CIREBON, 12 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-24 Ramadhan 1447 H, Kamis (12/3/2026). Di sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan, semangat jamaah untuk beribadah semakin meningkat. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan kultum yang menggugah kesadaran dengan tema “Hidup Penuh Berkah dan Bahaya Istidraj” .
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang pentingnya mensyukuri nikmat dengan ketaatan, serta kewaspadaan terhadap jebakan istidraj.

Hidup Penuh Berkah: Dambaan Setiap Muslim
Ustadz Ahmad Nurjanah mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa hidup yang penuh berkah adalah dambaan setiap muslim. Keberkahan hidup berarti bertambahnya kebaikan, dilapangkannya rezeki, dan diridhainya setiap langkah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Hidup yang penuh berkah ini sangat kita dambakan. Kita dituntut untuk mensyukuri apapun yang Allah berikan, menerima dengan lapang dada, dan menjadikan setiap nikmat sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya,” papar Ustadz Ahmad.
Namun, beliau mengingatkan bahwa untuk meraih keberkahan, Allah memberikan perintah yang harus ditaati. Sebaliknya, jika nikmat justru membuat seseorang lalai dan bermaksiat, maka itu bisa menjadi istidraj—jebakan berupa nikmat yang menyeret pelakunya menuju kebinasaan.

Dalil tentang Istidraj
Ustadz Ahmad mengutip firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 44 yang menjadi landasan utama tentang istidraj. Namun perlu dikoreksi, ayat yang dimaksud adalah QS. Al-An’am ayat 44, bukan Al-Hujurat ayat 44. Berikut adalah teks yang benar:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
“Inilah gambaran istidraj. Allah membukakan pintu kesenangan, bukan sebagai penghargaan, tetapi sebagai ujian. Ketika mereka lalai dan bergembira dengan nikmat itu, tiba-tiba Allah mencabut semuanya. Mereka pun terdiam putus asa,” jelas Ustadz Ahmad.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ، فَإِنَّمَا ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ
“Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba apa yang ia sukai dari (perkara) dunia, sementara ia terus berada dalam kemaksiatan, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad)

Sepuluh Ciri Orang yang Terkena Istidraj
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Ahmad memaparkan sepuluh ciri orang yang mungkin sedang terkena istidraj, sebagai bahan muhasabah bagi diri sendiri: Ciri-Ciri Orang yang Terkena Istidraj
1 Harta berlimpah, tetapi tidak pernah bersedekah dan enggan berzakat
2 Rezeki berlipat ganda, tetapi jarang shalat dan meninggalkan kewajiban
3 Enggan mendengarkan nasihat ulama dan merasa paling benar sendiri
4 Dikagumi dan dihormati orang banyak, padahal akhlaknya buruk
5 Jarang diuji sakit, padahal dosanya menggunung seperti Fir’aun
6 Tidak pernah mengalami kesulitan hidup, selalu merasa aman dari azab Allah
7 Anak-anaknya sehat dan cerdas, tetapi berasal dari harta yang tidak halal
8 Hidup penuh canda tawa, sementara banyak orang lain terluka karenanya
9 Kariernya terus naik tanpa pernah mengalami kegagalan, meskipun banyak menghalalkan cara
10 Semakin tua semakin makmur, tetapi dosa bergelimang dan tidak pernah bertobat
“Sebaliknya, orang yang beriman itu semakin tua justru semakin bertambah amal salehnya, semakin banyak sedekahnya, dan semakin banyak mewakafkan hartanya untuk kepentingan agama dan sosial. Inilah ciri orang yang mendapat keberkahan,” tegas Ustadz Ahmad.
Orang Beriman: Semakin Tua Semakin Beramal Saleh
Ustadz Ahmad menegaskan bahwa orang yang benar-benar beriman akan memanfaatkan usia dan nikmat yang Allah berikan untuk memperbanyak amal saleh, bukan untuk bermaksiat.
“Ciri orang beriman itu ketika semakin tua, ia semakin sadar bahwa waktunya semakin dekat dengan akhirat. Ia perbanyak shalat, perbanyak sedekah, perbanyak wakaf, dan perbanyak tobat. Berbeda dengan orang yang terkena istidraj, semakin tua semakin makmur secara duniawi, tetapi hatinya semakin jauh dari Allah,” jelasnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
“Kematian dalam keadaan muslim memerlukan istiqamah hingga akhir hayat. Maka jangan tertipu dengan nikmat dunia yang melenakan,” pesan Ustadz Ahmad.
Kewajiban Orang Beriman: Usaha, Ikhtiar, dan Doa
Ustadz Ahmad mengingatkan bahwa sebagai orang beriman, kita wajib berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Jangan hanya mengandalkan nikmat tanpa ketaatan.
“Allah memberikan rezeki, tetapi kita harus berusaha. Allah memberikan kesehatan, tetapi kita harus menjaganya dengan pola hidup sehat dan mensyukurinya dengan ibadah. Jangan sampai nikmat yang kita terima justru menjerumuskan kita ke dalam istidraj,” paparnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim)
Penutup: Muhasabah di Penghujung Ramadhan
Menutup kultum, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.
“Marilah kita introspeksi diri. Apakah nikmat yang kita terima selama ini membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah kita termasuk orang yang mendapat keberkahan atau justru terkena istidraj? Perbanyak istigfar, perbanyak taubat, dan perbanyak syukur. Semoga Allah melindungi kita dari istidraj dan menjadikan setiap nikmat yang kita terima sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-24 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang bahaya istidraj serta pentingnya mensyukuri nikmat dengan ketaatan. Mereka semakin termotivasi untuk memaksimalkan ibadah di sisa malam-malam terakhir Ramadhan.


Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan