CIREBON – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Umar bin Khottob yang berada di kompleks SMK Farmasi Muhammadiyah, Jalan Cideng Indah No. 30, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu subuh (4/4/2026). Puluhan jamaah tampak duduk dengan khusyuk mengikuti kajian rutin Sabtu Subuh yang kali ini mengangkat tema besar: “Menagih Keadilan Dunia”.
Bertindak sebagai penceramah, Ustadz Somantri Perbangkara, M.Pd., seorang akademisi sekaligus dai yang dikenal dengan gaya bahasanya yang lugas, santai, namun penuh makna. Dalam paparannya, ia mengajak jamaah merenungi kondisi dunia yang semakin memperlihatkan wajah “bebal” dalam persoalan hukum dan keadilan.
“Di belahan bumi mana pun kini kita saksikan ketidakadilan. Penindasan, korupsi, diskriminasi merajalela. Dunia seperti kehilangan ruhnya,” ujar Ustadz Somantri mengawali ceramah.
Ia mengutip adagium Latin terkenal, Summum ius, summa iniuria, yang berarti “keadilan tertinggi di dunia ini adalah ketidakadilan tertinggi”. Filsuf Cicero pun menyatakan bahwa keadilan yang diterapkan secara kaku dan tanpa kebijaksanaan justru bisa melahirkan ketidakadilan itu sendiri.
“Maka kita butuh bijaksini dan bijaksitu. Bukan sekadar hukum mati, tapi hati yang hidup,” kelakarnya diselingi candaan khasnya yang mengundang senyum jamaah.
Islam dan Hakikat Keadilan
Ustadz Somantri menegaskan bahwa keadilan dalam Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, lawan dari kezaliman. Dalam Islam, keadilan terbagi menjadi tiga: adil kepada Allah, adil kepada diri sendiri, dan adil kepada sesama manusia.
Ia membacakan firman Allah dalam QS. An-Nahl: 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil…” (QS. An-Nahl: 90)
Serta QS. Al-Ma’idah: 8:
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Hadits tentang Kemuliaan Orang yang Adil
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Yang Maha Pengasih (Allah) ‘azza wa jalla, dan kedua sisi-Nya mulia. Yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum mereka, terhadap keluarga mereka, dan terhadap apa-apa yang diamanahkan kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1827)
Beliau juga mengingatkan sabda Nabi ﷺ lainnya:
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Takutlah terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat.” (HR. Bukhari & Muslim)
Keadilan Berlapis: Diri, Keluarga, Masyarakat, dan Negara
Dalam ceramahnya, Ustadz Somantri mengupas tuntas empat tingkatan keadilan:
- Keadilan kepada Allah – dengan tidak menyekutukan-Nya dan menjadikan Allah sebagai poros hidup.
- Keadilan kepada diri sendiri – menjaga kesehatan fisik dan mental, tidak memaksakan diri, serta tidak menzalimi jiwa dengan kemaksiatan.
“Hello… yang di sana suka makan seblak pedes-pedes, awas pencernaanmu! Adil pada diri sendiri!” celetuknya disambut tawa jamaah. - Keadilan dalam keluarga – tidak pilih kasih, memberi hak sesuai kebutuhan. Ustadz memberi contoh nyata: uang saku anak SMA lebih besar daripada anak SD karena kebutuhannya berbeda.
- Keadilan dalam masyarakat dan negara – mengakar pada Pancasila sila kelima dan UUD 1945.
“Jangan sampai keadilan sosial berubah menjadi ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Ia menyoroti berbagai bentuk ketidakadilan seperti penindasan, korupsi, diskriminasi, pelanggaran HAM, hingga ketimpangan ekonomi.
Pendapat Ulama dan Solusi Islam
Ustadz Somantri mengutip pendapat para ulama besar:
- Imam Al-Ghazali: Keadilan adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban.
- Ibnu Taimiyah: “Allah menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menegakkan negara zalim meskipun muslim.”
- Al-Mawardi: Keadilan adalah fondasi kekuasaan.
Menurutnya, “menagih keadilan dunia” dapat dilakukan dengan amar ma’ruf nahi munkar, menyuarakan kebenaran, menolak kezaliman, menggunakan jalur hukum dan sosial, serta dakwah dan edukasi masyarakat.
Tantangan terbesar adalah kepentingan politik, lemahnya hukum, korupsi sistemik, dan ketidakpedulian masyarakat. Solusinya: memperkuat iman dan takwa, menegakkan hukum yang adil, kepemimpinan amanah, serta pendidikan moral dan akhlak.
Hikmah dan Penutup
Di akhir kajian, Ustadz Somantri mengingatkan bahwa keadilan sempurna hanya akan ditegakkan di akhirat. Namun, setiap muslim wajib berjuang menegakkan keadilan di dunia.
“Keadilan adalah pilar kehidupan. Tanpa keadilan, dunia akan hancur. Jangan diam terhadap kezaliman,” pesannya.
Ia pun memanjatkan doa agar Allah menganugerahkan masyarakat dan bangsa yang adil di negeri tercinta Indonesia.
Kajian ditutup dengan salat Dhuha berjamaah dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang hangat. Jamaah tampak antusias dan berharap kajian Sabtu Subuh seperti ini terus berlanjut secara rutin.
Redaktur: Tim Dakwah Masjid Umar bin Khottob
Lokasi: Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah, Jl. Cideng Indah No. 30, Kab. Cirebon, Jawa Barat


Tinggalkan Balasan