Tarawih Malam ke-29 di Masjid Al Ikhlas: Ustadz Sunarya Ajak Jamaah Memesrakan Kembali Hubungan dengan Allah

CIREBON, 17 Maret 2026 – Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-29 Ramadhan 1447 H, Selasa (17/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Sunarya, M.M., menyampaikan kultum yang menggugah dengan tema “Memesrakan Kembali Hubungan dengan Allah” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk terus menjaga kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, meskipun Ramadhan akan segera berlalu.


Ramadhan: Bulan Kedekatan dengan Allah

Ustadz Sunarya mengawali kultum dengan merenungkan suasana Ramadhan yang penuh berkah. Selama sebulan penuh, kita merasakan kedekatan yang istimewa dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Di bulan Ramadhan, kita begitu dekat dengan Allah. Kita bangun malam untuk shalat tarawih, kita perbanyak tilawah, kita perbanyak doa dan istigfar. Namun, Ramadhan akan segera pergi. Pertanyaannya, apakah kedekatan itu akan ikut pergi bersama Ramadhan? Tentu tidak. Kita harus terus memesrakan kembali hubungan dengan Allah, bahkan setelah Ramadhan berlalu,” papar Ustadz Sunarya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

“Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu dekat dengan kita, tidak hanya di bulan Ramadhan. Maka kita harus terus menjaga kedekatan itu,” jelasnya.


Lima Interaksi untuk Memesrakan Hubungan dengan Allah

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Sunarya memaparkan lima bentuk interaksi yang dapat membangun dan memesrakan kembali hubungan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

1. Interaksi Dzikir (Mengingat Allah)

Interaksi pertama adalah dengan memperbanyak dzikir, yaitu mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dzikir bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

“Dzikir adalah makanan rohani. Ia menenteramkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah. Jangan tinggalkan dzikir setelah Ramadhan. Pertahankan wirid-wirid yang biasa kita baca, perbanyak istigfar, tasbih, tahmid, dan tahlil,” ajak Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

2. Interaksi Amal (Perbuatan Baik)

Interaksi kedua adalah dengan terus beramal saleh. Amal saleh adalah bukti nyata keimanan dan bentuk interaksi kita dengan Allah melalui perbuatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

“Amal saleh tidak berhenti di Ramadhan. Shalat lima waktu, sedekah, membantu sesama, dan berbagai kebaikan lainnya harus terus kita jaga. Jangan sampai setelah Ramadhan, kita malas beribadah,” tegas Ustadz Sunarya.

3. Interaksi Tawakal (Berserah Diri)

Interaksi ketiga adalah dengan memperkuat rasa tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah berusaha maksimal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

“Orang yang bertawakal tidak akan mudah putus asa. Ia yakin bahwa Allah selalu bersamanya. Inilah yang harus kita tanamkan setelah Ramadhan,” jelas Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

4. Interaksi Hajat (Memohon Kebutuhan)

Interaksi keempat adalah dengan senantiasa memohon kepada Allah dalam setiap hajat dan kebutuhan kita. Ini menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Fathir ayat 15:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan (butuh) kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

“Manusia selalu butuh kepada Allah, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Maka jangan putus berdoa. Mintalah segala hajat kita kepada Allah, karena hanya Dia yang dapat mengabulkannya,” papar Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (HR. Tirmidzi)

5. Interaksi Khauf dan Raja’ (Takut dan Harap)

Interaksi kelima adalah dengan menyeimbangkan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) kepada Allah. Takut akan siksa-Nya mendorong kita untuk menjauhi maksiat, sedangkan harap akan rahmat-Nya memotivasi kita untuk terus berbuat baik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra’: 57)

“Keseimbangan antara takut dan harap ini penting. Jangan hanya takut sehingga putus asa dari rahmat Allah. Jangan juga hanya berharap sehingga lalai dan meremehkan dosa. Keduanya harus seimbang,” jelas Ustadz Sunarya.


Penutup: Menjaga Kedekatan dengan Allah

Menutup kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk terus menjaga dan memesrakan hubungan dengan Allah, meskipun Ramadhan akan berlalu.

“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera pergi. Jangan biarkan kedekatan kita dengan Allah ikut pergi. Teruslah berinteraksi dengan Allah melalui dzikir, amal saleh, tawakal, doa, serta rasa takut dan harap. Dengan begitu, kita akan selalu merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu dekat dengan-Nya. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-29 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Allah setelah Ramadhan berlalu.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *