Tarawih Malam ke-16 di Masjid Ad-Din UMADA: Ustadz Ahmad Nurjanah Paparkan Ketenangan Hati melalui Dzikir dalam Surah Ar-Ra’d

CIREBON, 4 Maret 2026 – Jamaah memadati Masjid Ad-Din Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Kalitanjung, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-16 Ramadhan 1447 H, Rabu (4/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Ketenangan Jiwa dalam Perspektif Surah Ar-Ra’d Ayat 28” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang hakikat ketenangan hati yang hanya dapat diraih dengan mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Landasan Al-Qur’an: Ketenangan Hanya dengan Mengingat Allah

Ustadz Ahmad Nurjanah mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang menjadi landasan utama pembahasan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa ketenangan hati dan jiwa yang hakiki hanya dapat diraih dengan berdzikir, yaitu mengingat Allah. Ayat ini menjadi penawar bagi setiap kegelisahan yang melanda manusia modern yang seringkali merasa cemas meskipun dikelilingi oleh kemewahan duniawi,” papar Ustadz Ahmad.

Beliau menjelaskan bahwa dzikir dalam ayat ini memiliki makna yang sangat luas, tidak hanya terbatas pada ucapan lisan, tetapi juga mencakup perenungan tentang kebesaran Allah, memahami tauhid, serta membaca dan merenungkan Al-Qur’an.


Empat Kandungan Utama Surah Ar-Ra’d Ayat 28

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Ahmad Nurjanah memaparkan empat kandungan utama dari ayat mulia ini:

1. Ketenangan Hakiki (Ath-Thuma’ninah al-Haqiqiyyah)

Kandungan pertama adalah penegasan bahwa ketenangan hakiki hanya berasal dari Allah. Ketenangan yang ditawarkan dunia bersifat semu dan temporer. Harta bisa hilang, jabatan bisa dicopot, popularitas bisa sirna. Namun ketenangan yang lahir dari mengingat Allah bersifat abadi dan tidak tergoyahkan oleh perubahan situasi.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)

“Orang yang hatinya tenang dengan dzikir akan mampu menyikapi setiap keadaan dengan positif. Dalam suka ia bersyukur, dalam duka ia bersabar. Inilah ketenangan hakiki,” jelas Ustadz Ahmad.

2. Ciri Orang yang Beriman (‘Alamatul Mu’minin)

Kandungan kedua adalah bahwa ketenangan hati melalui dzikir merupakan ciri khas orang-orang beriman. Mereka tidak mudah gelisah, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah takut berlebihan karena mereka yakin bahwa Allah selalu bersama mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)

“Inilah buah dari keimanan yang kokoh: ketenangan yang bersumber dari keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang beriman,” tegas Ustadz Ahmad.

3. Dzikir secara Luas (Siyaghah al-Dzikri al-Wasi’ah)

Kandungan ketiga adalah bahwa dzikir yang dimaksud dalam ayat ini memiliki cakupan yang sangat luas. Dzikir tidak hanya terbatas pada membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, tetapi juga mencakup:

  • Membaca dan merenungkan Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir.
  • Memahami tauhid dan mengesakan Allah dalam setiap aspek kehidupan.
  • Berdoa dan memohon kepada Allah dalam setiap kesempatan.
  • Mengingat kebesaran Allah melalui perenungan ciptaan-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

“Jadi, dzikir itu luas. Bisa dengan lisan, bisa dengan hati, bisa dengan perbuatan. Yang penting hati kita selalu terhubung dengan Allah,” papar Ustadz Ahmad.

4. Obat Hati (Syifa’ul Qulub)

Kandungan keempat adalah bahwa dzikir merupakan obat bagi hati yang gelisah, resah, dan sakit. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh tekanan, dzikir menjadi terapi paling mujarab untuk mengatasi stres, kecemasan, dan depresi.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa hati yang tidak diisi dengan dzikir akan menjadi keras, kering, dan mudah terkena penyakit spiritual seperti hasad, riya’, ujub, dan takabbur. Sebaliknya, hati yang senantiasa basah dengan dzikir akan menjadi lembut, tenang, dan sehat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini diawali dengan kata أَلَا yang berfungsi sebagai peringatan dan penegasan. Seolah-olah Allah berkata, “Sadarilah, ketahuilah, hanya dengan mengingat-Ku hati menjadi tenang. Tidak ada jalan lain!”


Ramadhan: Bulan Dzikir dan Ketenangan

Ustadz Ahmad mengaitkan tema ini dengan bulan Ramadhan yang sedang kita jalani. Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan dzikir, baik melalui puasa, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, maupun berbagai ibadah lainnya.

“Di bulan Ramadhan ini, kita dilatih untuk terus berdzikir. Ketika berpuasa, kita mengingat Allah dengan menahan lapar dan dahaga. Ketika shalat tarawih, kita mengingat Allah dengan bacaan-bacaan yang indah. Ketika tadarus, kita mengingat Allah dengan merenungkan ayat-ayat-Nya. Semua ini adalah sarana untuk meraih ketenangan hati,” jelasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan Ramadhan:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

“Ketika setan dibelenggu, godaan berkurang, maka hati lebih mudah untuk tenang dan fokus beribadah. Maka manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” ajak Ustadz Ahmad.


Penutup: Meraih Ketenangan Hati

Menutup kultum, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk senantiasa memperbanyak dzikir, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk melatih hati agar selalu tenang dengan mengingat Allah. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, perbanyaklah istigfar, perbanyaklah doa, dan perbanyaklah merenungkan kebesaran Allah. Dengan demikian, insya Allah hati kita akan merasakan ketenangan yang hakiki, ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh gejolak dunia. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya dan mendapatkan ketenangan hati. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-16 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang pentingnya dzikir sebagai sumber ketenangan hati, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam ke-16 di Masjid Ad-Din UMADA: Ustadz Ahmad Nurjanah Paparkan Ketenangan Hati melalui Dzikir dalam Surah Ar-Ra’d”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Alhamdulillah, kajian di Masjid “Ad-Dien” kampus UMMADA selalu berbobot. Pembahasan tentang ketenangan hati ini sangat mengena, apalagi dikaitkan dengan kedahsyatan bulan Ramadhan. Barokallah untuk pemateri dan jamaah.”