Tarawih Malam ke-21 di Masjid Santun Muhammadiyah: Menggali Hakikat Iman dari Surah Al-Anfal

CIREBON, 9 Maret 2026 – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadan 1447 Hijriah, umat Muslim di Kota Cirebon semakin meningkatkan intensitas ibadah mereka. Masjid Santun Muhammadiyah menjadi salah satu episentrum kegiatan keagamaan pada malam ke-21 Ramadan, Senin (9/3/2026), dengan menggelar Salat Tarawih berjamaah yang dilanjutkan dengan ceramah agama. Jamaah memadati masjid untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar yang dinanti-nantikan.

Bertindak sebagai imam dan khatib pada malam yang penuh hikmah ini adalah Ustadz H. Dedi Ahyadi. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat keimanan yang sebenar-benarnya (mukminan haqqa) dengan mengupas tuntas firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 2 hingga 4. Kajian ini menjadi penguat spiritual bagi jamaah di separuh akhir Ramadan.

Meraih Predikat Mukminan Haqqa Melalui Lima Ciri Utama

Mengawali ceramahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Surah Al-Anfal ayat 2-4 yang menjadi landasan utama pembahasan malam itu. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini secara berurutan memaparkan lima ciri utama orang yang beriman dengan sebenar-benarnya .

Berikut adalah kutipan ayat-ayat tersebut beserta artinya:

Ayat 2:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Ayat 3:
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Ayat 4:
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

Tafsir dan Refleksi Lima Ciri Orang Beriman

Ustadz H. Dedi Ahyadi kemudian merinci dan merefleksikan kelima ciri tersebut dengan contoh-contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari.

1. Gemetar Hatinya Saat Nama Allah9l, Disebut
Sifat pertama adalah apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. Ustadz Dedi menjelaskan bahwa getaran hati ini bukan karena takut yang negatif, melainkan sebagai bentuk pengagungan, cinta, dan kesadaran akan kebesaran Allah .

Untuk mengilustrasikan poin ini, beliau menyampaikan sebuah kisah inspiratif tentang seorang non-Muslim yang hatinya bergetar saat mendengar lantunan azan. “Ada seorang wanita dari Belanda bernama Lidya van Zanten yang hatinya bergetar saat pertama kali mendengar azan di Turki. Ia merasakan sesuatu yang asing namun membekas, hingga akhirnya mencari tahu tentang Islam dan memantapkan diri masuk Islam. Kisah ini menunjukkan bahwa getaran hati karena panggilan Allah bisa dirasakan oleh siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lalu, bagaimana dengan kita yang sudah beriman? Apakah hati kita ikut bergetar setiap kali mendengar nama Allah dikumandangkan, atau justru biasa saja?” ujar Ustadz Dedi mengajak jamaah bermuhasabah .

2. Bertambah Iman Saat Ayat-ayat Allah Dibacakan
Kedua, apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka. Ini membuktikan bahwa iman itu dinamis; bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah ketika kita mendengar, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an . “Maka dari itu, perbanyaklah membaca dan mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, terutama di malam-malam Ramadan ini, agar iman kita terus meningkat,” pesannya.

3. Hanya Bertawakal kepada Allah
Ketiga, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Orang beriman menyandarkan segala urusan hanya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal . Tawakal adalah buah dari keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan izin Allah semata.

4. Senantiasa Menunaikan Shalat Lima Waktu
Keempat, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat. Shalat yang didirikan dengan sempurna, baik yang wajib maupun sunnah, adalah bukti nyata keimanan seorang hamba. Shalat menjadi benteng yang mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya .

5. Senantiasa Berbagi (Zakat dan Sedekah)
Kelima, dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Sifat ini mencerminkan kepedulian sosial yang tinggi. Dalam konteks Ramadan, Ustadz Dedi mengingatkan bahwa berbagi tidak hanya dalam bentuk sedekah biasa, tetapi juga melalui kewajiban zakat, baik zakat mal (harta) bagi yang telah memenuhi syarat, maupun zakat fitrah yang wajib ditunaikan menjelang Idul Fitri .

“Kelima sifat inilah yang akan mengantarkan seseorang pada derajat mukminan haqqa—orang yang benar-benar beriman. Dan sebagai balasannya, Allah janjikan derajat yang tinggi, ampunan, serta rezeki yang mulia,” tegas Ustadz H. Dedi Ahyadi mengutip penggalan Surah Al-Anfal ayat 4 .

Ceramah yang disampaikan dengan lugas dan penuh penghayatan ini mendapat sambutan hangat dari para jamaah. Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah hingga akhir acara. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas keimanan jamaah, khususnya dalam memanfaatkan sisa-sisa Ramadan untuk meraih ampunan dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *