Pengajian Ahad Pagi PCM dan PCA Harjamukti Bahas Pengelolaan Emosi Remaja

CIREBON – 28 Juni 2026. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Harjamukti Kota Cirebon menyelenggarakan pengajian Ahad pagi di Masjid Annur Sangkana, Kelurahan Kalijaga, pada Ahad, 28 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan penceramah Dr. Sri Maryati, M.Psi., dengan tema “Remaja dan Emosi: Panduan Orang Tua dalam Mendampingi Anak.”

Acara yang dihadiri oleh sekitar seratusan lebih jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Harjamukti ini turut dihadiri oleh Sekretaris PCM Harjamukti, Fery Johari, serta Kepala SDIT Muhammadiyah Harjamukti, Encup Supriatna, S.Pd. Kehadiran para pengurus dan kepala sekolah ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam mendampingi tumbuh kembang generasi muda, baik dari sisi pendidikan formal maupun bimbingan keagamaan dan psikologis.

Memahami Gelombang Emosi Remaja

Dalam tausiyahnya, Dr. Sri Maryati, M.Psi., menyampaikan bahwa masa remaja (usia 12–18 tahun) merupakan periode transisi yang penuh dengan perubahan hormonal, neurologis, dan sosial yang intens. Ia menjelaskan bahwa emosi remaja sering kali terasa lebih besar karena otak prefrontal—bagian yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan—belum matang sempurna, sementara amigdala sebagai pusat emosi justru lebih aktif.

“Masa remaja adalah masa pencarian identitas. Mereka sangat sensitif terhadap penilaian sosial dan teman sebaya. Konflik otonomi pun kerap terjadi ketika keinginan mandiri berbenturan dengan otoritas orang tua, menciptakan ketegangan,” ujar Dr. Sri Maryati di hadapan jamaah.

Penceramah yang berkompeten di bidang psikologi itu memaparkan beberapa tanda emosi remaja yang perlu diperhatikan orang tua. Ia membedakan antara tanda emosi normal, seperti suasana hati yang berubah-ubah, mudah marah saat diberi batasan, dan lebih sensitif terhadap kritik, dengan tanda yang memerlukan perhatian lebih, seperti menarik diri total dari komunikasi, ledakan emosi ekstrem yang sering terjadi, penurunan drastis nilai akademik, perubahan pola makan dan tidur yang signifikan, serta adanya pembicaraan tentang keputusasaan atau keinginan menyakiti diri.

“Jika tanda-tanda ‘perlu perhatian lebih’ muncul, segera konsultasikan dengan psikolog atau konselor profesional,” tegasnya.

Lima Prinsip Dasar Menghadapi Emosi Remaja

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Sri Maryati membagikan lima prinsip dasar bagi orang tua dalam menghadapi emosi remaja. Pertama, validasi terlebih dahulu sebelum mengoreksi. Ia mencontohkan, mengucapkan “Aku mengerti kamu marah” jauh lebih efektif daripada langsung membenarkan atau menyalahkan.

Kedua, dengarkan tanpa menghakimi. Orang tua perlu memberikan ruang bicara penuh dan menahan dorongan untuk segera memperbaiki situasi. Ketiga, tenang sebelum bereaksi. “Emosi orang tua yang stabil adalah jangkar bagi remaja. Jika Anda ikut marah, percakapan akan memburuk. Ambil napas, tunda respons jika perlu,” jelasnya.

Keempat, konsisten dalam batasan dan kehangatan. Ia menganjurkan pola asuh yang tegas namun penuh kasih sayang—bukan otoriter, bukan pula permisif. Remaja butuh struktur sekaligus rasa aman. Kelima, jaga komunikasi terbuka dengan menciptakan momen bicara tanpa agenda, seperti saat makan bersama atau dalam perjalanan pendek.

Teknik Komunikasi Efektif

Dr. Sri Maryati juga mengajarkan teknik komunikasi efektif dengan remaja. Ia menganjurkan penggunaan kata “Saya” daripada “Kamu”, seperti “Saya khawatir…” daripada “Kamu selalu bikin masalah.” Pertanyaan terbuka seperti “Apa yang sebenarnya kamu rasakan hari ini?” juga lebih baik daripada pertanyaan ya-tidak. Selain itu, teknik reflective listening dengan mengulangi perkataan remaja menggunakan kata-kata sendiri dapat membuat mereka merasa didengar.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar orang tua tidak langsung menasihati, membandingkan dengan saudara atau orang lain, serta tidak meremehkan perasaan anak dengan ucapan seperti “Ah, lebay. Itu hal kecil saja.”

“Saat konflik emosi terjadi, ingatlah strategi JEDA-TENANG-CONNECT. Jeda untuk menghentikan eskalasi, tenangkan diri sendiri, lalu sambungkan kembali dengan pendekatan yang hangat,” pesannya.

Landasan Al-Qur’an dan Hadits tentang Pengendalian Emosi

Mengakhiri tausiyahnya, Dr. Sri Maryati mengingatkan bahwa Islam sangat memperhatikan pengelolaan emosi. Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Ali-Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi dan terang-terangan, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 134)

Beliau juga menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dr. Sri Maryati menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi bukan berarti menekan atau mengingkari perasaan, melainkan mengarahkannya pada ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima oleh lingkungan. “Emosi remaja bukan ancaman—mereka sedang belajar menjadi manusia. Orang tua yang bisa meregulasi diri sendiri adalah guru emosi terbaik bagi anaknya,” pungkasnya.

Dukungan Penuh dari PCM dan PCA Harjamukti

Sekretaris PCM Harjamukti, Fery Johari, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya pengajian ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para orang tua, terutama di era digital saat ini di mana tantangan pengasuhan remaja semakin kompleks. Kami berharap ilmu yang disampaikan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDIT Muhammadiyah Harjamukti, Encup Supriatna, S.Pd., menambahkan bahwa sinergi antara sekolah dan keluarga sangat penting dalam membentuk karakter anak. “Kami di sekolah terus berupaya membekali siswa dengan pendidikan akhlak dan kecerdasan emosional. Pengajian seperti ini menjadi penguat bagi orang tua dalam menjalankan perannya di rumah,” tuturnya.

Pengajian Ahad pagi yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 08.30 WIB ini diikuti dengan antusias oleh jamaah. Kegiatan ditutup dengan doa dan silaturahim antarwarga Muhammadiyah se-Harjamukti.

Peliput: Fery Johari, Jamhari, dan Tim Media PCM Harjamukti Kota Cirebon

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *