Empat Langkah Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk Hidup”

  1. Avatar SfitriaF
    SfitriaF

    Masyaallah tabarakallah