Khutbah Jumat di Masjid Al-Furqon PCM Tengahtani: Kemerdekaan adalah Amanah yang Harus Dipertanggungjawabkan

·

Avatar Arofah Firdaus

|

5 menit

|

📋

no views

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Al-Furqon Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tengahtani, Kabupaten Cirebon, pada Jumat (14/8). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan khutbah dengan tema menggugah: “Kemerdekaan yang Kita Nikmati Sampai Hari Ini adalah Amanah yang Kelak Kita Pertanggungjawabkan.”

Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memenuhi masjid, mendengarkan dengan saksamanya pesan-pesan keimanan yang dikaitkan dengan momentum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Khutbah kali ini mengajak seluruh jamaah untuk memaknai kemerdekaan bukan sekadar sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai nikmat besar yang wajib disyukuri dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mengawali Khutbah dengan Seruan Takwa

Mengawali khutbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah membacakan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan seruan takwa kepada seluruh jamaah. Beliau mengingatkan bahwa hidup ini bukanlah perjalanan tanpa tujuan. Setiap nikmat akan ditanya, dan setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Kemerdekaan dalam Pandangan Iman

Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah untuk memandang kemerdekaan bukan hanya dengan mata sejarah, tetapi juga dengan mata iman. Bukan sekadar bertanya siapa yang memperjuangkan kemerdekaan, melainkan untuk apa Allah memberikan kesempatan hidup dalam keadaan merdeka dan apa yang akan dipertanggungjawabkan atas nikmat tersebut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Ustadz Ahmad Nurjanah menekankan bahwa di antara nikmat yang sering baru terasa nilainya ketika hilang adalah keamanan dan ketenteraman. Kemampuan untuk salat berjamaah tanpa rasa takut, mengumandangkan azan, mengajarkan Al-Qur’an, bekerja mencari nafkah, dan tidur di rumah tanpa suara peperangan adalah nikmat yang sangat mahal.

“Jangan anggap kemerdekaan sebagai sesuatu yang akan selamanya ada tanpa harus dijaga,” pesan khatib dengan tegas.

Menghormati Perjuangan dengan Mengisi Kemerdekaan

Khatib mengingatkan jamaah untuk menghormati para pendahulu yang telah berjuang dengan harta, tenaga, air mata, bahkan nyawa. Mereka pergi meninggalkan dunia sebelum sempat menikmati sepenuhnya kedamaian yang kita rasakan hari ini.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki amanah. Pemimpin akan ditanya tentang rakyatnya, orang tua tentang keluarganya, guru tentang ilmunya, dan setiap kita akan ditanya tentang umur serta kemampuan yang Allah berikan.

“Kemerdekaan adalah kesempatan untuk menunaikan amanah, bukan kesempatan untuk berbuat sesuka hati,” tegas Ustadz Ahmad Nurjanah.

Kemerdekaan Melahirkan Keadilan dan Persaudaraan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Khatib mengingatkan bahwa kemerdekaan hendaknya melahirkan keadilan, kepedulian, persaudaraan, dan gotong royong dalam kebaikan. Jangan sampai kemerdekaan menjadi alasan untuk saling menghina, saling membenci, atau mengejar kepentingan pribadi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Artinya: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Dan beliau Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah semangat gotong royong yang diajarkan Islam: saling membantu, saling menguatkan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Merdeka dari Belenggu Hawa Nafsu

Khatib mengingatkan bahwa ada penjajahan yang tidak terlihat oleh mata. Seseorang bisa hidup di negeri merdeka, tetapi hatinya masih diperbudak oleh harta, jabatan, pujian, gengsi, amarah, iri hati, dan hawa nafsu.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ

Artinya: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian mewah.” (HR. Bukhari)

Maka kemerdekaan yang sejati bukanlah bebas melakukan apa saja, tetapi bebas dari menjadi budak hawa nafsu dan dunia, lalu tunduk hanya kepada Allah.

Mewariskan Kebaikan

Mendekati akhir khutbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk merenungkan apa yang akan ditinggalkan. Suatu hari nanti, nama mungkin dilupakan, wajah tidak lagi dikenang, dan suara tidak lagi terdengar. Tetapi kebaikan yang ditanam masih dapat hidup: anak yang diajarkan Al-Qur’an, ilmu yang diajarkan, sedekah yang diberikan, dan orang-orang yang pernah dibantu.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

“Berusahalah menjadi manusia yang meninggalkan manfaat, bukan sekadar meninggalkan nama,” pesan khatib.

Penutup: Jagalah Amanah Kemerdekaan

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak seluruh jamaah untuk tidak hanya mengenang sejarah kemerdekaan, tetapi juga menjaga amanahnya, mengisinya dengan kebaikan, merawat persatuan, menegakkan keadilan, saling membantu, dan tidak menggunakan kebebasan untuk menzalimi.

“Semoga ketika kita berdiri di hadapan Allah kelak, kita tidak hanya menjadi orang yang pernah menikmati kemerdekaan, tetapi menjadi orang yang telah mengisinya dengan iman, amal, persatuan, keadilan, dan kebaikan,” pungkasnya.

Salat Jumat yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad Nurjanah berlangsung dengan khusyuk. Beliau bertindak sebagai imam sekaligus khatib dengan lancar, diikuti oleh jamaah yang terdiri dari warga PCM Tengahtani dan masyarakat sekitar. Doa khusyuk yang dipanjatkan mengakhiri rangkaian ibadah, memohon keberkahan dan kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh umat dan bangsa Indonesia.


Redaksi:
Tim Media PCM Tengahtani Masjid Al-Furqon, Kabupaten Cirebon


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *