Suasana Khidmat Salat Jumat di Masjid Kampus 1 UMMADA, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. Sampaikan Khutbah tentang Hakikat Hidayah

·

Editor:

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 2 x

CIREBON, muhammadiyahciko — Suasana khusyuk dan penuh khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon, pada Jumat, 4 September 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menyampaikan khutbah yang menggugah jiwa dengan mengangkat tema tentang hakikat hidayah, anugerah terbesar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jamaah dari kalangan sivitas akademika dan masyarakat umum tampak larut dalam renungan mendalam.

Dalam khutbah pertamanya, Ustadz Somantri mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kedudukan hidayah sebagai karunia Ilahi yang tidak ternilai. Beliau menegaskan bahwa hidayah, atau petunjuk menuju kebenaran, bukanlah sesuatu yang dapat diraih semata-mata dengan kekuatan akal atau usaha keras. “Hidayah adalah murni karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dialah Yang Maha Memegang kendali dan memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki,” tegasnya dari atas mimbar.

Khatib mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai landasan utama khutbahnya, yang menjadi pengingat bahwa petunjuk mutlak di tangan Allah:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini turun berkenaan dengan paman Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, Abu Thalib, yang sangat beliau cintai dan lindungi, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberinya hidayah untuk beriman. Ini menunjukkan bahwa seorang rasul sekalipun tidak memiliki kemampuan untuk memberi hidayah kepada siapa pun, kecuali atas izin dan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hakikat Hidayah dalam Al-Qur’an

Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menjelaskan lebih lanjut bahwa hidayah bukan sekadar petunjuk, melainkan cahaya yang menerangi hati dan membimbing seorang hamba mengenal Rabb-nya, mengesakan-Nya, dan beribadah hanya kepada-Nya dengan cara yang benar. Beliau mengutip ayat yang menerangkan tentang orang-orang yang telah dilapangkan dadanya untuk menerima Islam:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu ia berada dalam cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang tidak demikian)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah keras untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)

“Dengan hidayah, seorang hamba akan merasakan kenikmatan iman, merasakan manisnya beribadah, dan hatinya akan tenang,” ujar khatib.

Doa Mohon Keteguhan Hati

Di tengah khutbahnya, Ustadz Somantri mengingatkan bahwa karunia hidayah yang telah Allah berikan harus dijaga dengan baik. Hati manusia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, berada di antara jari-jari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang senantiasa dibolak-balik. Beliau mengajak para jamaah untuk mengamalkan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam guna memohon keteguhan di atas hidayah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yā muqallibal qulūbi, tsabbit qalbī ‘alā dīnika.

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 2140)

Doa ini, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi, sering dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam karena hati manusia dapat berubah dari kondisi taat menjadi lalai. “Di zaman yang penuh fitnah dan godaan ini, permohonan keteguhan hati adalah kebutuhan yang paling mendesak,” pesan khatib.

Tanda-Tanda Hidayah dan Cara Menjaganya

Ustadz Somantri juga memaparkan tanda-tanda ketika hidayah mulai menyapa hati seorang hamba, yaitu tumbuhnya rasa cinta terhadap Islam, rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah, keinginan mempelajari agama-Nya, serta semangat mengamalkan sunnah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. “Orang yang diberi hidayah akan merasakan ketenangan ketika berada di majelis ilmu, hatinya lembut ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, dan jiwanya tergugah untuk melaksanakan shalat,” jelasnya.

Ia menambahkan, hidayah bukan sekadar anugerah yang diterima, tetapi juga amanah yang harus dirawat. Cara menjaganya adalah dengan memperbanyak ketaatan, menuntut ilmu syar’i, membaca dan merenungi Al-Qur’an, serta menjauhi segala hal yang dapat memadamkan cahaya hidayah, seperti dosa-dosa, kemaksiatan, kesyirikan, dan kebid’ahan.

Penutup Khutbah

Pada akhir khutbahnya, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., memanjatkan doa agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa mengaruniai hidayah kepada seluruh umat Islam dan menetapkan hati mereka di atas kebenaran hingga akhir hayat. Beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta atau kedudukan, melainkan pada anugerah menjadi orang yang diberi petunjuk.

Salat Jumat berjalan dengan tertib dan khusyuk. Para jamaah tampak terkesan dengan materi khutbah yang disampaikan dan berharap dapat mengamalkan pesan-pesan yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Peliput Tim Media masjid Kampus 1 UMMADA



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *