CIREBON – Ahad, 7 Juni 2026. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Cirebon melalui Majelis Dikdasmen dan PNF menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi dan Upgrading Pendidikan Guru dan Karyawan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-eks Karesidenan Cirebon. Acara yang mengusung tema “Guru Modern Andalan Bangsa” ini berlangsung pada Ahad, 7 Juni 2026, di Gedung Dakwah PDM Kota Cirebon.
Kegiatan yang diikuti sekitar 250 peserta ini menghadirkan pembicara utama, Prof. Dr. Eng. Imam Robandi, M.T., Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dengan moto “Guru Hebat. Pendidikan Kuat. Bangsa Bermartabat,” para pendidik dan tenaga kependidikan dari ranting-ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Cirebon Raya, Indramayu, Kuningan, serta Tegal (Kota dan Kabupaten) tampak antusias mengikuti sesi demi sesi.

Sambutan: Meningkatkan Kompetensi dan Semangat Mengajar
Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, menekankan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak peradaban bangsa. “Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembangun karakter dan literasi. Di era horizontal ini, guru harus menjadi pusat pengendali sistem pendidikan yang kuat dan mandiri,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Cirebon, Retno Kuntjorowati, S.Pd., menyampaikan bahwa upgrading ini menjadi momentum untuk mengembalikan fitrah guru sebagai kekuatan utama sekolah. “Kami ingin membangkitkan kembali semangat kolektif, bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi tanggung jawab individu, keluarga, dan masyarakat,” tuturnya.
Tampak hadir pula Rektor Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Cirebon, Sri Musfiroh, S.Si.T., M.Kes., serta Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., yang turut memberikan dukungan penuh terhadap peningkatan kualitas guru Muhammadiyah.

Isi Ceramah: Menyentuh Bakat, Membangun Sistem, hingga Bahaya Pragmatisme
Dalam pemaparannya yang mendalam, Prof. Imam Robandi mengawali dengan pernyataan tegas: “Guru modern bukan lagi sekadar pengajar di depan kelas, melainkan pengendali sistem, aktor utama literasi, dan arsitek peradaban.” Ia mengupas secara sistematis bagaimana seorang guru dapat menjadi andalan bangsa.
1. Memahami Sekolah sebagai Miniatur Peradaban
Prof. Robandi menekankan bahwa sekolah harus dipahami secara benar oleh tiga pilar: sekolah, wali murid, dan masyarakat. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan salah satu tempat proses pengembangan diri anak secara utuh.
“Sekolah adalah miniatur pembentukan peradaban. Di sanalah anak mulai belajar tentang dinamika sosial, tatanan masyarakat, pertumbuhan fisik dan jiwa, hingga nilai-nilai agama dan kearifan lokal. Semua itu harus berjalan beriringan dengan global view,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan berlangsung dalam jangka panjang, berproses secara urut, dan harus terus dievaluasi. Karena itu, guru menjadi kekuatan utama yang tidak bisa digantikan oleh teknologi semata.

2. Relasi Proses dan Relasi Pembelajaran
Dalam paparannya, guru besar ITS itu memaparkan pentingnya relasi proses yang harmonis antara yayasan, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan orang tua. Kelima unsur ini harus berjalan sinergis. Sementara itu, relasi pembelajaran menyatukan guru, orang tua, dan murid dalam sebuah ikatan yang saling mendukung.
“Ketika relasi ini kuat, sistem pendidikan akan mandiri dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan pasar atau kebijakan instan,” tegasnya.

3. Peran Strategis Guru Modern
Prof. Robandi merinci sembilan peran strategis guru modern:
- Menjadi bagian dari yayasan atau penyelenggara sekolah sebagai penggerak utama visi-misi sekolah dan dakwah secara umum.
- Bertindak sebagai pelaku utama literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
- Mengintegrasikan teknologi dan pendidikan tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
- Membangun pemikiran kritis dan kreativitas siswa.
- Membangun pendidikan karakter yang kokoh.
- Mendukung kebutuhan belajar individu setiap siswa.
- Membangun kolaborasi dan komunikasi yang efektif.
- Mempersiapkan siswa menjadi manusia global yang tetap berakar pada nilai lokal.
- Beradaptabilitas dan terus membangun diri sebagai manusia pembelajaran sepanjang hayat.

4. Menyentuh Bakat Siswa: Dari Pengenalan hingga Capaian
Salah satu bagian yang paling menginspirasi adalah ketika Prof. Robandi berbicara tentang menyentuh kebakatan siswa. Ia memaparkan langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan guru:
- Mengenalkan berbagai aktivitas kepada siswa sejak dini.
- Memperhatikan kesukaan dan kebiasaan mereka sehari-hari.
- Bersosialisasi dan berkomunikasi secara personal dengan setiap murid.
- Memberi motivasi yang terus-menerus, bukan sekadar pujian sesaat.
- Mendukung kesukaan yang positif dan mengarahkannya pada pengembangan kompetensi.
- Mengenal tantangan yang dihadapi siswa dalam mengembangkan bakatnya.
- Mengantarkan ke capaian kesuksesan yang realistis dan berkelanjutan.
“Jangan hanya mengejar nilai ujian. Sentuhlah bakat mereka. Seorang guru hebat adalah yang mampu melihat keistimewaan dalam setiap murid dan membimbingnya menuju puncak potensinya,” ujar Prof. Robandi disambut tepuk tangan peserta.

5. Peringatan Terhadap Pragmatisme dalam Pendidikan
Dengan tegas, Prof. Robandi mengingatkan tentang bahaya pragmatisme yang mengancam dunia pendidikan, antara lain:
- Persaingan tidak sehat antarsekolah yang hanya berorientasi pada popularitas sesaat.
- Kurikulum menjadi rusak karena disesuaikan dengan tujuan-tujuan tertentu di luar kepentingan pendidikan anak.
- Sekolah yang tidak mandiri dan terus bergantung pada pihak luar.
- Sekolah mengikuti pola pasar sekelilingnya, bukan pada kebutuhan mendasar siswa.
- Visi dan misi hanya digunakan sebagai pajangan tanpa implementasi nyata.
- Ujian Nasional atau kebijakan sejenis yang sering kali membelenggu kreativitas jika tidak dikelola dengan bijak.
- Yayasan yang bergantung pada sekolah, padahal seharusnya yayasan menjadi fondasi yang kuat dan mandiri.
“Jika pragmatisme ini dibiarkan, kita akan kehilangan esensi pendidikan. Guru dan sekolah akan menjadi robot-robot tanpa jiwa. Kita harus kembali ke fitrah: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia,” pungkasnya.
Penutup: Komitmen Guru Hebat untuk Bangsa Bermartabat
Acara ditutup dengan pembacaan ikrar pendidik Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjadi guru modern yang andalan bangsa. Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti ruangan ketika para peserta saling berjanji untuk menerapkan ilmu yang telah didapat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PDM dan PDA Kota Cirebon berharap lahir generasi baru pendidik yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk melawan pragmatisme dan mengembalikan marwah pendidikan sebagai wahana pembentukan peradaban yang bermartabat. (Efa Nz)


Tinggalkan Balasan