CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada hari ini, Jumat (14/8). Umat Islam dari berbagai penjuru kota tampak memadati masjid untuk menunaikan kewajiban salat Jumat sekaligus menyimak tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin selaku khatib dan imam pada hari itu.
Dalam khutbahnya yang menggugah, Ustadz Otong mengangkat tema yang krusial dan sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat, yaitu mengenai hakikat kesyirikan dan pelurusan mitos seputar bulan Syafar. Beliau mengawali khutbah dengan mengajak seluruh jemaah untuk senantiasa meningkatkan takwa dan membersihkan keyakinan dari segala bentuk kesyirikan.

Meluruskan Kesyirikan: Antara Syirik Klasik dan “Syirik” Masa Kini
Ustadz Otong secara gamblang menjelaskan perbedaan mendasar antara syirik yang klasik dan murni, dengan apa yang sering dianggap syirik namun ternyata bukan. Beliau menegaskan bahwa syirik dalam pengertian klasik adalah perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, baik dalam hal ibadah maupun keyakinan.
Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada pemahaman yang keliru yang menganggap setiap ritual budaya sebagai bentuk kemusyrikan, selama niat dan keyakinan tetap tertuju kepada Allah semata.
“Kita perlu cerdas dalam membedakan. Jika sebuah benda atau ritual diyakini memiliki kekuatan secara mandiri untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya tanpa izin Allah, maka itulah yang disebut syirik. Namun, jika kita melakukan suatu tradisi sebagai bentuk kearifan lokal, selama tidak meyakini adanya kekuatan gaib pada benda tersebut, maka itu bukanlah syirik,” jelas Ustadz Otong dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami.

Menepis Mitos Bulan Syafar: Tidak Ada Kesialan dalam Islam
Memasuki inti khutbah, Ustadz Otong membahas mitos yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat bahwa bulan Syafar adalah bulan sial atau penuh dengan bala. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang secara tegas membantah anggapan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ
“Lā ‘adwā wa lā thiyarata wa lā hāmata wa lā Shafara, wa firru minal-majdzūmi kamā tafirru minal-asadi.“
Artinya: “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hāmah (keyakinan kesialan karena burung), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Dan larilah dari orang yang terkena penyakit kusta, sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari dan Muslim) .
Beliau menegaskan bahwa Islam datang untuk menghapus segala bentuk takhayul dan keyakinan yang tidak berdasar. Bulan Safar adalah bulan biasa yang memiliki keutamaan sebagaimana bulan-bulan lainnya. Anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan adalah warisan dari masa Jahiliyah yang telah diluruskan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Mengupas Budaya Apem dan Bubur Merah Putih di Cirebon
Lebih lanjut, Ustadz Otong menyoroti tradisi masyarakat Cirebon yang kerap membuat kue apem dan bubur merah putih, terutama pada bulan Syafar. Beliau menjelaskan asal-usul kata “apem” yang berasal dari bahasa Arab ‘affun, yang berarti ampunan atau maaf . Tradisi membuat apem dan bubur ini seringkali diiringi dengan keyakinan sebagai upaya untuk “menolak bala” atau menjauhkan diri dari bencana.
Menurutnya, kue apem yang terbuat dari tepung beras, kelapa, dan gula merah nangka, serta bubur putih dan bubur merah, pada dasarnya adalah makanan halal dan boleh dikonsumsi. Umat Islam diperbolehkan membeli dan memakannya sebagai bagian dari budaya kuliner.
“Namun yang perlu diwaspadai adalah apabila makanan tersebut telah diupacarakan dan diyakini memiliki kekuatan magis untuk menolak bala secara mandiri. Keyakinan seperti inilah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan syirik,” tegas Ustadz Otong .
Beliau mengibaratkannya dengan konsumsi obat seperti amlodipine untuk menurunkan tekanan darah. Obat tersebut boleh dan bahkan dianjurkan untuk dikonsumsi karena telah terbukti secara ilmiah dan merupakan ikhtiar medis. Hal ini berbeda dengan keyakinan pada benda-benda tertentu yang tidak memiliki korelasi ilmiah dan hanya mengandalkan sugesti.
Menyambut Bulan Rabiul Awal dengan Perbanyak Sholawat
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Otong mengingatkan bahwa sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Rabiul Awal, bulan yang penuh berkah dan mulia karena kelahiran Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk memperbanyak sholawat dan mengikuti sunnah Rasulullah.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun hasanah liman kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa dzakarallāha katsīrā.“
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) .
Beliau berharap semoga umat Islam di Cirebon dan seluruh Indonesia dapat mengambil hikmah dari khutbah ini, membersihkan keyakinan dari mitos yang keliru, dan menjadikan bulan Rabiul Awal sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah berlangsung dengan tertib dan khusyuk, meninggalkan kesan mendalam bagi para jemaah yang hadir.
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.


Tinggalkan Balasan