CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Annur Sangkana, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, pada Ahad pagi, 9 Agustus 2026. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi yang dihadiri oleh puluhan jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Harjamukti. Kegiatan ini menghadirkan penceramah utama, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag., yang membawakan tema mendalam seputar Makna dan Hukum Bersiwak, Waktu Utama Bersiwak, serta Macam-Macam Sunnah Fitrah.

Acara yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB ini tampak dihadiri oleh Sekretaris PCM Harjamukti, Ferry Johari, serta Kepala SDIT Muhammadiyah Harjamukti, Encup Supriatna, S.Pd. Kehadiran para pengurus dan kepala sekolah ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam mengamalkan sunnah Nabi dan membimbing umat menuju kebersihan lahir dan batin.

Makna dan Hukum Bersiwak dalam Pandangan Syariat
Mengawali tausiyahnya, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi menjelaskan bahwa bersiwak atau membersihkan gigi dan mulut dengan kayu siwak merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ. Beliau menegaskan bahwa hukum bersiwak secara umum adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), namun dapat berubah menjadi sunnah yang dianjurkan secara kuat pada waktu-waktu tertentu. “Siwak disunnahkan digunakan pada saat bangun tidur, sebelum sholat, sebelum membaca Al-Qur’an, ketika akan memasuki rumah, dan ketika hendak masuk masjid,” paparnya mengutip pendapat para ulama.

Penceramah yang juga akademisi ini mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
As-Siwāku maṭharatun lil-fami marḍātun lir-rabb.
Artinya: “Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridhaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau menambahkan bahwa dalam kondisi tertentu, seperti ketika hendak melaksanakan shalat fardhu atau shalat sunnah, sangat ditekankan untuk bersiwak terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi:
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
Laulā an asyuqqa ‘alā ummatī la-amartuhum bis-si wāki ‘inda kulli ṣalāh.
Artinya: “Seandainya tidak memberatkan umatku, pasti aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Waktu Utama dan Keutamaan Bersiwak
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arief Hidayat Afendi memaparkan secara rinci waktu-waktu utama untuk bersiwak. Beliau menjelaskan bahwa selain sebelum shalat, bersiwak juga sangat dianjurkan saat bangun tidur, karena mulut mengalami perubahan aroma yang tidak segar. “Nabi ﷺ sangat memperhatikan kebersihan mulut, terutama ketika hendak beribadah dan bertemu dengan saudara-saudaranya. Bau mulut yang tidak sedap dapat mengganggu kekhusyukan ibadah dan kenyamanan orang lain,” jelasnya.

Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ tentang keutamaan bersiwak bagi orang yang berpuasa:
وَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Wa khulūfu famiṣ-ṣā’imi aṭyabu ‘indallāhi min rīḥil-miski.
Artinya: “Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim)
Meskipun demikian, beliau mengingatkan bahwa bersiwak tetap disunnahkan, termasuk bagi orang yang berpuasa, karena tidak membatalkan puasa selama tidak menelan bagian dari siwak tersebut. Waktu utama lainnya adalah ketika hendak membaca Al-Qur’an, sebagai bentuk penghormatan terhadap firman Allah, dan saat hendak masuk rumah, karena termasuk adab yang diajarkan oleh Rasulullah.

Macam-Macam Sunnah Fitrah dan Implementasinya
Memasuki inti bahasan ketiga, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi mengupas tuntas tentang macam-macam sunnah fitrah. Beliau menjelaskan bahwa sunnah fitrah adalah kebiasaan yang diajarkan oleh para nabi yang terkait dengan fitrah manusia, mencakup kebersihan dan penampilan fisik yang sesuai dengan tuntunan syariat. Di antara sunnah fitrah yang paling utama adalah bersiwak, memotong kuku, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, dan memotong kumis.

Beliau mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ، وَقَصُّ الْأَظْفَارِ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
‘Ashrun minal-fiṭrah: qaṣṣusy-syārib, wa i‘fāul-liḥyah, was-siwāk, was-tinsyāqul-mā’, wa qaṣṣul-aẓfār, wa ghaslul-barājim, wa natful-ibṭ, wa ḥalqul-‘ānah, wa intiqāṣul-mā’
Artinya: “Sepuluh perkara yang termasuk fitrah: memotong kumis, membiarkan jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung, memotong kuku, mencuci sela-sela jari, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan beristinja.” (HR. Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa kelima perkara yang disebutkan dalam hadits tersebut merupakan praktik rutin yang harus dijaga oleh setiap muslim. Tidak hanya untuk kebersihan fisik, tetapi juga untuk kemuliaan dan kenyamanan dalam bermuamalah dengan sesama. “Sunnah fitrah ini adalah bagian dari identitas seorang muslim. Menjaganya berarti menjaga kesucian dan kemuliaan diri, serta mengikuti jejak para nabi,” tegasnya.
Penutup: Mengamalkan Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengakhiri tausiyahnya, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi mengajak seluruh jamaah untuk tidak meremehkan amalan-amalan sunnah yang tampak kecil, seperti bersiwak dan menjaga kebersihan diri. Beliau mengingatkan bahwa amalan-amalan tersebut memiliki keutamaan besar di sisi Allah dan dapat menjadi penambah pahala serta penyebab masuknya seorang hamba ke dalam surga.
“Mulailah hari dengan bersiwak, jaga kebersihan mulut dan badan, karena Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Kebersihan adalah sebagian dari iman, dan iman akan membawa kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat,” pesan beliau.
Pengajian rutin Ahad pagi PCM Harjamukti di Masjid Annur Sangkana merupakan salah satu wujud dakwah dan pembinaan umat yang berkelanjutan, sejalan dengan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan dan rahmatan lil ‘alamin.
Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi. Beliau mendoakan semoga seluruh jamaah dan keluarganya senantiasa diberikan kemudahan dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi dan dijauhkan dari segala kemaksiatan. Acara berlangsung dengan tertib dan diakhiri dengan ramah tamah antara penceramah, pengurus PCM, dan para jamaah.
Peliput : Jamhari, Fahyudin dan Tim Media PCM Harjamukti Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan