Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon Bahas Konsep Islam Kaffah bersama Ustadz Dr. H. Muchlis

CIREBON, 1 Juli 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Rangkaian pengajian Reboan yang digelar rutin selepas salat Maghrib hingga menjelang salat Isya tersebut kali ini menghadirkan penceramah utama, Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I. Dalam tausiahnya, beliau mengupas tuntas makna Islam kaffah dengan merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat 108 serta sejumlah ayat lain yang menjadi landasan utama dalam memahami konsep totalitas dalam beragama.

Pengajian yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan. Mereka antusias mendengarkan pemaparan Ustadz Muchlis yang mengajak seluruh umat Islam untuk mengamalkan ajaran agama secara utuh dan menyeluruh, tidak hanya pada aspek ritual, tetapi juga dalam seluruh sendi kehidupan.

Memahami Asbābun Nuzūl QS. Al-Baqarah Ayat 108

Mengawali ceramahnya, Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I, menjelaskan latar belakang turunnya ayat tersebut. Beliau menyampaikan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sikap sebagian kelompok Yahudi yang datang menghadap Rasulullah ﷺ. Mereka masih bersikukuh untuk tetap beribadah kepada tuhan mereka atau mempertahankan sebagian keyakinan lama mereka, meskipun secara lahir telah menyatakan masuk Islam. Hal ini menjadi pengingat bahwa keimanan haruslah murni dan tidak tercampuri dengan nilai-nilai atau ajaran lain yang bertentangan dengan syariat Islam .

Makna As-Silmi: Lebih dari Sekadar Perdamaian

Lebih lanjut, Ustadz Muchlis mengupas makna kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu as-silmi. Menurut beliau, para ulama tafsir memiliki beberapa pandangan mengenai kata ini. Ada yang menafsirkannya dengan al-Islam (agama Islam), at-ta’ah (ketaatan), dan al-musalamah (perdamaian). Namun, titik temunya adalah bahwa masuk ke dalam as-silmi secara kaffah berarti menyerahkan diri sepenuhnya, tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penuh kedamaian dan ketulusan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Kaffah: Totalitas dalam Mengamalkan Islam

Kata kaffah sendiri, menurut penceramah, berarti keseluruhan, tidak terpecah-pecah. Ini mengandung makna bahwa seorang Muslim dituntut untuk mengamalkan Islam secara total. Beliau menjabarkan tiga tingkatan dalam mengamalkan Islam secara kaffah:

  1. Mengamalkan Islam secara keseluruhan, baik secara jasmani maupun rohani (syamiah).
  2. Mengilmui Islam, yaitu mempelajari seluruh aspek ajarannya, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak.
  3. Mengamalkan ilmu Islam yang telah dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memperkuat penjelasannya, Ustadz Muchlis juga mengutip surah As-Saff ayat 4 dan Ali Imran ayat 103 yang menekankan pentingnya persatuan dan ketaatan.

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّۭا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌۭ مَّرْصُوصٌۭ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Saff [61]: 4)

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103)

Implementasi Kaffah: Menjaga Lima Hal Pokok (Maqashid Syariah)

Dalam penutupan ceramahnya, Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I, mengutip kaidah yang dirumuskan oleh para ulama tentang cara melaksanakan ajaran Islam secara kaffah. Beliau menyebutkannya sebagai lima tujuan pokok syariat (maqashid syariah) yang harus dijaga:

  1. Hifẓu al-Dīn (Menjaga Agama)
  2. Hifẓu al-Nafs (Menjaga Jiwa)
  3. Hifẓu al-‘Aql (Menjaga Akal)
  4. Hifẓu al-Nasl (Menjaga Keturunan)
  5. Hifẓu al-Māl (Menjaga Harta)

Kelima prinsip ini, menurut beliau, adalah cerminan dari pengamalan Islam yang utuh. Jika seorang Muslim mampu mengimplementasikan kelimanya, maka ia telah benar-benar menjalankan Islam secara kaffah. Sebagai penutup, beliau mengingatkan jamaah untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 133)

Tampak hadir Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo dan pimpinan lainnya. Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan doa, dipimpin oleh Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I, sebelum memasuki waktu salat Isya. Acara yang rutin diadakan ini menjadi salah satu wadah bagi warga Muhammadiyah Cirebon untuk terus meningkatkan pemahaman keagamaan secara mendalam dan aplikatif.

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 tanggapan untuk “Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon Bahas Konsep Islam Kaffah bersama Ustadz Dr. H. Muchlis”

  1. Avatar Erli
    Erli

    Alhamdulillah.
    Terimakasih tim media masjid Santun juga ustadz H. Mukhlis atas pencerahannya. Smg Allah mampukan diri menjaga kelimanya.

  2. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Mengingatkan kita pentingnya memahami Islam secara utuh melalui maqashid syariah. Semoga pengajian Reboan ini terus istiqomah