CIREBON – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kejaksan, Kota Cirebon, menyelenggarakan pengajian Ahad pagi yang berlangsung khidmat di Komplek GSP, Jalan Cendana Blok F No. 56, pada Ahad (12/7/2026). Kegiatan rutin ini mengangkat tema krusial, yakni “Mempersiapkan Generasi Emas”, dengan menghadirkan penceramah Ustadz H. Suparno, S.Ag.

Acara yang dihadiri oleh jajaran pimpinan cabang, termasuk Ketua PCM Kejaksan Sumaryono, SE, dan sejumlah pimpinan lainnya tersebut, berlangsung dalam suasana kondusif dan penuh makna. Tema yang diangkat merupakan respons terhadap tantangan zaman dan pentingnya membangun fondasi generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter.
Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Suparno mengawali paparan dengan mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menegaskan kemuliaan ciptaan manusia. Sebagaimana dalam QS. At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Ustadz Suparno menjelaskan bahwa manusia dianugerahi kelengkapan fisik yang sempurna—mata, telinga, dan hati—sebagai “hardware” untuk menjalani kehidupan. Namun, ia menekankan bahwa kelengkapan tersebut tidak akan bermakna tanpa “software” yang tepat, yaitu petunjuk hidup berupa Al-Qur’an. “Al-Qur’an adalah pedoman yang harus dipahami sebagai perangkat lunak untuk menilai keimanan dan kekufuran. Tanpanya, manusia mudah kehilangan arah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena kerusakan moral yang terjadi di tengah masyarakat. Mengutip QS. Al-A’raf ayat 179, penceramah mengingatkan tentang risiko manusia yang terjerumus pada sifat-sifat kelalaian.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Menurut Ustadz Suparno, ayat ini menggambarkan potret manusia yang memiliki potensi besar namun tidak menggunakannya dengan semestinya. Fenomena tersebut, sambungnya, merupakan salah satu indikasi dari “kegagalan pendidikan”—kegagalan dalam menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral yang menjadi inti dari ajaran Islam.

Lebih lanjut, ia menyoroti urgensi pendidikan cinta dan kasih sayang, yang sayangnya mulai jarang tersentuh di lingkungan sekolah. Nilai-nilai fundamental seperti berbakti kepada orang tua (birrul walidain) perlu ditanamkan sejak dini. Hal ini sejalan dengan peringatan Allah dalam QS. An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

“Jika kita ingin menyongsong Indonesia Emas, kita tidak cukup hanya menyiapkan kecerdasan intelektual semata. Anak bangsa harus dididik dengan iman, takwa, akhlak mulia, kejujuran, dan amanah. Kurikulum cinta, cinta kepada Allah, Rasul, dan orang tua harus menjadi fondasi utama agar anak-anak kita tidak menjadi generasi yang lemah dan rusak,” tegas Ustadz Suparno.

Di akhir tausiyahnya, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tanpa nilai-nilai tersebut ibarat macan yang buas tetapi tidak bertaring. “Pemimpin yang cerdas tapi tidak beriman akan kehilangan daya dan hanya merusak tatanan hidup,” pungkasnya.
Pengajian Ahad pagi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam mencetak generasi emas yang berkarakter, siap membangun bangsa dengan fondasi iman dan takwa.
Peliput: Tim Media PCM Kejaksan Kota Cirebon
Editor: Arofah Firdaus


Tinggalkan Balasan