Pidato Iftitah Ketua Umum PPNA: Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan

SURAKARTA, muhammadiyahciko – Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) secara resmi membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (7/8/2026). Pembukaan ditandai dengan pidato iftitah (sambutan pembuka) yang disampaikan oleh Ketua Umum PPNA periode 2022-2026, Ariati Dina Puspitasari.

Dalam sambutannya, Ariati mengawali dengan rasa syukur atas terselenggaranya muktamar sebagai puncak permusyawaratan tertinggi organisasi. Ia mengakui bahwa perjalanan kepemimpinan selama empat tahun terakhir bukanlah hal yang mudah dan sempurna. Periode ini dijalani di tengah perubahan dunia yang sangat cepat, mulai dari disrupsi teknologi digital, perubahan pola kehidupan keluarga, tantangan kesehatan mental, hingga ketidakpastian ekonomi global.

“Masa ini menuntut Nasyiatul Aisyiyah untuk tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga beradaptasi dan menciptakan dakwah kreatif di tengah dinamika yang kompleks,” ujar Ariati di hadapan para kader.

Risalah Islam dan Perempuan Berkemajuan

Ariati menegaskan bahwa peradaban tidak lahir dari ruang kosong, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan muda. Ia mengaitkan hal tersebut dengan semangat Risalah Islam Berkemajuan yang dirumuskan pada Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022.

Terdapat lima karakteristik utama dalam Islam Berkemajuan (al-Khasha’ishu al-Khamsu) yang menjadi koridor gerakan, yaitu: (1) Berlandaskan Tauhid, (2) Bersumber pada Al-Qur’an & Sunnah, (3) Menghidupkan Ijtihad & Tajdid, (4) Mengembangkan Wasathiyah, dan (5) Mewujudkan Rahmat bagi Seluruh Alam.

Selaras dengan itu, ‘Aisyiyah telah menyusun Risalah Perempuan Berkemajuan yang memuat tujuh karakter perempuan berkemajuan, yakni Iman dan Takwa, Taat Beribadah, Akhlak Karimah, Berpikir Tajdid, Bersikap Wasathiyah, Beramal Saleh, dan Sikap Inklusif.

“Keberadaan Nasyiatul Aisyiyah memiliki relevansi penting. Kami adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang khusus berperan dalam ruang dakwah untuk perempuan muda. Sejak tahun 1919, kami hadir untuk membentuk Putri Islam yang berguna bagi keluarga, bangsa, dan agama,” tegas Ariati.

Kiprah dan Program Strategis

Selama satu periode kepengurusan, PPNA telah menjalankan berbagai program strategis sebagai jawaban atas tantangan zaman. Di antaranya adalah Gerakan Mengaji Nasyiah, Green Nasyiah dan Eco Bhinneka untuk kepedulian ekologis, layanan kesehatan remaja melalui PASHMINA, serta penguatan kaderisasi melalui Darul Arqom Nasyiatul Aisyiyah (DANA), Latihan Instruktur (LINA), dan Pelatihan Mubalighot (PMNA).

Di bidang ekonomi, PPNA menggerakkan pemberdayaan melalui BUANA dan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Sementara itu, program pencegahan stunting dijalankan melalui inisiatif TIMBANG (Tingkatkan Gizi Seimbang) dan Isi Piringku.

Ariati menyatakan bahwa berbagai upaya tersebut tidak dilakukan sendirian. Nasyiatul Aisyiyah berkolaborasi dengan berbagai institusi, baik pemerintah, persyarikatan, maupun lembaga swadaya, baik dalam maupun luar negeri. “Hal ini sebagai bentuk ikhtiar dakwah untuk memberikan kemaslahatan yang lebih luas dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Peran Strategis untuk Peradaban Berkelanjutan

Mengacu pada data demografi, Ketua Umum PPNA menyoroti bahwa Indonesia tengah berada dalam masa bonus demografi dengan proporsi generasi muda (Generasi Z, Milenial, dan Post-Generasi Z) mencapai sekitar 68,98 persen dari total populasi. Namun, ia mengingatkan bahwa bonus demografi hanya akan menjadi dividen pembangunan apabila diiringi investasi pada pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan hak generasi muda, termasuk perempuan muda.

“Kesenjangan gender masih terjadi, terutama dalam akses perempuan ke ruang strategis. Perempuan baru memiliki partisipasi 27 persen di sektor teknologi baru dan 22,14 persen di dunia politik. Ini adalah area yang memerlukan perluasan,” paparnya.

Selain kesenjangan gender, krisis iklim juga menjadi perhatian serius. Data BMKG mencatat anomali suhu nasional telah mencapai +0,8°C, sementara World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi ketiga di dunia.

“Perempuan muda memiliki peran strategis untuk menggerakkan kesadaran ekologis di lingkungan keluarga, komunitas, dan tempat kerja. Ini sejalan dengan spirit Islam Berkemajuan yang menempatkan kemaslahatan bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘alamin) sebagai orientasi akhir,” tegasnya.

Di akhir pidatonya, Ariati menekankan bahwa Muktamar ke-15 ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda yang berkemajuan. Ia mengajak seluruh kader untuk menjadi bagian dari proses peradaban, bukan hanya sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai subjek utama yang merancang dan memastikan masa depan yang berkelanjutan.

“Selamanya, Nasyiatul Aisyiyah harus dan akan menjadi Putri Islam Berkemajuan, Putri Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bermanfaat untuk keluarga, bangsa, dan agama, seiring langkah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” pungkasnya.

Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta ini akan berlangsung hingga 9 Agustus 2026 dan mengusung tema Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan dengan subtema Berdaya dan Berdampak Sukseskan Muktamar. (*)

Liputan : Tim Media PDNA Kota Cirebon

Editor : Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *