Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan

Abstrak

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki fokus kajian pada pemahaman mendalam tentang sejarah, identitas, dan gerakan Muhammadiyah. Artikel ini membahas secara sistematis proses berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia, dengan penekanan khusus pada tiga elemen fundamental: rumusan, maksud, dan tujuan Persyarikatan. Melalui metode studi literatur dan pendekatan historis-normatif, artikel ini menguraikan bagaimana K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai respons terhadap kemunduran umat Islam. Landasan teologis-organisational ini dianalisis berdasarkan ketetapan Anggaran Dasar Muhammadiyah serta ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjadi inspirasinya. Pembahasan dimaksudkan untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai akar ideologis gerakan Muhammadiyah sebagai bekal pengamalan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Kata Kunci: Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, rumusan Muhammadiyah, maksud Muhammadiyah, tujuan Muhammadiyah, AIK 3


PENDAHULUAN

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peran sentral dalam membentuk wajah keberagamaan dan kemoderenan umat Islam Nusantara. Berdiri sejak awal abad ke-20, organisasi ini lahir dari keprihatinan mendalam seorang ulama kharismatik, K.H. Ahmad Dahlan, terhadap kondisi kemunduran umat Islam yang terbelenggu oleh kebodohan, kemiskinan, dan praktik keagamaan yang menyimpang. Dalam konteks perkuliahan AIK 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman tentang proses berdirinya Muhammadiyah menjadi fondasi penting bagi mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai keislaman yang berkemajuan.

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apa sebenarnya rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah? Ketiga aspek ini bukan sekadar definisi formal dalam anggaran dasar, melainkan cerminan dari semangat tajdid (pembaruan) yang diusung oleh K.H. Ahmad Dahlan. Artikel ini akan mengupas tuntas ketiga elemen tersebut dengan merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang otoritatif, serta menghubungkannya dengan landasan wahyu dan sunnah.


PEMBAHASAN

A. Latar Historis Berdirinya Muhammadiyah

Untuk memahami rumusan, maksud, dan tujuan Muhammadiyah, terlebih dahulu perlu ditelisik kondisi sosial-keagamaan yang melatarbelakangi kelahirannya. Pada awal abad ke-20, umat Islam Indonesia—khususnya di Jawa—berada dalam situasi yang memprihatinkan. Mereka hidup dalam penjajahan, terjebak dalam praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta jauh dari pemahaman Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. K.H. Ahmad Dahlan, yang bernama asli Muhammad Darwis, melihat bahwa kondisi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang seharusnya membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi umat.

Dari kegelisahan inilah, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta. Nama “Muhammadiyah” secara etimologis berarti “pengikut Nabi Muhammad”, yang mencerminkan tekad organisasi ini untuk menghidupkan kembali ajaran Islam sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

B. Rumusan Muhammadiyah (Identitas Persyarikatan)

Rumusan Muhammadiyah merujuk pada definisi dan karakter dasar yang melekat pada diri Persyarikatan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) Muhammadiyah. Dalam AD Muhammadiyah Bab I Pasal 1, dirumuskan bahwa “Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”.

Rumusan ini mengandung tiga pilar utama:

1. Gerakan Islam
Muhammadiyah adalah bagian integral dari umat Islam yang menjadikan ajaran Islam sebagai satu-satunya landasan berpikir dan bertindak. Segala gerakannya tidak bermotif selain untuk merealisasikan prinsip-prinsip syariat dalam kehidupan nyata.

2. Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dakwah merupakan denyut nadi perjuangan Muhammadiyah. Terminologi ini diambil langsung dari perintah Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 104 yang menjadi khittah (strategi dasar) perjuangan Muhammadiyah.

3. Gerakan Tajdid
Tajdid berarti pembaruan yang mencakup dua dimensi sekaligus: purifikasi (pemurnian akidah dan ibadah dari unsur-unsur yang menyimpang) dan dinamisasi (pembaruan metode bermuamalah agar sesuai dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan prinsip syariat).

Landasan teologis dari rumusan ini terdapat dalam firman Allah SWT:

QS. Ali ‘Imran [3]: 104

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat ini menjadi inspirasi utama K.H. Ahmad Dahlan dalam membentuk organisasi yang tidak hanya menjadi wadah ibadah ritual, tetapi juga kekuatan sosial yang aktif mengubah realitas ketimpangan di masyarakat.

Selain itu, rumusan Muhammadiyah juga mencerminkan prinsip washathiyah (moderasi) sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 143:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan (wasath) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Prinsip wasath ini meniscayakan sikap seimbang (tawazun), adil (‘adl), dan toleran (tasamuh) dalam setiap aktivitas dakwah dan kemasyarakatan.

C. Maksud Muhammadiyah

Maksud pendirian Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Secara lebih operasional, maksud ini dimanifestasikan dalam upaya-upaya sebagai berikut:

  1. Memurnikan Ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti praktik syirik, bid’ah, dan khurafat yang kala itu merajalela di masyarakat.
  2. Mereformulasi Pemahaman Keagamaan dengan pandangan alam pikiran modern tanpa meninggalkan otoritas wahyu. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan kemajuan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
  3. Menggerakkan Potensi Umat untuk bangkit dari keterbelakangan melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. K.H. Ahmad Dahlan meyakini bahwa kemunduran umat hanya bisa diatasi dengan penguatan di kedua sektor ini.

Maksud ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ tentang pentingnya meninggalkan kemungkaran:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Artinya: “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Muhammadiyah hadir untuk mengubah kemungkaran-kemungkaran sosial dan keagamaan dengan tindakan nyata (bi al-yad) melalui pendirian lembaga pendidikan, rumah sakit, dan panti asuhan hingga sekarang.

D. Tujuan Muhammadiyah

Tujuan Muhammadiyah dirumuskan secara tegas dalam AD Muhammadiyah Pasal 3, yang menyatakan bahwa tujuan Persyarikatan adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Dalam perkembangan sejarah, rumusan tujuan ini mengalami penegasan makna, yaitu mewujudkan “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi), yakni komunitas yang dalam seluruh aspek kehidupannya—akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan kemasyarakatan—berlandaskan pada nilai-nilai Islam.

Menurut K.H. Ahmad Dahlan, tujuan ini tidak bersifat abstrak, melainkan konkret dan terukur. Beliau merujuk pada QS. Ar-Ra’d [13]: 11 yang menjadi spirit perubahan:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan sosial (taghyir al-mujtama’) harus dimulai dari perubahan kesadaran individual (taghyir ma bi anfusihim). Inilah yang kemudian diwujudkan Muhammadiyah melalui program pengkaderan dan pendidikan karakter sejak masa awal berdirinya.

Hadits Nabi yang juga menjadi ruh perjuangan ini adalah:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Muhammadiyah berusaha mewujudkan tujuan organisasinya dengan mengembalikan kemuliaan akhlak di tengah masyarakat yang sekuler dan materialistis.

Secara periodik, tujuan Muhammadiyah juga pernah dirumuskan dalam Statuten (Anggaran Dasar) awal tahun 1912 dan 1914 dengan redaksi: “memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam di Hindia Nederland” serta “memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya”. Kata “memajukan” (taraqqi) menjadi kata kunci yang menunjukkan bahwa sejak awal, Muhammadiyah adalah gerakan yang progresif dan dinamis.


KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses berdirinya Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh kondisi kemunduran umat Islam yang terjerat dalam takhayul, bid’ah, dan khurafat serta penjajahan. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912 sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid.

  1. Rumusan Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berdakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Maksud Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan memurnikan ajaran, mereformulasi pemahaman keagamaan, dan menggerakkan potensi umat melalui pendidikan serta kesehatan.
  3. Tujuan Muhammadiyah adalah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (al-mujtama’ al-Islami al-haqiqi) dalam seluruh aspek kehidupan.

Pemahaman yang komprehensif tentang rumusan, maksud, dan tujuan ini menjadi bekal esensial bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mengamalkan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan di tengah masyarakat. Wallahu a’lam bish-shawab.


DAFTAR PUSTAKA

“Akademi Politik IMM Bahas Visi dan Peran Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2025. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com

A. Richad, “Mengulik Sejarah Kampung Kauman, Islam dan Muhammadiyah (episode 2),” TVRI News, 2023. [Online]. Tersedia: https://nasional.tvrinews.com

“Islam Berkemajuan Periode Awal,” PWM DIY, 2025. [Online]. Tersedia: https://pwmdiy.mu.or.id

“Sejarah Singkat Berdirinya Muhammadiyah Kota Yogyakarta,” Muhammadiyah, 2015. [Online]. Tersedia: http://lpcr.muhammadiyah.or.id

Mustofa, “Muhammadiyah dan Potret Keindonesiaan,” PWM Jateng, 2023. [Online]. Tersedia: https://pwmjateng.com

M. Wiharto, “Moderat dalam Bersikap, Berfikir dan Bertindak,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Islam Washathiyah: Jalan Hidup Global,” Program Studi Ilmu Hadis – Universitas Ahmad Dahlan, 2020. [Online]. Tersedia: https://ilha.uad.ac.id

“Sejarah Muhammadiyah,” Muhammadiyah, [Online]. Tersedia: http://arsip.muhammadiyah.or.id

“Makna, Sejarah dan Peran Muhammadiyah,” Berita Jatim, 2022. [Online]. Tersedia: https://beritajatim.com

“Ciri Perjuangan Muhammadiyah,” Muhammadiyah Solo, 2019. [Online]. Tersedia: https://muhammadiyahsolo.com


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

37 tanggapan untuk “Mengenal Proses Berdirinya Muhammadiyah: Rumusan, Maksud, dan Tujuan Persyarikatan”

  1. Avatar Minhatil Maula
    Minhatil Maula

    Artikel ini sangat mencerahkan karena tidak hanya memaparkan tanggal berdirinya Muhammadiyah (18 November 1912), tetapi juga menggali latar belakang sosiopolitik dan keprihatinan religius KH Ahmad Dahlan. Penjelasan mengenai kondisi umat Islam di Kauman saat itu memberikan konteks yang kuat mengapa gerakan pembaruan (tajdid) ini sangat mendesak untuk dilakukan.

  2. Avatar Nehan Febriyanti
    Nehan Febriyanti

    Artikel ini sangat menarik dan informatif dalam menjelaskan proses berdirinya Muhammadiyah. Penyampaian sejarahnya jelas, runtut, dan mudah dipahami, sehingga membantu pembaca mengenal peran penting KH. Ahmad Dahlan dalam pembaruan Islam di Indonesia. Selain itu, penjelasan mengenai maksud dan tujuan persyarikatan juga memberikan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai yang dipegang Muhammadiyah. Secara keseluruhan, artikel ini sangat bermanfaat dan menambah wawasan, khususnya bagi pembaca yang ingin memahami sejarah dan perkembangan Muhammadiyah.

  3. Avatar Yudistira
    Yudistira

    Artikel tersebut secara apik merangkum sejarah berdirinya Muhammadiyah sebagai respons cerdas K.H. Ahmad Dahlan terhadap kondisi sosial dan agama di zamannya. Penjelasan mengenai evolusi rumusan tujuan organisasi menunjukkan konsistensi ideologi Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui sistem organisasi yang modern. Secara keseluruhan, tulisan ini menjadi panduan ideologis yang kuat untuk memahami bahwa setiap amal usaha Muhammadiyah tetap berakar pada semangat dakwah dan pemurnian akidah.

  4. Avatar Hartati Rahmawati
    Hartati Rahmawati

    Artikel yang sangat mencerahkan! Penjelasan mengenai latar belakang berdirinya Muhammadiyah serta perumusan maksud dan tujuannya memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi pembaca, khususnya bagi generasi muda. Sangat penting bagi kita untuk terus meneladani semangat pembaruan dan kegigihan K.H. Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam di Indonesia. Ulasan mengenai transformasi tujuan persyarikatan dari masa ke masa juga menunjukkan betapa adaptifnya organisasi ini dalam menghadapi tantangan zaman. Terima kasih kepada redaksi Muhammadiyah Ciko yang telah menyajikan konten edukatif ini; semoga dapat menjadi pemantik semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar bagi kita semua. Ditunggu artikel sejarah dan pemikiran inspiratif lainnya.

  5. Avatar Deva Putriyanti
    Deva Putriyanti

    Materi mengenai proses berdirinya Muhammadiyah menunjukkan bahwa organisasi ini tidak lahir secara kebetulan, melainkan sebagai respons terhadap kondisi sosial, keagamaan, dan pendidikan umat Islam pada masa itu. Peran Ahmad Dahlan sangat terlihat sebagai tokoh pembaharu yang memiliki visi jauh ke depan, terutama dalam memurnikan ajaran Islam sekaligus mendorong kemajuan umat melalui pendidikan.

    Menurut saya, yang paling menarik adalah bagaimana tujuan Muhammadiyah terus mengalami perkembangan tanpa kehilangan esensi utamanya. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berpegang pada prinsip dasar Islam. Rumusan tujuan yang mengarah pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya juga terasa relevan hingga sekarang, terutama di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi.

    Selain itu, konsep “persyarikatan” yang ditekankan dalam materi ini memperlihatkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya organisasi formal, tetapi juga gerakan kolektif yang mengedepankan kerja sama dan musyawarah. Nilai ini menurut saya sangat penting untuk menjaga kekuatan dan keberlanjutan organisasi.

  6. Avatar Luthfiah Suci Ramadhani
    Luthfiah Suci Ramadhani

    Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta sebagai respons atas keprihatinan terhadap kondisi umat Islam yang saat itu mengalami kemunduran serta terjebak dalam praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat. Sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, organisasi ini merumuskan identitasnya sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang berupaya melakukan pemurnian ajaran sekaligus dinamisasi pemikiran. Maksud utama dari persyarikatan ini adalah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dengan cara memurnikan akidah, mereformulasi pemahaman agama agar selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan, serta memberdayakan umat melalui sektor pendidikan dan kesehatan. Melalui semangat yang terkandung dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104, Muhammadiyah memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, di mana nilai-nilai keislaman yang berkemajuan dapat terinternalisasi dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat.

  7. Avatar Hikmah Balighoh
    Hikmah Balighoh

    Pembahasan mengenai Muhammadiyah ini sudah cukup jelas dan runtut dalam menjelaskan latar belakang, rumusan, hingga tujuan organisasi. Penjelasan tentang kondisi umat Islam sebelum berdirinya Muhammadiyah memberikan konteks yang kuat, sehingga pembaca dapat memahami alasan munculnya gerakan pembaruan yang dipelopori oleh Ahmad Dahlan. Selain itu, pemaparan tiga pilar utama Muhammadiyah juga disampaikan secara sistematis dan mudah dipahami.

    Namun, pembahasan ini masih bisa ditingkatkan dengan menambahkan contoh konkret penerapan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan saat ini agar lebih relevan dengan kondisi modern. Dengan adanya contoh nyata, pembaca tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dapat melihat bagaimana peran Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman, khususnya di bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan.

  8. Avatar Nabil Shokhib
    Nabil Shokhib

    Artikel ini menyajikan ulasan yang sangat komprehensif dan sistematis dalam membedah akar ideologis Muhammadiyah, di mana penulis berhasil mensinergikan fakta historis perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dengan landasan teologis yang kuat dari Al-Qur’an dan Hadits. Penjelasan mengenai pilar gerakan—mulai dari identitas sebagai gerakan tajdid hingga visi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya—disampaikan dengan bahasa yang akademis namun tetap mudah dipahami, sehingga sangat efektif sebagai panduan bagi mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan. Kekuatan utama tulisan ini terletak pada kemampuannya mengontekstualisasikan semangat pembaruan tahun 1912 ke dalam tantangan modernitas saat ini, menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang adaptif namun tetap teguh pada prinsip purifikasi akidah.

  9. Avatar Syifa Annattasya Nandini
    Syifa Annattasya Nandini

    Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga gerakan pembaruan yang berperan besar dalam memajukan umat Islam melalui pendidikan, dakwah, dan aksi sosial. Nilai-nilai yang diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini, khususnya dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkemban

  10. Avatar Gina Ahdiyanti Farkhani
    Gina Ahdiyanti Farkhani

    Artikel tersebut menyajikan ulasan yang sangat sistematis dan akademis dalam membedah landasan ideologis serta sejarah berdirinya Muhammadiyah. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan penulis mengintegrasikan aspek historis dengan landasan teologis, seperti penggunaan QS. Ali ‘Imran: 104 sebagai inspirasi gerakan dakwah *amar ma’ruf nahi munkar*. Selain itu, artikel ini secara jernih membedakan antara rumusan identitas, maksud, dan tujuan persyarikatan, sehingga memudahkan pembaca—khususnya mahasiswa—untuk memahami bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi massa, melainkan gerakan *tajdid* (pembaruan) yang bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui jalur pendidikan dan sosial. Secara keseluruhan, tulisan ini merupakan referensi yang padat dan sangat kredibel dalam memperkenalkan semangat Islam berkemajuan yang diusung oleh K.H. Ahmad Dahlan.