CIREBON, 3 Juli 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, 3 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Ayi Azhari, S.IP., menyampaikan khutbah dengan materi yang sangat mendalam tentang “Kejujuran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam”. Kehadiran jamaah terlihat sangat antusias, memadati area Masjid Santun yang sejak pagi telah dipenuhi oleh jamaah.

Dalam khutbahnya yang disampaikan dengan gaya bahasa yang lugas, menyejukkan, dan sarat akan hujjah, Ustadz H. Ayi Azhari mengajak seluruh jamaah untuk merenungi kembali betapa agungnya akhlak Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, khususnya dalam hal kejujuran. Beliau menegaskan bahwa kejujuran bukanlah sekadar perkataan, melainkan cerminan dari iman yang utuh. Sifat jujur inilah yang menjadi fondasi utama mengapa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam diutus untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.
“Mari kita renungkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur,” ujar Ustadz H. Ayi Azhari mengawali tausiyahnya.
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: “Dan bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119).

Khatib menjelaskan bahwa gelar Al-Amin (yang terpercaya) yang disematkan oleh masyarakat Quraisy kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bukanlah gelar sembarangan. Gelar tersebut lahir dari rekam jejak kehidupan beliau yang bersih dari kebohongan, bahkan sebelum masa kenabian.
Tiga Bukti Nyata Kejujuran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam
Dalam khutbahnya, Ustadz H. Ayi Azhari memaparkan tiga peristiwa monumental yang menjadi bukti konkret kejujuran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
1. Kejujuran dalam Berdagang
Ustadz Ayi menceritakan bagaimana Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dikenal sebagai pedagang yang sangat transparan. Beliau tidak pernah mengurangi takaran, menyembunyikan cacat barang, maupun mengambil keuntungan secara berlebihan. Bahkan, beliau dengan jujur memberitahu harga modal barang dagangannya dan mempersilakan pembeli menentukan sendiri margin keuntungan yang diinginkan. Sikap ini membuat Siti Khadijah, majikan sekaligus kelak istri beliau, merasa kagum dan mempercayakan modal dagangannya yang sangat besar.
2. Insiden di Bukit Shafa
Ketika turun perintah Allah untuk berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengumpulkan kaum Quraisy di Bukit Shafa. Beliau bertanya kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy, jika aku katakan bahwa ada pasukan kuda di balik lembah ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian percaya?” Serentak mereka menjawab, “Ya, kami percaya. Karena kami tidak pernah mendengar engkau berbohong.” Momen ini menjadi bukti bahwa kejujuran beliau telah mendarah daging, bahkan di mata orang-orang yang belum beriman sekalipun.
3. Penolakan Bersumpah dengan Nama Berhala
Dalam perjalanan dagang ke Syam, terjadi perselisihan antara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dengan seorang pembeli. Ketika pembeli tersebut meminta beliau bersumpah demi berhala Lata dan Uzza, dengan tegas dan berani Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam menolaknya. Beliau menyatakan bahwa beliau tidak pernah sekalipun bersumpah atas nama berhala. Sikap ini menunjukkan bahwa kejujuran beliau lahir dari tauhid yang murni, bukan karena takut pada sesembahan palsu.
Pengakuan dari Musuh: Kesaksian Abu Sufyan
Salah satu bagian khutbah yang paling menarik perhatian jamaah adalah ketika Ustadz Ayi mengutip peristiwa dialog antara Kaisar Heraclius dari Romawi dengan Abu Sufyan yang kala itu masih memusuhi Nabi. Ketika Heraclius bertanya tentang karakter Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, Abu Sufyan yang belum masuk Islam dan membenci Nabi, terpaksa mengakui dengan jujur:
“Dia tidak pernah berdusta, dia selalu menepati janji, dan dia memerintahkan kepada kejujuran.”
Mendengar hal ini, Ustadz Ayi berkomentar, “Bayangkan, musuh pun mengakui kejujuran beliau! Maka sudah sepantasnya kita sebagai umatnya meneladani sifat mulia ini.”
Menguatkan hal ini, beliau membacakan hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penutup: Seruan untuk Berdagang dan Berinteraksi dengan Jujur
Di akhir khutbah, Ustadz H. Ayi Azhari mengajak seluruh jamaah untuk mengimplementasikan kejujuran dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam berniaga, bertetangga, maupun dalam bermuamalah di era digital saat ini. Beliau mengingatkan bahwa kejujuran adalah investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi.
“Marilah kita jadikan kejujuran sebagai mahkota akhlak kita. Karena dengan kejujuran, insya Allah kehidupan kita akan diberkahi, dan kita akan dikumpulkan bersama orang-orang yang jujur di surga-Nya,” pungkas Ustadz Ayi sebelum menutup khutbah dengan doa khusyuk yang diamin oleh seluruh jamaah.
Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan. Khutbah ditutup dengan doa keselamatan untuk umat Islam, bangsa, dan negara, serta harapan agar seluruh jamaah dapat meneladani kejujuran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dalam kehidupan sehari-hari.
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan