Pengajian Ahad Pagi PCM Harjamukti: Menjaga Lisan dan Hati di Era Digital

·

Avatar Arofah Firdaus

|

6 menit

|

📋

Dibaca: 46 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat dan penuh hikmah menyelimuti pelaksanaan pengajian Ahad pagi yang digelar oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti Kota Cirebon di Masjid Annur Sangkana, Kelurahan Kalijaga, pada Ahad (16/8). Kegiatan rutin yang dihadiri oleh ratusan jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Harjamukti ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan tantangan zaman: “Menjaga Lisan dan Hati di Era Digital”.

Bertindak sebagai penceramah, Ustadz Ahmad Mapparumpa, S.Ag., M.Pd., menyampaikan tausiyah yang menggugah kesadaran tentang pentingnya mengendalikan lisan dan hati, terutama di tengah derasnya arus informasi dan aktivitas media sosial yang tak terelakkan.

Acara yang berlangsung dari pagi hingga menjelang siang ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting Muhammadiyah Kota Cirebon. Hadir di antaranya Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, serta Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Cirebon, Retno Kuntjorowati, S.Pd.. Kehadiran mereka menandakan besarnya perhatian pimpinan daerah terhadap pembinaan akhlak dan karakter umat di era digital. PCM Harjamukti sendiri diwakili oleh Ketua Majelis Tabligh, Ustadz Abdul Aziz Fakhrurozi, S.H., beserta jajaran pimpinan daerah maupun cabang lainnya, menunjukkan sinergi dan komitmen persyarikatan dalam menyelenggarakan dakwah yang kontekstual.

Lisan dan Jari adalah Cermin Hati

Mengawali tausiyahnya, Ustadz Ahmad Mapparumpa mengingatkan bahwa menjaga lisan bukanlah perkara baru dalam ajaran Islam, namun tantangannya kini semakin kompleks. “Dulu, ghibah dan fitnah terbatas jangkauannya—sebatas yang mendengar langsung, dan ucapan lisan tidak selalu meninggalkan bukti tertulis. Kini, satu ketikan bisa disaksikan ratusan orang dalam hitungan menit, tersimpan permanen, dan bisa muncul kembali kapan saja sebagai bukti. Maka menjaga jari sama pentingnya dengan menjaga lidah,” tegasnya.

Penceramah yang juga seorang pendidik ini mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menjadi fondasi utama adab berbicara:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini, menurut Ustadz Ahmad, menjadi pegangan bagi setiap muslim dalam bermedia sosial. “Kalau ragu antara berkata baik atau diam, pilih diam. Ini bukan sikap pasif, melainkan bentuk kedewasaan berpikir sebelum bertindak,” ujarnya.

Setiap Kata Tercatat, Baik Lisan Maupun Tulisan

Ustadz Ahmad Mapparumpa menegaskan bahwa setiap ucapan dan tulisan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau membacakan firman Allah dalam Surah Qaf ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu kata pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

“Malaikat mencatat setiap kalimat—termasuk komentar kita di media sosial, pesan di grup WhatsApp, dan status yang kita bagikan. Teknologi cloud storage mungkin menyimpan data kita, tetapi catatan malaikat jauh lebih sempurna dan abadi,” jelasnya.

Beliau juga mengingatkan bahaya besar dari ucapan yang dianggap sepele, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata tanpa memikirkan (akibatnya), dan karenanya ia terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tabayyun di Era Serba Cepat

Menghadapi maraknya hoaks dan informasi yang belum tentu kebenarannya, Ustadz Ahmad mengajak jamaah untuk menerapkan prinsip tabayyun (klarifikasi) sebagaimana diperintahkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

“Prinsip tabayyun ini justru semakin relevan di zaman serba cepat ini. Jangan tergesa-gesa membagikan informasi sebelum kita cek kebenarannya. Karena setiap kali kita ikut menyebarkan hoaks, kita ikut serta dalam menyebarkan kebohongan,” pesannya.

Bahaya Ghibah dan Fitnah di Kolom Komentar

Penceramah juga mengingatkan bahwa ghibah (menggunjing) dan fitnah tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung, tetapi juga di kolom komentar, grup WhatsApp, dan media sosial lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

“Komentar pedas, sindiran, atau membicarakan aib orang lain di media sosial hukumnya sama dengan ghibah. Jangan merasa aman hanya karena kita tidak bertatap muka,” tegas Ustadz Ahmad.

Memahami Psikologi di Balik Komentar Emosional

Dalam tausiyahnya, Ustadz Ahmad juga menyentuh aspek psikologis yang sering terjadi saat seseorang ‘panas’ di media sosial. Beliau menjelaskan bahwa postingan yang memancing emosi membuat bagian otak pemroses ancaman (amygdala) bereaksi cepat, sebelum akal sehat sempat menimbang. Sementara itu, korteks prefrontal—pusat pertimbangan logis—butuh waktu lebih lama untuk menyusul, padahal jari sudah lebih dulu mengetik balasan.

“Tanpa tatap muka dan ekspresi lawan bicara, orang cenderung lebih berani berkata kasar—fenomena ini dikenal sebagai online disinhibition effect. Maka penting bagi kita untuk menahan diri, membaca ulang sebelum mengirim, dan bertanya: apakah ini bermanfaat atau sekadar pelampiasan emosi?” jelasnya.

Filosofi Lisan sebagai Cermin Hati

Mengutip Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa lisan adalah penerjemah hati. “Kalau jari kita gampang mengetik komentar pedas atau menyebarkan berita tanpa cek, itu bukan sekadar soal etika bermedia sosial—itu sinyal bahwa ada sesuatu di hati yang perlu dibenahi lebih dulu: iri, marah, atau ingin terlihat paling benar”.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Artinya: “Barang siapa menjamin untukku (menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), aku jamin baginya surga.” (HR. Bukhari)

Lima Adab Bermedia Sosial ala Muslim

Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Ahmad Mapparumpa membagikan lima adab bermedia sosial yang dapat menjadi panduan praktis bagi setiap muslim:

  1. Tabayyun dulu, baru share – cek sumber sebelum forward.
  2. Baca ulang sebelum kirim – apakah ini bermanfaat atau sekadar pelampiasan emosi?
  3. Kalau ragu antara berkata baik atau diam, pilih diam.
  4. Jaga privasi orang lain – tidak semua momen orang perlu jadi konsumsi publik.
  5. Sisihkan waktu tanpa gadget setiap hari untuk hati yang lebih tenang.

Refleksi dan Penutup

Sebelum menutup pengajian, Ustadz Ahmad mengajak jamaah untuk melakukan refleksi diri: “Kalau semua chat dan komentarku setahun terakhir dibacakan di depan umum, apakah aku akan tenang atau malu? Terakhir kali aku ikut menyebarkan info tanpa tabayyun, kapan itu, dan apa yang membuatku tergesa-gesa? Satu kebiasaan digital apa yang mau aku ubah mulai malam ini?”

Beliau mengingatkan bahwa hati yang bersih dan lisan yang terjaga adalah dua hal yang sama-sama dibangun, bukan kebetulan. “Sebelum mengirim, tanya dulu ke hati. Sebelum berkomentar, tanya dulu ke Allah. Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita, di dunia nyata maupun dunia maya,” pungkasnya.

Pengajian Ahad pagi yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa menjaga lisan dan hati di era digital yang penuh tantangan. (*)


Peliput : Jamhari, Fahyudin dan Tim Media PCM Harjamukti Kota Cirebon


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 responses to “Pengajian Ahad Pagi PCM Harjamukti: Menjaga Lisan dan Hati di Era Digital”

  1. Avatar puji nirmo
    puji nirmo

    Semoga bs memberikan pembelajaran bagi kita semua utk sll menjsga lisan dan bijak dlm bersosmed, agar memberikan keberkahan bagi semua

  2. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Semoga kegiatan rutin seperti ini terus berlanjut dan membawa berkah bagi seluruh warga Persyarikatan. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjaga ucapan dan ketenangan hati di dunia maya maupun nyata.

  3. Avatar Jo O
    Jo O

    Assalamu’alaikum

    Yes
    Bravoo jaya ciko

    Walaikumsalam