Kota Cirebon – Suasana penuh keimanan menyelimuti halaman Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Idul Adha 1447 H, Rabu pagi. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru kota tampak khusyuk menunaikan salat sunnah dua rakaat yang dipimpin langsung oleh Imam sekaligus Khatib, Ustadz Drs. H. Ayi Azhari.
Pelaksanaan salat Id kali ini mengusung tema yang sarat makna, yaitu “Kisah Teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Awal Mula Syariat Islam dalam Kurban.” Jamaah yang hadir tampak menyimak dengan saksama setiap pesan yang disampaikan, menjadikan momen Idul Adha sebagai wahana introspeksi diri dan penguatan iman.

Isi Khutbah: Menggali Awal Mula Syariat Kurban
Memulai khutbahnya, Ustadz Drs. H. Ayi Azhari memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya. Beliau mengawali dengan khutbah pertama yang penuh hikmah.
Isi Khutbah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَ بَعْضَ الْأَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ، وَجَعَلَ يَوْمَ النَّحْرِ أَفْضَلَ أَيَّامِ الْعِبَادَةِ وَالطَّاعَةِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى جَزِيلِ نِعَمِهِ وَعَظِيمِ آلَائِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ مُوقِنٌ بِتَوْحِيدِهِ وَمُخْلِصٌ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَحَبِيبُهُ وَخَلِيلُهُ، صَاحِبُ الشَّفَاعَةِ وَالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ.
Alhamdu lillāhil-lażī faḍḍala ba‘ḍal-ayyāmi ‘alā ba‘ḍ, wa ja‘ala yauman-naḥri afḍala ayyāmil-‘ibādati waṭ-ṭā‘ah. Aḥmaduhu subḥānahu wa asykuruhu ‘alā jazīli ni‘amihī wa ‘aẓīmi ālā’ih. Wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, syahādata man huwa mūqinun bitauḥīdihī wa mukhliṣun lahu fī ‘ibādah. Wa asyhadu anna sayyidanā Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhu wa ḥabībuhu wa khalīluh, ṣāḥibusy-syafā‘ati wal-maqāmil-maḥmūd, ṣallallāhu ‘alayhi wa ‘alā ālihī wa aṣḥābihī wa man tabi‘ahum bi-iḥsānin ilā yaumil-ma‘ād.*
“Segala puji bagi Allah yang melebihkan sebagian hari atas sebagian yang lain, dan menjadikan hari raya kurban sebagai hari terbaik untuk beribadah dan taat. Aku memuji-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya yang berlimpah. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kekasih dan khalil-Nya. Semoga salawat tercurah kepadanya, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.”
Khatib kemudian berwasiat kepada seluruh jamaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Beliau menegaskan bahwa takwa adalah bekal terbaik untuk menghadapi kehidupan di dunia maupun akhirat.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
Yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakumul-lażī khalaqakum min nafsin wāḥidah
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu.” (QS. An-Nisa’: 1)

Awal Mula Syariat Kurban dalam Islam
Memasuki inti khutbah, Ustadz Drs. H. Ayi Azhari mengajak jamaah menyelami sejarah panjang syariat kurban. Beliau menjelaskan bahwa ibadah kurban bukanlah ritual baru yang diajarkan Nabi Muhammad, melainkan telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
Innallāha iṣṭafā Ādama wa Nūḥan wa Āla Ibrāhīma wa Āla ‘Imrāna ‘alal-‘ālamīn
“Sungguh, Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa masing-masing).” (QS. Ali ‘Imran: 33)
Khatib mengisahkan dengan lugas bagaimana Nabi Ibrahim diuji dengan mimpi yang benar bahwa beliau harus menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Setelah melalui dialog penuh keimanan antara ayah dan anak, akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat: 107)
Dari peristiwa inilah, kata khatib, syariat kurban mulai dikenal dalam Islam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneruskan dan menyempurnakannya sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah.
Hikmah di Balik Kisah Teladan
Khatib menjelaskan beberapa hikmah penting dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail:
Pertama, ketaatan mutlak kepada Allah meskipun harus mengorbankan hal yang paling dicintai. Kedua, pendidikan orang tua kepada anak yang melahirkan generasi saleh. Ketiga, keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani hamba di luar kemampuannya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Mā ‘amila ibnu Ādama yauman-naḥri ‘amalan aḥabba ilallāhi min ihrāqid-dami, wa innahū la-ya’tī yaumal-qiyāmati biqurūnihā wa asy‘ārihā wa aẓlāfihā, wa innad-dama layaqa‘u minallāhi bimakānin qabla an yaqa‘a ‘alal-arḍi, fa ṭībū bihā nafsā.
“Tiada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Sungguh, darah kurban itu telah sampai di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah hati kalian dalam berkurban.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keutamaan Berkurban
Khatib melanjutkan dengan menjelaskan keutamaan berkurban bagi umat Islam yang mampu. Firman Allah dalam Surat Al-Hajj menjadi landasan utama:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Lan yanālallāha luḥūmuhā wa lā dimā’uhā wa lākin yanāluhut-taqwā minkum
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Khatib mengingatkan bahwa yang terpenting dalam berkurban bukanlah besar kecilnya hewan, melainkan ketulusan hati dan keikhlasan dalam beribadah. Banyak orang mampu berkurban dengan hewan yang besar, namun hatinya dipenuhi riya’ dan sum’ah. Sebaliknya, ada yang hanya mampu berkurban dengan kemampuan sederhana, namun keikhlasannya lebih dicintai Allah.
Doa dan Penutup
Di penghujung khutbah, Ustadz Drs. H. Ayi Azhari memanjatkan doa untuk seluruh umat Islam, khususnya yang hadir di halaman Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ وَرَحْمَةٍ وَمَغْفِرَةٍ عَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Allāhumma taqabbal minnā innaka antas-samī‘ul-‘alīm, wa tub ‘alaynā innaka antat-tawwābur-raqīm. Allāhumma a‘innā ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik. Allāhummaj‘al hādzal-yauma yauma khairin wa barakah wa raḥmah wa maghfirah ‘alā ummati Muḥammadin ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam.
“Ya Allah, terimalah (amal kurban) dari kami, sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Allah, bantulah kami untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah hari ini sebagai hari kebaikan, keberkahan, rahmat, dan ampunan bagi umat Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya.”
Penutup Khutbah
Khatib menutup khutbahnya dengan mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dalam kehidupan sehari-hari. Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang menyembelih segala bentuk kesombongan, keegoisan, dan sifat-sifat tercela lainnya.
خُذُوهَا عَنْهُنَّ فَعَلِّمُوهَا النَّاسَ، فَإِنَّهَا النُّسُكُ وَالسُّنَّةُ
Khudzūhā ‘anhunna fa ‘allimūhān-nāsa, fa innahān-nusuk was-sunnah
“Ambillah (tata cara kurban) dari mereka (para nabi), lalu ajarkanlah kepada manusia, karena sesungguhnya itulah ibadah dan sunnah.”
Pelaksanaan salat Idul Adha di halaman Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh kebersamaan. Seluruh jamaah pulang dengan membawa hati yang lebih lembut, ilmu yang bertambah, serta semangat baru untuk berkurban—bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan jiwa dan raga demi tegaknya agama Allah di muka bumi.


Tinggalkan Balasan