Menggapai Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah, Ustadz Dr. Alvien Septian Haerisma, SEI, MSI: Ini Amalan yang Tidak Boleh Dilewatkan

CIREBON, 22 Mei 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, (22/5/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Dr. Alvien Septian Haerisma, SEI, MSI, Dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, menyampaikan khutbah yang menggugah tentang keistimewaan bulan Dzulhijjah dan amalan-amalan utama di sepuluh hari pertamanya.

Mengawali khutbah, Ustadz Alvien mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

Teks Arab:
شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

Latin: Syahrāni lā yanquṣāni, syahrā ‘īdin: Ramadānu wa Dzul-Ḥijjah.

Artinya: “Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya, yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089)

Beliau menjelaskan bahwa bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum) dalam Islam. “Sepuluh hari pertama di bulan ini adalah hari-hari paling utama untuk beramal saleh, bahkan keutamaannya melebihi jihad di jalan Allah,” tegas Ustadz Alvien di hadapan jamaah yang memadati masjid.

Enam Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah

Dalam khutbahnya, Ustadz Alvien memaparkan enam persiapan dan amalan yang disunnahkan berdasarkan dalil-dalil yang kuat:

1. Memperbanyak Amal Saleh (1-10 Dzulhijjah)

Jamaah dianjurkan meningkatkan intensitas ibadah seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan salat sunnah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Teks Arab:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Latin: Mā min ayyāmin a‘ẓama ‘indallāhi wa lā aḥabba ilayhil-‘amalu fīhinna min hādhihil-ayyāmil-‘asyr.

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah).” (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

2. Puasa Sunah (1-9 Dzulhijjah) Khususnya Puasa Arafah

Ustadz Alvien mengingatkan keutamaan puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Teks Arab:
مَا الْعَمَلُ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِى هَذِهِ
قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ

Latin: Māl-‘amalu fī ayyāmil-‘asyri afḍala minal-‘amali fī hādhih? Qālū wa lal-jihād? Qāla wa lal-jihād, illā rajulun kharaja yukhāṭiru bi nafsihi wa mālihi fa lam yarji‘ bi syai’in.

Artinya: “Tidak ada amal ibadah yang lebih utama selain yang dikerjakan pada sepuluh hari ini (Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah sekalipun jihad di jalan Allah?” Rasulullah menjawab: “Sekalipun jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan diri dan hartanya, lalu tidak ada sedikit pun yang kembali.” (HR. Bukhari)

Beliau menambahkan, dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa para fuqaha menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

3. Memperbanyak Dzikir (Takbir, Tahmid, Tahlil)

Jamaah diajak mengumandangkan Allahu akbar, Alhamdulillah, dan Lā ilāha illallāh di rumah, masjid, maupun tempat umum. Dalilnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Teks Arab:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ

Latin: Wa yadzkurusmallāhi fī ayyāmin ma‘lūmāt.

Artinya: “…dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Hajj: 28)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
“Perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”

4. Berkurban (10 Dzulhijjah & Hari Tasyrik)

Bagi yang mampu, sangat dianjurkan berkurban. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Teks Arab:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Latin: Fa ṣalli lirabbika wanḥar.

Artinya: “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

5. Larangan Mencukur Rambut dan Kuku (Bagi yang Akan Berkurban)

Bagi yang berniat kurban, disunnahkan tidak memotong rambut dan kuku sejak 1 Dzulhijjah hingga hewan disembelih. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Teks Arab: (HR. Muslim no. 1977)
Latin: “Idza dakhola ‘asyru dzil hijjah wa aroda ahadukum an yudhohhiya, fala yamassanna min sya’rihi wa la min basyarihi syaian.”

Artinya: “Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) sedikit pun dari rambut dan kuku-kukunya.”

6. Menghidupkan Takbir Hari Raya dan Bertaubat

Ustadz Alvien juga mengingatkan untuk mengumandangkan takbir mulai Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga Ashar hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah). “Bulan Dzulhijjah adalah bulan haram. Dosa yang dilakukan di dalamnya dilipatgandakan. Maka wajib menjaga diri dari maksiat dan segera bertaubat. Persiapan fisik, mental, dan ilmu sangat penting dilakukan sejak akhir bulan Dzulqa’dah untuk menyambut bulan mulia ini,” pungkasnya.

Khutbah Jumat ditutup dengan doa, dan jamaah melaksanakan salat Jumat dengan tertib di bawah arahan Imam Ustadz Dr. Alvien Septian Haerisma, SEI, MSI. Suasana haru dan semangat ibadah terlihat jelas, menandakan antusiasme warga dalam menyambut kedatangan bulan Dzulhijjah yang penuh berkah.

Redaksi

  • Imam & Khatib: Ustadz Dr. Alvien Septian Haerisma, SEI, MSI (Dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
  • Pembawa berita: Dakum, S.Pd., Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon
  • Tema: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah & Amalannya

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KOMENTAR TERBARU