PIMPINAN Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti Kota Cirebon menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 27 September 2026, di Masjid Annur Sangkana Kalijaga, Harjamukti, Kota Cirebon. Pengajian ini menghadirkan Ustadz Sunarya, S.Pd.I., M.M. sebagai penceramah dengan tema “Menyikapi Masa Lalu”. Tampak hadir Ketua PCM Harjamukti Kota Cirebon, H. Yandi Heryandi, M.Pd. beserta jajaran pimpinan lainnya.
Dalam ceramahnya, Ustadz Sunarya mengupas fase hidup manusia yang terbagi ke dalam tiga bagian: masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Ketiga fase tersebut, menurut beliau, harus disikapi dengan sikap yang benar agar seorang Muslim tidak terjebak dalam penyesalan berkepanjangan maupun kelalaian terhadap waktu yang sedang dijalani.

Berdamai dengan Takdir dan Membuka Lembaran Baru
Ustadz Sunarya menekankan pentingnya berdamai dengan takdir Allah atas segala peristiwa yang telah berlalu. Manusia tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi, namun ia dapat mengubah cara pandang dan sikapnya terhadap masa lalu tersebut. Langkah selanjutnya adalah membuka lembaran baru melalui jalan inabah, yakni taubat yang tulus kepada Allah.
Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 89:
اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Illalladzīna tābū mim ba‘di dzālika wa ashlaḥū, fa innallāha ghafūrur raḥīm
“Kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 89)
Ayat ini menegaskan bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi hamba yang kembali kepada Allah dengan tulus, disertai perbaikan diri secara nyata.

Mengambil Ibrah dan Fokus pada Masa Kini
Ustadz Sunarya juga mengingatkan pentingnya mengambil ibrah atau pelajaran dari setiap peristiwa yang telah dialami. Masa lalu hendaknya menjadi cermin untuk melangkah lebih baik, bukan menjadi beban yang menghentikan langkah. Setelah bertaubat dan mengambil pelajaran, fokus harus diarahkan pada masa kini dengan memperbaiki amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Kullu ibni Ādama khaṭṭā‘un, wa khairul khaṭṭā‘īnat tawwābūn
“Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)
Hadis ini menegaskan bahwa kesalahan merupakan bagian dari fitrah manusia, namun yang membedakan adalah kesediaan untuk kembali kepada Allah dan memperbaiki diri.

Muhasabah sebagai Landasan Perbaikan
Tema yang diangkat dalam pengajian ini sejalan dengan perintah Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha waltandhur nafsum mā qaddamat lighad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta‘malūn
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Setiap orang beriman diperintahkan untuk senantiasa mengevaluasi amal yang telah dilakukan sebagai bekal menghadapi hari akhirat.

Penutup
Pengajian Ahad Pagi di Masjid Annur Sangkana Kalijaga ini dihadiri oleh jamaah yang antusias menyimak tausiyah Ustadz Sunarya. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa masa lalu tidak seharusnya menjadi belenggu, melainkan menjadi pijakan untuk memperbaiki diri. Dengan berdamai dengan takdir, bertaubat dengan sungguh-sungguh, mengambil pelajaran, dan fokus memperbaiki amal di masa kini, seorang Muslim dapat melangkah menuju masa depan yang lebih baik di hadapan Allah.


Tinggalkan Balasan