Kisah Teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Awal Mula Syariat Qurban dalam Islam

Oleh: Ustadz Ayi Azhari
(Bahan Khutbah dan Tausyiah: Masjid Al-Falah, As-Sakinah, Al-Ikhlas, dan At-Taqwa)

Ibadah kurban yang setiap tahun dilaksanakan umat Islam pada Hari Raya Iduladha bukan sekadar tradisi atau rutinitas tahunan. Di balik penyembelihan hewan kurban, tersimpan kisah agung penuh keteladanan yang berasal dari perjalanan iman seorang nabi yang sangat mulia, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bersama putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kisah ini menjadi awal mula disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam, sekaligus menjadi pelajaran besar tentang ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Ketaatan

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang sangat taat kepada Allah. Sejak muda, beliau telah menunjukkan keberanian dalam mempertahankan tauhid, bahkan ketika harus berhadapan dengan kaumnya yang menyembah berhala. Berbagai ujian telah beliau lalui dengan penuh kesabaran. Salah satu ujian terbesar dalam hidup Nabi Ibrahim adalah ketika Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya yang masih bayi, Nabi Ismail, di sebuah lembah tandus yang kini dikenal sebagai Kota Makkah.

Pada saat itu, Makkah belum menjadi kota ramai seperti sekarang. Lembah tersebut kering, tanpa sumber air, dan jauh dari pemukiman manusia. Namun, karena keyakinannya kepada Allah, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah tersebut. Siti Hajar pun menunjukkan keteladanan yang luar biasa. Ketika mengetahui bahwa keputusan itu adalah perintah Allah, ia menerima dengan penuh keikhlasan dan tawakal. Dari kisah ini, kita belajar bahwa keimanan yang kuat mampu menumbuhkan rasa percaya kepada Allah dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Ujian Terbesar: Perintah Menyembelih Putra Kesayangan

Seiring berjalannya waktu, Nabi Ismail tumbuh menjadi seorang anak yang saleh, sabar, dan berbakti kepada orang tuanya. Ketika Ismail telah mencapai usia remaja dan mampu membantu ayahnya, datanglah ujian terbesar yang menjadi tonggak sejarah ibadah kurban. Nabi Ibrahim menerima mimpi dari Allah yang berisi perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail.

Mimpi para nabi adalah wahyu, sehingga Nabi Ibrahim memahami bahwa perintah tersebut adalah ujian dari Allah yang harus dijalankan. Namun, perintah ini tentu bukan perkara mudah. Menyembelih anak yang sangat dicintai adalah ujian berat bagi seorang ayah. Meski demikian, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah tersebut dengan penuh ketundukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah As-Saffat ayat 102–105:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105)

Artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada usia) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk disembelih), lalu Kami memanggilnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-Saffat [37]: 102–105)

Yang lebih mengagumkan adalah respons Nabi Ismail ketika ayahnya menyampaikan perintah itu. Dengan penuh keimanan, Nabi Ismail tidak menolak ataupun mengeluh. Ia justru berkata bahwa ayahnya hendaknya melaksanakan perintah Allah, dan ia siap bersabar atas apa yang akan terjadi. Keteguhan hati Nabi Ismail menjadi bukti bahwa ketaatan kepada Allah tidak mengenal usia.

Penggantian dengan Hewan Kurban

Ketika tiba saat pelaksanaan perintah tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bersiap dengan penuh keikhlasan. Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya dan membaringkan Nabi Ismail. Dalam momen yang sangat menegangkan itu, keduanya menunjukkan ketundukan total kepada Allah. Namun, ketika Nabi Ibrahim hendak melaksanakan penyembelihan, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang besar sebagai bentuk rahmat dan penghargaan atas ketaatan mereka.

Allah berfirman dalam kelanjutan ayat tersebut:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat [37]: 107)

Peristiwa inilah yang menjadi awal mula disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Allah tidak menghendaki darah manusia, melainkan menguji sejauh mana ketaatan dan keikhlasan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya.

Landasan Syariat Kurban dalam Al-Qur’an dan Hadits

Syariat kurban kemudian dipertegas dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam surah Al-Kausar:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Artinya: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kausar [108]: 1–3)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan ibadah kurban dalam sabda beliau:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: “Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Iduladha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah kurban itu telah diterima di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka laksanakanlah kurban itu dengan hati yang ikhlas.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Hikmah di Balik Ibadah Kurban

Hikmah dari kisah ini sangatlah mendalam. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menjadi simbol kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai demi ketaatan kepada Allah. Dalam kehidupan modern, mungkin kita tidak diperintahkan untuk menyembelih anak, tetapi kita diuji melalui hal-hal lain, seperti harta, waktu, jabatan, dan kenyamanan hidup.

Melalui ibadah kurban, kita diajak untuk belajar melepaskan rasa cinta berlebihan terhadap harta. Harta yang kita miliki sejatinya adalah titipan Allah, dan sebagian darinya harus dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Daging kurban yang disalurkan kepada fakir miskin, yatim, dan dhuafa menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail juga mengajarkan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dalam menjalankan perintah Allah. Nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendak, melainkan menyampaikan perintah tersebut kepada putranya dengan penuh kebijaksanaan. Sementara Nabi Ismail menunjukkan sikap hormat dan ketaatan kepada orang tuanya. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan keluarga masa kini.

Penutup

Setiap kali Hari Raya Iduladha tiba, umat Islam di seluruh dunia memperingati kembali peristiwa agung ini dengan melaksanakan ibadah kurban. Suara takbir yang menggema, penyembelihan hewan kurban, dan pembagian daging kepada masyarakat menjadi pengingat bahwa ketaatan dan kepedulian sosial adalah inti dari ajaran Islam.

Kisah teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan hanya sejarah masa lalu, tetapi pelajaran abadi bagi setiap Muslim. Ia mengajarkan bahwa keimanan sejati tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan melalui tindakan nyata. Dengan meneladani kisah ini, semoga kita mampu menjadikan ibadah kurban sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat keikhlasan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أُضْحِيَّتَنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ نَبِيِّكَ إِبْرَاهِيمَ وَخَلِيلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Ya Allah, terimalah kurban kami, sebagaimana Engkau telah menerima kurban dari Nabi-Mu Ibrahim dan kekasih-Mu Muhammad ﷺ.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KOMENTAR TERBARU