CIREBON, 8 Maret 2026 – Masjid Ad-Din UMADA Kampus Kalitanjung, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-20 Ramadhan 1447 H, Ahad (8/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum yang sangat inspiratif dengan tema “Tiga Amalan Utama di Akhir Ramadhan” .
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang bagaimana memaksimalkan ibadah di sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan.

Memasuki Sepuluh Malam Terakhir: Saatnya Meningkatkan Semangat Ibadah
Ustadz Yandi Heryandi mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa kita telah memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ini adalah momen yang sangat istimewa karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah memberikan teladan kepada kita tentang bagaimana seharusnya menyikapi sepuluh malam terakhir. Beliau meningkatkan semangat ibadahnya secara luar biasa, melebihi malam-malam sebelumnya,” papar Ustadz Yandi.

Tiga Amalan Utama di Akhir Ramadhan
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi memaparkan tiga amalan utama yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam untuk dilakukan di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
1. Meningkatkan Semangat Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir
Amalan pertama adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah di sepuluh malam terakhir. Ustadz Yandi mengutip hadis dari Aisyah RA yang menggambarkan semangat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Adalah Rasulullah SAW bersungguh-sungguh (beribadah) di sepuluh malam terakhir melebihi kesungguhannya di waktu lainnya.’” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, Aisyah RA menjelaskan lebih rinci:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam apabila memasuki sepuluh (malam terakhir), beliau mengencangkan sarungnya (menjauhi istri), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ustadz Yandi menjelaskan tiga makna dari hadis ini:
a. Mengencangkan Sarung (Syadda Mīzarahu)
“Ini adalah kiasan untuk menjauhi hubungan suami istri agar lebih fokus beribadah. Namun secara lebih luas, ini bermakna meningkatkan kesungguhan dan konsentrasi dalam beribadah, seperti memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, infak, dan sedekah,” jelasnya.
b. Menghidupkan Malam (Ahyā Lailahu)
“Rasulullah menghidupkan malam-malam tersebut dengan qiyamullail, yaitu shalat malam, dzikir, doa, istigfar, dan membaca Al-Qur’an. Beliau tidak membiarkan malam berlalu begitu saja tanpa ibadah,” papar Ustadz Yandi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang sifat orang-orang yang bertakwa:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ . وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
c. Membangunkan Keluarga (Aiqaẓa Ahlahū)
“Rasulullah tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya. Ini menunjukkan perhatian beliau agar keluarga juga tidak kehilangan kesempatan meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Kita pun harus membangunkan istri dan anak-anak kita untuk ikut serta dalam ibadah di malam-malam ini,” tegas Ustadz Yandi.
2. I’tikaf: Berdiam Diri di Masjid untuk Konsentrasi Ibadah
Amalan kedua adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. I’tikaf merupakan sunnah yang sangat dianjurkan, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Aisyah RA meriwayatkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam biasa beri’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhari & Muslim)
“I’tikaf adalah cara terbaik untuk fokus beribadah, menjauhkan diri dari gangguan dunia, dan mengkonsentrasikan hati hanya untuk Allah. Jika tidak bisa i’tikaf penuh sepuluh malam, kita bisa i’tikaf beberapa jam di masjid setiap malamnya,” jelas Ustadz Yandi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang beri’tikaf:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Tetapi janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu sedang beri’tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)
3. Meraih Lailatul Qadar
Amalan ketiga dan yang paling utama adalah berusaha meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ustadz Yandi mengutip hadis dari Abu Hurairah RA:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari & Muslim)
“Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa. Ibadah pada malam itu lebih baik dari ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan,” tegas Ustadz Yandi.
Beliau juga mengutip firman Allah tentang keagungan Lailatul Qadar:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa waktu pasti Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah, namun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan petunjuk bahwa ia terjadi di sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dalam riwayat lain:
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan, pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari)
“Malam ganjil di sini maksudnya adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Maka dari itu, kita harus bersungguh-sungguh di setiap malam, terutama di malam-malam ganjil,” pesan Ustadz Yandi.
Doa yang Dianjurkan di Lailatul Qadar
Ustadz Yandi juga mengajarkan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam kepada Aisyah RA ketika ditanya doa apa yang paling baik dibaca di Lailatul Qadar:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
“Doa ini sangat pendek namun sangat dalam maknanya. Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemaaf agar memaafkan segala dosa dan kesalahan kita. Perbanyaklah doa ini di sepuluh malam terakhir,” ajak Ustadz Yandi.
Penutup: Memaksimalkan Sisa Ramadhan
Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk memaksimalkan sisa Ramadhan dengan tiga amalan utama tersebut.
“Marilah kita tingkatkan semangat ibadah di sepuluh malam terakhir. Jika bisa, lakukan i’tikaf di masjid. Perbanyak qiyamullail, dzikir, doa, istigfar, dan membaca Al-Qur’an. Jangan lupa bangunkan keluarga kita. Semoga kita semua dipertemukan dengan Lailatul Qadar dan mendapatkan ampunan serta rahmat Allah. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-20 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak semakin bersemangat setelah mendapatkan pencerahan tentang tiga amalan utama di akhir Ramadhan.


Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan