CIREBON, muhammadiyahciko — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, 7 Agustus 2026. Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan khutbah dengan tema “Ibadah yang Berdampak”, mengajak jamaah untuk merenungkan korelasi antara ritual keagamaan dan tanggung jawab sosial di tengah berbagai problema kehidupan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Yandi Heryandi mengangkat pertanyaan mendasar: “Apakah ibadah kita sudah berdampak sosial? Ataukah ibadah kita hanya berhenti pada ritual pribadi?” Pertanyaan ini menjadi pijakan untuk mengupas hakikat ibadah dalam Islam yang tidak pernah memisahkan antara hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia.

Renungan dari Kisah Nabi Musa AS
Mengutip kisah dalam Kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al-Ghazali, sang khatib menyampaikan dialog agung antara Nabi Musa AS dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang amalan yang paling dicintai oleh-Nya.
Dalam sebuah riwayat, Nabi Musa AS bertanya, “Wahai Allah, aku telah melaksanakan berbagai ibadah yang Engkau perintahkan. Dari semua ibadah itu, manakah yang paling Engkau cintai? Apakah shalatku?” Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjawab, “Bukan. Shalatmu itu manfaatnya kembali kepada dirimu sendiri, karena shalat mampu menjagamu dari perbuatan keji dan mungkar.” Kemudian Nabi Musa AS bertanya lagi, “Apakah dzikirku, ya Allah?” Allah menjawab, “Bukan. Dzikirmu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan dzikir itu hatimu menjadi tenang dan tenteram.” Nabi Musa kembali bertanya, “Apakah puasaku, ya Allah?” Allah menjawab, “Bukan. Puasamu juga untuk dirimu sendiri, karena dengan puasa engkau belajar menundukkan hawa nafsumu.” Lalu Nabi Musa bertanya kembali, “Kalau begitu, ibadah apakah yang paling Engkau cintai, ya Allah?” Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjawab, “Ibadah yang paling Aku cintai adalah ketika engkau menghadirkan kebahagiaan bagi orang yang sedang berada dalam kesusahan.”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa ibadah yang sempurna adalah ibadah yang melahirkan kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Shalat, Puasa, dan Esensi Perubahan Sosial
Ustadz Yandi Heryandi menegaskan bahwa Islam tidak pernah memisahkan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Shalat, puasa, dan zakat bukan sekadar rutinitas formal, melainkan sarana pembentukan karakter yang berdampak pada kehidupan bermasyarakat.
Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat yang benar akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan kemungkaran. Jika seseorang rajin shalat tetapi masih gemar menipu, korupsi, atau menyakiti orang lain, maka ada yang perlu diperbaiki dalam kualitas shalatnya.
Demikian pula dengan puasa. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi peringatan bahwa puasa harus melahirkan kejujuran sosial, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.

Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat
Menguatkan pesan tentang pentingnya ibadah berdampak, khatib mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dalam konteks kehidupan hari ini, Ustadz Yandi menguraikan beberapa buah dari ibadah yang berdampak: (1) pedagang yang jujur adalah buah dari shalatnya, (2) pejabat yang amanah adalah buah dari puasanya, (3) guru yang ikhlas mendidik adalah wujud nyata ibadahnya, dan (4) tetangga yang ringan tangan membantu adalah cermin ketakwaannya.
Beliau mengingatkan, “Jangan sampai masjid ramai, tetapi kepedulian sosial sepi. Jangan sampai lisannya basah dengan dzikir, tetapi tangannya kering dari sedekah.”
Peringatan dari Surat Al-Ma’un
Khatib juga mengingatkan jamaah tentang firman Allah dalam QS. Al-Ma’un ayat 1-3:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)
Ayat ini menjadi pesan kuat bahwa pendusta agama bukan hanya mereka yang meninggalkan shalat, tetapi juga mereka yang tidak peduli terhadap anak yatim dan orang miskin.
Penutup: Ibadah sebagai Energi Perubahan Sosial
Di akhir khutbahnya, Ustadz Yandi Heryandi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan ibadah sebagai energi perubahan sosial. Shalat harus membentuk integritas, puasa melahirkan empati, dan zakat-sedekah menguatkan ekonomi umat. Beliau menutup dengan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl: 90)
Khutbah ditutup dengan seruan untuk memulai perubahan dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat, serta menjadikan masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat solusi umat. Semoga kehidupan umat Islam menjadi bukti bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Salat Jumat berlangsung dengan tertib dan khidmat, diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan. Diharapkan pesan-pesan dalam khutbah ini dapat menjadi pengingat dan motivasi bagi seluruh umat Islam untuk mengamalkan ibadah yang tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga berdampak sosial bagi lingkungan sekitarnya. (*)
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.
Editor : Arofah Firdaus


Tinggalkan Balasan