Cirebon, 5 Maret 2026 – Masjid Annur Sangkana Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-17 Ramadhan 1447 H, Kamis (5/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Potensi Manusia: Fujur dan Takwa”.
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang dua potensi yang Allah tanamkan dalam diri setiap manusia, serta bagaimana menyucikan jiwa untuk meraih kebahagiaan hakiki.
Manusia: Makhluk Mulia dengan Segala Kelebihan
Ustadz Yandi Heryandi mengawali kultum dengan menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk lainnya. Hal ini karena manusia dilengkapi dengan kelebihan fisik, akal, dan nafsu. Namun di balik kemuliaan itu, Allah juga mengabadikan dialog dengan malaikat terkait rencana penciptaan manusia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)
“Keberatan malaikat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk berbuat kerusakan. Namun Allah Maha Mengetahui bahwa di balik potensi negatif itu, manusia juga memiliki potensi luar biasa untuk menjadi khalifah yang membawa rahmat bagi alam semesta,” papar Ustadz Yandi.
Dua Benih dalam Jiwa: Fujur dan Takwa
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi menjelaskan bahwa sejak lahir, Allah menyimpan dua benih dalam setiap jiwa manusia, yaitu benih fujur (kefasikan) dan benih takwa (kebaikan). Hal ini ditegaskan dalam firman Allah QS. Asy-Syams ayat 8-10:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 8-10)
Ustadz Yandi menjelaskan kandungan ayat tersebut:
“Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia dua sifat yang berbeda dan saling berlawanan, yaitu fujur dan takwa. Fujur berarti sifat-sifat buruk yang terpendam dalam diri, seperti keinginan untuk berbuat maksiat, egois, dan destruktif. Sementara takwa adalah potensi-potensi kebaikan, seperti keinginan untuk taat, berbuat baik, dan mendekatkan diri kepada Allah.”
Hikmah Diciptakannya Sifat Fujur
Ustadz Yandi menegaskan bahwa Allah mengilhamkan sifat buruk (fujur) bukanlah dengan maksud ingin mencelakakan manusia. Justru sebaliknya, sifat fujur itu diciptakan untuk memaksimalkan sifat takwa manusia sehingga ia bisa menjadi pribadi yang mulia dengan takwanya.
“Allah adalah zat Yang Maha Rahim. Dengan kasih sayang yang begitu besar, Allah berkehendak agar umat manusia tidak larut dalam kehidupan yang penuh noda dan nista. Keberadaan sifat fujur justru akan mendorong manusia untuk melakukan tazkiyat al-nafs atau penyucian jiwa,” jelasnya.
Terkait konsep penyucian jiwa, Allah berfirman dalam QS. Al-A’la ayat 14:
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.” (QS. Al-A’la: 14)
Makna Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Memasuki pembahasan tentang tazkiyatun nafs, Ustadz Yandi menjelaskan bahwa pensucian jiwa merupakan pilar kedua dalam Al-Qur’an setelah membenarkan akidah. Makna tazkiyatun nafs secara konseptual berarti menyucikan jiwa, baik melalui harta maupun melalui pembersihan diri dari sifat-sifat tercela.
1. Penyucian Jiwa melalui Harta
Salah satu bentuk tazkiyah adalah dengan menunaikan zakat, baik zakat tanaman, zakat emas dan perak, maupun zakat fitrah. Dengan mengeluarkan harta untuk membersihkan jiwa, seseorang dilatih untuk tidak cinta berlebihan kepada dunia dan peduli kepada sesama.
2. Penyucian Jiwa melalui Pembersihan Diri dari Sifat Tercela
“Selain dengan harta, penyucian jiwa juga dapat dilakukan dengan pembersihan diri dari sifat kebuasan, kebinatangan, dan sifat setan. Kemudian mengisi jiwa dengan sifat-sifat terpuji, yaitu dengan menghadirkan kebaikan-kebaikan di dalam pikiran, hati, dan perbuatan kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” papar Ustadz Yandi.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Koneksi Vertikal: Kunci Kesucian Jiwa
Ustadz Yandi menekankan bahwa pencapaian kesucian jiwa sangat tergantung pada konektivitas atau hubungan vertikal kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah berfirman:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا
“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21)
“Allah akan menyucikan jiwa seseorang yang Dia kehendaki. Jadi ini penting, pencapaian kesucian jiwa dalam kehidupan ini tergantung dengan konektivitas atau hubungan vertikal kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini yang harus diyakini,” tegas Ustadz Yandi.
Ramadhan: Momentum Tazkiyatun Nafs
Mengaitkan dengan bulan Ramadhan, Ustadz Yandi menjelaskan bahwa bulan suci ini adalah momentum terbaik untuk melakukan penyucian jiwa. Melalui puasa, shalat malam, tadarus Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya, seorang muslim dilatih untuk membersihkan jiwa dari kotoran dosa dan mengisinya dengan sifat-sifat takwa.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Ramadhan adalah madrasah tazkiyatun nafs. Di bulan ini kita dilatih untuk mengendalikan fujur dan menguatkan takwa. Mari manfaatkan sisa Ramadhan ini untuk terus menyucikan jiwa kita, agar kita termasuk orang-orang yang beruntung, sebagaimana firman Allah: Qad aflaha man tazakka,” pungkas Ustadz Yandi.
Penutup: Meraih Kebahagiaan dengan Jiwa yang Suci
Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk terus berusaha menyucikan jiwa, baik melalui ibadah mahdhah maupun melalui amal saleh lainnya. Dengan jiwa yang suci, insya Allah kita akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat fujur dan mengisinya dengan sifat-sifat takwa. Perbanyak istigfar, perbanyak sedekah, perbanyak membaca Al-Qur’an, dan perbanyak doa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-17 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang dua potensi dalam diri manusia, serta pentingnya menyucikan jiwa untuk meraih kebahagiaan hakiki.


Tinggalkan Balasan ke jamarey Arey Batalkan balasan