CIREBON, 10 Maret 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-22 Ramadhan 1447 H, Selasa (10/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin menyampaikan ceramah yang unik dengan mengajak jamaah mentadaburi fenomena alam sebagai tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Otong membacakan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 5, yang menjelaskan tentang penciptaan matahari dan bulan sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Arab: هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٥
Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5)
Dalam tausiyahnya, Ustadz Otong mengajak jamaah untuk merenungi perbedaan mendasar antara dua istilah yang digunakan Allah dalam ayat tersebut, yaitu Ḍiyā’ (ضِيَاۤءً) untuk sinar matahari dan Nūr (نُوْرًا) untuk cahaya bulan.
“Dalam ilmu pengetahuan, kita memahami bahwa matahari memancarkan sinar dari dirinya sendiri karena proses reaksi nuklir. Sementara bulan hanya menerima pantulan dari sinar matahari, itulah mengapa disebut cahaya. Ini bukan sekadar perbedaan fisika, tetapi Allah sengaja memilih diksi yang berbeda untuk menunjukkan kekuasaan-Nya,” jelas Ustadz Otong yang juga dikenal sebagai penceramah di Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi.

Sinar Matahari: Sumber Ilmu dan Penyembuh
Lebih lanjut, Ustadz Otong menjelaskan bahwa keberadaan sinar matahari membawa jutaan manfaat yang melahirkan peradaban dan ilmu pengetahuan.
“Sinar matahari memungkinkan manusia bercocok tanam, mengenal waktu, dan melakukan berbagai aktivitas yang melahirkan ilmu pengetahuan. Bahkan secara medis, sinar matahari memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan fisik manusia,” paparnya.
Merujuk pada berbagai penelitian kesehatan, Ustadz Otong memaparkan dua keistimewaan sinar matahari berdasarkan waktunya:
- Penyembuh Penyakit Kulit (Pukul 07.00 – 10.00): Paparan sinar matahari pagi pada rentang waktu ini sangat bermanfaat untuk kesehatan kulit. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sinar ultraviolet (UV) pada dosis yang tepat dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit kulit seperti psoriasis, eksim, dan jerawat. Sinar matahari pagi juga memicu produksi vitamin D yang esensial untuk kesehatan kulit .
- Penguat Tulang (Pukul 10.00 – 13.00): Memasuki siang hari, sinar matahari tetap memberikan berkah. Sinar ultraviolet B (UVB) yang diserap oleh kulit akan diubah menjadi vitamin D. Vitamin ini berperan krusial dalam penyerapan kalsium untuk menjaga kepadatan tulang dan mencegah osteoporosis. Penelitian menunjukkan bahwa paparan sinar matahari yang cukup dapat mencegah berbagai penyakit tulang .
“Dari satu sumber yang sama, matahari, Allah berikan manfaat yang berbeda pada waktunya yang berbeda. Ini menunjukkan betapa detail dan sempurnanya ciptaan Allah. Subhanallah,” ujar Ustadz Otong dengan penuh kekaguman.
Renungan: Jika Matahari Tak Ada
Di penghujung ceramahnya, Ustadz Otong melontarkan pertanyaan perenungan yang mendalam kepada jamaah, “Bagaimana kalau tidak ada matahari?”
Pertanyaan ini sontak membuat jamaah terdiam merenung. Beliau kemudian menjelaskan bahwa tanpa matahari, bumi akan menjadi gelap gulita, tidak ada siang dan malam, suhu bumi akan membeku, tidak ada angin, tidak ada hujan, dan mustahil ada kehidupan.
“Allah menciptakan matahari bukan tanpa tujuan. Dialah yang menjadikan matahari sebagai sirājan (pelita) yang terang benderang, seperti disebut dalam surat Nuh ayat 16,” tutupnya mengutip ayat lain.
Arab: وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا
Artinya: “Dan di sana Dia menjadikan bulan bercahaya dan matahari sebagai pelita (yang cemerlang).” (QS. Nuh: 71:16)
Ceramah yang memadukan antara keimanan dan ilmu pengetahuan ini mendapat sambutan hangat dari para jamaah. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon dan pengurus takmir Masjid Santun. Salat Tarawih malam ke-22 pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan hingga akhir.


Tinggalkan Balasan