CIREBON, Muhammadiyahciko — Suasana khusyuk dan teduh menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Kota Cirebon, pada Rabu malam, 26 Agustus 2026. Rangkaian pengajian rutin Reboan kembali digelar dan kali ini menghadirkan penceramah istimewa, Ustadz Agus Wahid, S.Ag. Beliau menyampaikan kajian mendalam yang menyambung materi pada bulan lalu, serta membahas sebuah peristiwa agung yang menjadi kekhususan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Acara pengajian yang dihadiri oleh jamaah dari berbagai penjuru Kota Cirebon ini berlangsung dengan tertib. Ustadz Agus Wahid mengawali ceramahnya dengan membahas sebuah pertanyaan yang sempat mengemuka di kalangan jamaah pada pertemuan sebelumnya, yakni mengenai hukum mengeraskan suara saat mengucapkan kalimat Lailahaillallah.
Menurut Ustadz Agus, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai hal ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjamaah selepas salat merupakan amalan yang disunnahkan, bahkan telah dipraktikkan pada masa Rasulullah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma:
كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ
“Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan mendengar takbir (yang dibaca dengan suara keras).” (HR. Bukhari)
Namun, Ustadz Agus juga menjelaskan bahwa terdapat pandangan lain yang menyebutkan hal tersebut makruh. Perbedaan ini muncul dari penafsiran terhadap konteks dan tujuan pelaksanaannya. “Yang terpenting adalah niat dan tidak mengganggu jamaah lain yang masih khusyuk,” jelasnya. “Jika dilakukan semata-mata untuk mengajarkan atau membangkitkan semangat, hal itu diperbolehkan, namun jika diyakini sebagai kewajiban mutlak, maka perlu diluruskan.”
Memasuki inti kajian, Ustadz Agus Wahid mengupas tuntas tentang peristiwa peletakkan pelepah kurma di atas kuburan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau menegaskan bahwa tindakan mulia ini merupakan kekhususan (khususiyyah) yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya dan tidak dapat diqiyaskan atau ditiru begitu saja oleh umatnya dengan benda lain, seperti menabur bunga.
Peristiwa ini bermula ketika Rasulullah melewati dua buah kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Rasulullah pun meminta sebatang pelepah kurma basah, membelahnya menjadi dua, lalu menancapkannya di atas masing-masing kuburan. Beliau bersabda:
لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
“Semoga (azab) keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ustadz Agus menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis ini. Imam Al-Khattabi berpendapat bahwa perbuatan Nabi ini adalah bentuk tabarruk (mencari berkah) dengan bekas sentuhan beliau dan doa beliau, bukan karena ada keistimewaan khusus pada pelepah kurma itu sendiri . “Ini adalah kekhususan untuk Nabi. Beliau melakukan itu dengan izin Allah dan doa beliau mustajab. Jika kita meniru dengan menabur bunga atau benda lain, kita tidak memiliki jaminan bahwa doa kita mustajab seperti doa Nabi,” tegas Ustadz Agus.
Beliau juga menyitir bahwa dalam mazhab Syafi’i pun, meletakkan pelepah kurma di atas kuburan hukumnya sunnah karena mengikuti Nabi, namun menabur bunga yang biasa dilakukan di Indonesia merupakan hasil kiasan (qiyas) para ulama karena di tanah Arab saat itu yang ada adalah pelepah kurma . Kiasan ini pun tetap dalam koridor bahwa yang utama adalah doa untuk mayit, bukan mengandalkan benda semata. “Oleh karena itu, kita tidak boleh meyakini bahwa menabur bunga bisa meringankan siksa kubur sebagaimana peristiwa pelepah kurma. Itu adalah kekhususan Nabi dan tidak berlaku lagi untuk kita,” pungkasnya.
Pengajian yang berlangsung hingga waktu Isya ini ditutup dengan doa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan pemahaman yang lurus dalam beragama dan dijauhkan dari siksa kubur. Suasana haru dan khusyuk tampak jelas di wajah para jamaah yang merasa tercerahkan dengan penjelasan tegas dari Ustadz Agus Wahid. (*)
Peliput: Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.


Tinggalkan Balasan